Selasa, 06 Agustus 2024

Bapak dan Sepeda Kayuhnya

 Pagi itu Ida bersama bapak, ibuk, dan adik laki-lakinya sedang dalam perjalanan menuju rumah nenek di kecamatan sebelah. Di sepanjang jalan, Ida tak henti-hentinya berceloteh dan menanyakan setiap hal yang dilihatnya. Ida adalah gadis kecil usia tiga tahun yang cerewet sekali, meskipun sepanjang jalan dia terus berceloteh, rasa lelah tak dirasakan olehnya. Dia berbicara sambil melonjak-lonjak di kursi boncengan sepeda, sedangkan bapak terlihat berusaha menjaga keseimbangan laju sepeda onthelnya. Ibuk duduk di boncengan belakang sambing menggendong bayi laki-lakinya.

Nduk, anak cantik ibuk bisa duduk dengan tenang ya!” kata ibuk dengan lembut.

“Baik ibuk, Ida akan duduk dengan tenang.” 

“Bapak, itu yang di sawah hewan sapi ya? wow, besar sekali. Kalau yang di lapangan tadi namanya kambing ya pak?”

“Iya.” jawab bapak dengan singkat. Sesekali ia menyeka keringat di pelipisnya.

“Oekk, oekk.” bayi laki-laki dalam gendongan ibu menangis dengan suara yang cukup keras.

“Adek kenapa menangis buk?” tanya Ida, sambil sesekali ia menoleh ke belakang.

“Sepertinya adek lapar.” jawab ibuk.

“Baiklah, nanti kita istirahat sejenak di gubuk pinggir sawah. Perjalanan kita masih panjang dan di sepanjang jalan ini hanya ada sawah yang membentang.” kata bapak memberi saran.

“Boleh pak, di depan sana ada gubuk di bawah pohon waru. Kita bisa istirahat dan berteduh sejenak di sana.”

Bapak segera menepi dan memarkirkan sepeda onthelnya di bawah pohon waru. Ibuk segera menuju ke gubuk. Sedangkan Ida langsung menarik tangan bapak dan mengajaknya menuju ke sawah.

“Bapak, Ida mau lihat tanaman padi, yuk kita ke sana.” kata Ida sambil menunjuk ke arah bentangan sawah yang sangat luas.

“Boleh, kita lihat padinya di pinggir sawah saja ya.”

“Oke.” sahut Ida sambil berlari kecil.

Bapak mengikuti Ida dari belakang. Tak henti-hentinya Ida bertanya tentang banyak hal yang ia lihat di sekitar sawah.

Sekian tahun telah berlalu, kini Ida tumbuh menjadi gadis yang cantik dan santun. Ida menempuh pendidikan tingginya di kota besar. Dibutuhkan waktu sekitar tiga jam naik bus dari desanya untuk sampai di universitas negeri tempat Ida berjuang meraih cita-citanya menjadi seorang guru. Setiap liburan semester dia selalu menyempatkan untuk pulang kampung. Dan seperti biasa, bapak akan menjemputnya di perempatan lampu merah dekat rumah. Bapak dan anak ini akan menghabiskan waktu selama perjalanan ke rumah dengan berbincang hangat di atas sepeda onthel. Ida sangat bangga kepada bapaknya, beliau adalah lelaki tangguh yang tak kenal lelah berjuang untuk masa depan keluarga.

Sepeda onthel tua berdiri kokoh di samping rumah. Sepeda ini setia menemani bapak dalam segala aktivitasnya. Lama sekali Ida memandangi sepeda yang menjadi saksi sejarah perjalanan hidupnya sejak buaian hingga menginjak dewasa. Tanpa Ida sadari, ibuk juga sedang mengenang masa-masa di mana bapak masih mampu beraktivitas dengan baik.

Nduk, kamu sedang apa?” tanya ibuk sambil menepuk pundak anak sulungnya.

“Ida sedang mengingat masa kecil, dulu bapak sering mengajak Ida bersepeda dengan sepeda onthel ini.” tak terasa kedua mata Ida telah berembun, butiran-butiran bening mulai menetes di sudut matanya.

“Sepeda onthel ini memang saksi sejarah.” kata ibuk sambil memeluk Ida dengan erat.

“Dulu saat wisuda sekolah dasar Ida dan bapak pulang dengan membawa empat piala menaiki sepeda onthel ini. Setiap kali Ida mau berangkat ke kota untuk kuliah, bapak selalu mengantarkan Ida ke halte bus mengendarai sepeda ini. Saat pulang kampung pun sama, sepeda ini selalu setia menemani. Saat laptop Ida rusak, bapak menempuh jarak yang cukup jauh ke tempat reparasi dengan mengayuh sepeda ini.”

“Ibuk juga merindukan masa-masa itu. Semoga kondisi bapak lekas membaik dan bisa beraktivitas seperti semula.”

Usia bapak kini tak lagi muda , namun semangat yang terpancar dari matanya selalu menyala. Di usia yang sudah lebih dari enam puluh tahun ini, kondisi fisik bapak tak sekuat dulu. Beliau lebih banyak diam dan menyendiri. Sesekali beliau masih terlihat membersihkan rumput di halaman rumah, dan kadangkala juga masih sempat menanam singkong di kebun samping rumah.

Pernah suatu ketika bapak sedang mengelap sepeda onthel tua miliknya. Tak ada yang tahu isi kepala bapak. Beliau adalah sosok yang pendiam dan tak banyak bertanya. Beliau sering menggelar tikar di samping rumah. Dalam kesendiriannya mungkin tak hanya sekali dua kali air matanya terjatuh namun jarang seisi rumah mengetahuinya. Kali ini matanya memandang lekat sepeda itu. Mengenang masa-masa indah berkeliling sawah bersama buah hatinya.

Bapak dan sepeda onthelnya. Tak ada yang tahu jika di sepanjang jalan saat berangkat dan pulang kerja air mata bapak pernah terjatuh. Bukan karena lemah dan tak berdaya menjalani kerasnya hidup. Beliau hanya khawatir merasa gagal menjaga dan memberikan kebahagiaan untuk anak istrinya.

Wahai diri, jika bapak masih menemani hari-hari lukislah selalu senyum di wajahnya. Katakan pada pahlawan keluargamu ini bahwa, “Bapak engkau adalah sosok yang luar biasa, engkau tidak pernah gagal, engkau sudah berhasil. Memang bahasamu bukan bahasa kata, melainkan bahasa nyata.”


Minggu, 07 Januari 2024

Jembatan Berbaik Sangka, Antara Impian dan Realita

 Ketika berbicara tentang impian dan realita, tentunya kedua hal ini tidak terlepas dari kehendak manusia dan takdir atau ketetapan Allah Swt. Dalam buku Qadar karangan Hocaefendi dijelaskan bahwa makna kata takdir adalah ketetapan yang telah dibuat oleh Allah Swt. menurut ilmu dan sesuai kehendak-Nya. Dengan kata lain, segala sesuatu yang telah terwujud di masa lalu, di masa kini, maupun di masa yang akan datang, semuanya telah ditetapkan kewujudannya oleh Allah Swt. berdasarkan pada ilmu dan kehendak-Nya. Atau, dengan bahasa yang lebih urai dapat dikatakan, bahwa segala sesuatu yang pernah ada atau akan ada di masa mendatang telah ditetapkan oleh Allah Swt. berdasarkan ilmu dan kehendak-Nya.

Kemudian muncul pertanyaan yang selalu bergejolak dalam benak kita, bagaimana keterkaitan antara takdir Allah Swt. dan kehendak manusia? Apakah semua kehendak dan perbuatan manusia berasal dari kehendak sendiri ataukah justru berasal dari kehendak Allah Swt. semata? Dalam tulisan ini kita akan mencoba menguraikan bagaimana cara manusia membentuk dan mengatur impiannya. Kita juga akan mencoba menjabarkan tentang realita yang terjadi dalam kehidupan. Apakah impian kita berjalan beriringan dengan realita ataukah realita yang terjadi bertolak belakang dengan apa yang kita impikan? Lantas bagaimana cara kita memanajemen hati untuk dapat menerima segala realita yang ada? Disini akan disuguhkan sebuah jembatan penghubung antara impian dan realita, yaitu berupa berbaik sangka.

Ada beberapa hadits yang membahas tentang keterkaitan antara takdir Allah Swt. dan amalan manusia. Di sini kami paparkan dua dari sekian banyak hadits yang ada. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, mengapa seseorang harus beramal? Padahal semua telah ditetapkan oleh Allah Swt. menurut takdir masing-masing?” Beliau Saw. menjawab, “Setiap orang telah ditetapkan amalannya masing-masing oleh Allah. Seorang calon penghuni surga akan memperbanyak amalan ahli surga. Demikian pula seorang calon penghuni neraka akan memperbanyak amalan ahli neraka.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ‘Umar Ibnul Khaththab ra. pernah mengajukan pertanyaan, “Ya Rasulullah, menurut pendapatmu apakah amal-amal kita ini termasuk usaha kita, ataukah termasuk sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah? Beliau menjawab, ‘Semua amal kalian telah ditetapkan oleh Allah.’ Lanjut ‘Umar, ‘Kalau begitu, kami akan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya.”

Sebagaimana amalan yang kita lakukan berjalan beriringan dengan takdir-Nya, begitu juga dengan impian dan harapan kita akan berjalan beriringan dengan takdir-Nya. Ada kalanya realita yang terjadi lebih indah dari impian kita dan terkadang ia tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, perlu kita pahami bersama bahwa keduanya adalah takdir Allah Swt. yang telah didesain dengan sebaik mungkin untuk hamba-Nya.

Setiap manusia pasti memiliki impian dan harapan dalam hidupnya. Bagaimana cara yang tepat untuk menentukan impian dan harapan itu? Mari kita mengenal SMART Goals, yaitu cara yang tepat untuk menentukan target yang ingin kita capai. Metode ini dikembangkan oleh seorang praktisi bernama Petter Ducker dalam bukunya yang berjudul The Practice of Management. SMART merupakan sebuah akronim dari: 1) Specific, yaitu mendefinisikan dengan tepat apa yang dituju?; 2) Measurable, terukur atau ada angka yang bisa diukur; 3) Attainable or Achievable, sesuatu hal yang dapat dicapai; 4) Realistic; dan 5) Timely, tepat waktu dan dapat diselesaikan dalam waktu yang wajar (Williams dalam Lawlor, 2012).

Teori buatan manusia dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita. Namun, hasil dari setiap usaha manusia terkadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh karena itu, berbaik sangka kepada Allah Swt. adalah keharusan bagi kita. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah Swt. tidak terlepas dari adanya hikmah di balik takdir-Nya itu. Sebab, ilmu Allah Swt. dapat meliputi segala sesuatu, demikian pula dengan kebijaksanaan-Nya yang juga dapat meliputi segala sesuatu. Sehingga tidak sesuatu apa pun yang mampu terlepas dari pengawasan ilmu dan kebijaksanaan Allah Swt.

Berbaik sangka adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara impian dan realita. Dengan berbaik sangka pada setiap ketetapan-Nya, hati kita akan diliputi ketenangan dan kedamaian. Ada sebuah hadits qudsi yang menyebut, “Aku bergantung bagaimana sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” Dengan berbaik sangka, kita akan senantiasa berpandangan positif terhadap segala hal yang kita dihadapi karena percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik, kendati mungkin tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Berikut ini beberapa contoh berprasangka baik kepada Allah Swt. dalam kehidupan sehari-hari:

  • Tidak berputus asa dalam memperjuangkan sesuatu yang baik untuk dirinya karena Allah Swt.

  • Menjaga hati dari prasangka buruk dengan selalu meyakini keputusan Allah.

  • Menyikapi segala pemberian dengan sikap syukur dan sabar.

  • Berikhtiar dengan beribadah dan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Salah satu hikmah berprasangka baik kepada Allah Swt. adalah bisa mengubah takdir Allah Swt, sebab takdir turut bergantung pada prasangka kita. Selain itu, dengan memahami makna berprasangka baik kepada Allah Swt, maka kita akan semakin membangun keyakinan bahwa Allah akan selalu memberikan rahmat dan ampunan bagi hamba-Nya untuk menjadi lebih baik.


Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya

  Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...