Berbicara soal Covid-19 tak hanya tentang suasana yang mencekam. Insyaallah kalau kita mau memandang dunia yang terhampar luas dan curahan nikmat dari Allah yang tak terbatas, hati kita akan lebih lapang dan senyum perlahan akan mengembang.
Pada tanggal 15 Maret 2020 di sekolah kami sedang ramai oleh perhelatan agung "Semesta Day". Dan pada hari itu pula satu persatu penghuni asrama dipulangkan ke rumah masing-masing. Seketika keramaian menjelma sunyi. Asrama 3 lantai yang biasanya ramai perlahan kehilangan penghuninya. Beberapa pembina asrama masih bertahan hingga beberapa hari untuk menuntaskan tugas kuliah dan mencari waktu yang tepat untuk kembali ke kampung halaman. Hati ini sempat bimbang antara bertahan atau kembali pulang. Hingga akhirnya aku memantapkan diri untuk berkumpul bersama keluarga di rumah, meski hanya setengah hati. Perlahan hari demi hari separuh hati yang tertinggal di asrama mulai mengikhlaskannya. Dan ternyata memang benar bahwa ketetapan-Nya adalah hal terbaik untuk kita. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari #dirumahaja. Bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga setelah 2 bulan bertahan di kota Atlas adalah salah satu hal yang patut disyukuri. Terlebih jika melihat teman-teman yang masih bertahan di indekos maupun di kontrakan dekat kampus, rasa-rasanya kita masih beruntung bisa berpuasa di rumah bersama keluarga. Semoga syukur selalu kita tunjukkan lewat lisan dan perbuatan atas segala nikmat-Nya yang tak terukur.
Selasa, 14 Juli 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya
Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...
-
Suatu hari nanti kita akan menjadi seorang ibu. Di mana ibu adalah madrasah pertama bagi putra putrinya. Tahukah kita? Terlahir sebagai kaum...
-
Lantai 3 menyapa Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa mu...
-
Lantai 3 menyapa Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar