Lantai 3 menyapa
Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa mulai menua. Saat kaki tak lagi sekokoh dulu. Saat pijakan kian tak pasti. Kita akan mencari sosok tuk menggandeng kita. Meniti langkah, menaiki anak tangga bersama. Hingga tak ada lagi sisa-sisa anak tangga yang menanti pijakan kita. Langkah kita terhenti. Sejenak kita duduk di anak tangga tertinggi. Menundukkan kepala, merenung, dan menatap masa lalu. Masa di mana kita masih sendiri. Menaiki anak tangga dengan berlari. Masa setelahnya kita bersama. Mendaki sisa tangga kehidupan. Dan saling mengurai rasa, mengurai makna. Hingga masa menjamah senja. Saat rasa mulai menyulam asa. Kita masih tetap duduk termenung. Seolah menanti sesuatu. Saat sunyi menghampiri. Kita putuskan tuk turuni tangga. Satu per satu anak tangga mewakili masa lalu. Jalinan cerita berputar dalam memori. Ada kalanya sedih menghampiri. Dan ada masanya bahagia menyapa. Kita berjalan dengan pasti, meski tak lagi mampu tuk berlari. Setiap anak tangga menyuarakan masa. Setiap anak tangga menampilkan kenangan. Kita berjalan turun dengan satu rasa yang menyatu. Bersama mengaca masa lalu. Hingga kita kembali pada anak tangga terakhir. Tempat di mana kehidupan itu bermula. Dan akan menjadi tempat terakhir saat kita telah tiada
Selasa, 14 Juli 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya
Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...
-
Suatu hari nanti kita akan menjadi seorang ibu. Di mana ibu adalah madrasah pertama bagi putra putrinya. Tahukah kita? Terlahir sebagai kaum...
-
Lantai 3 menyapa Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa mu...
-
Lantai 3 menyapa Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar