Pagi itu Ida bersama bapak, ibuk, dan adik laki-lakinya sedang dalam perjalanan menuju rumah nenek di kecamatan sebelah. Di sepanjang jalan, Ida tak henti-hentinya berceloteh dan menanyakan setiap hal yang dilihatnya. Ida adalah gadis kecil usia tiga tahun yang cerewet sekali, meskipun sepanjang jalan dia terus berceloteh, rasa lelah tak dirasakan olehnya. Dia berbicara sambil melonjak-lonjak di kursi boncengan sepeda, sedangkan bapak terlihat berusaha menjaga keseimbangan laju sepeda onthelnya. Ibuk duduk di boncengan belakang sambing menggendong bayi laki-lakinya.
“Nduk, anak cantik ibuk bisa duduk dengan tenang ya!” kata ibuk dengan lembut.
“Baik ibuk, Ida akan duduk dengan tenang.”
“Bapak, itu yang di sawah hewan sapi ya? wow, besar sekali. Kalau yang di lapangan tadi namanya kambing ya pak?”
“Iya.” jawab bapak dengan singkat. Sesekali ia menyeka keringat di pelipisnya.
“Oekk, oekk.” bayi laki-laki dalam gendongan ibu menangis dengan suara yang cukup keras.
“Adek kenapa menangis buk?” tanya Ida, sambil sesekali ia menoleh ke belakang.
“Sepertinya adek lapar.” jawab ibuk.
“Baiklah, nanti kita istirahat sejenak di gubuk pinggir sawah. Perjalanan kita masih panjang dan di sepanjang jalan ini hanya ada sawah yang membentang.” kata bapak memberi saran.
“Boleh pak, di depan sana ada gubuk di bawah pohon waru. Kita bisa istirahat dan berteduh sejenak di sana.”
Bapak segera menepi dan memarkirkan sepeda onthelnya di bawah pohon waru. Ibuk segera menuju ke gubuk. Sedangkan Ida langsung menarik tangan bapak dan mengajaknya menuju ke sawah.
“Bapak, Ida mau lihat tanaman padi, yuk kita ke sana.” kata Ida sambil menunjuk ke arah bentangan sawah yang sangat luas.
“Boleh, kita lihat padinya di pinggir sawah saja ya.”
“Oke.” sahut Ida sambil berlari kecil.
Bapak mengikuti Ida dari belakang. Tak henti-hentinya Ida bertanya tentang banyak hal yang ia lihat di sekitar sawah.
Sekian tahun telah berlalu, kini Ida tumbuh menjadi gadis yang cantik dan santun. Ida menempuh pendidikan tingginya di kota besar. Dibutuhkan waktu sekitar tiga jam naik bus dari desanya untuk sampai di universitas negeri tempat Ida berjuang meraih cita-citanya menjadi seorang guru. Setiap liburan semester dia selalu menyempatkan untuk pulang kampung. Dan seperti biasa, bapak akan menjemputnya di perempatan lampu merah dekat rumah. Bapak dan anak ini akan menghabiskan waktu selama perjalanan ke rumah dengan berbincang hangat di atas sepeda onthel. Ida sangat bangga kepada bapaknya, beliau adalah lelaki tangguh yang tak kenal lelah berjuang untuk masa depan keluarga.
Sepeda onthel tua berdiri kokoh di samping rumah. Sepeda ini setia menemani bapak dalam segala aktivitasnya. Lama sekali Ida memandangi sepeda yang menjadi saksi sejarah perjalanan hidupnya sejak buaian hingga menginjak dewasa. Tanpa Ida sadari, ibuk juga sedang mengenang masa-masa di mana bapak masih mampu beraktivitas dengan baik.
“Nduk, kamu sedang apa?” tanya ibuk sambil menepuk pundak anak sulungnya.
“Ida sedang mengingat masa kecil, dulu bapak sering mengajak Ida bersepeda dengan sepeda onthel ini.” tak terasa kedua mata Ida telah berembun, butiran-butiran bening mulai menetes di sudut matanya.
“Sepeda onthel ini memang saksi sejarah.” kata ibuk sambil memeluk Ida dengan erat.
“Dulu saat wisuda sekolah dasar Ida dan bapak pulang dengan membawa empat piala menaiki sepeda onthel ini. Setiap kali Ida mau berangkat ke kota untuk kuliah, bapak selalu mengantarkan Ida ke halte bus mengendarai sepeda ini. Saat pulang kampung pun sama, sepeda ini selalu setia menemani. Saat laptop Ida rusak, bapak menempuh jarak yang cukup jauh ke tempat reparasi dengan mengayuh sepeda ini.”
“Ibuk juga merindukan masa-masa itu. Semoga kondisi bapak lekas membaik dan bisa beraktivitas seperti semula.”
Usia bapak kini tak lagi muda , namun semangat yang terpancar dari matanya selalu menyala. Di usia yang sudah lebih dari enam puluh tahun ini, kondisi fisik bapak tak sekuat dulu. Beliau lebih banyak diam dan menyendiri. Sesekali beliau masih terlihat membersihkan rumput di halaman rumah, dan kadangkala juga masih sempat menanam singkong di kebun samping rumah.
Pernah suatu ketika bapak sedang mengelap sepeda onthel tua miliknya. Tak ada yang tahu isi kepala bapak. Beliau adalah sosok yang pendiam dan tak banyak bertanya. Beliau sering menggelar tikar di samping rumah. Dalam kesendiriannya mungkin tak hanya sekali dua kali air matanya terjatuh namun jarang seisi rumah mengetahuinya. Kali ini matanya memandang lekat sepeda itu. Mengenang masa-masa indah berkeliling sawah bersama buah hatinya.
Bapak dan sepeda onthelnya. Tak ada yang tahu jika di sepanjang jalan saat berangkat dan pulang kerja air mata bapak pernah terjatuh. Bukan karena lemah dan tak berdaya menjalani kerasnya hidup. Beliau hanya khawatir merasa gagal menjaga dan memberikan kebahagiaan untuk anak istrinya.
Wahai diri, jika bapak masih menemani hari-hari lukislah selalu senyum di wajahnya. Katakan pada pahlawan keluargamu ini bahwa, “Bapak engkau adalah sosok yang luar biasa, engkau tidak pernah gagal, engkau sudah berhasil. Memang bahasamu bukan bahasa kata, melainkan bahasa nyata.”