Rabu, 21 Desember 2022

MATA AIR YANG TAK PERNAH KERING

 MATA AIR YANG TAK PERNAH KERING

Nurul Hidayah


Ibu adalah malaikat yang Tuhan kirim ke bumi untuk menyirami seluruh makhluk dengan kasih sayang yang tak pernah surut. Ibu adalah pahlawan yang senantiasa maju di depan menghadang segala mara bahaya yang mungkin datang. Meski fisiknya tak sekuat ayah, namun hatinya sangat kokoh sekokoh baja. Jika kamu mencari sosok cinta sejati, maka tataplah wajah ibumu di kedua matanya yang sayu selalu terpancar binar semangat dan kasih sayang yang membara. Hati seorang ibu mungkin seringkali rapuh, tapi dengan segera pulih tersebab rasa cinta yang mengalahkan segalanya.


Kisah kebersamaan seorang anak dan ibunya tak pernah lekang oleh waktu. Ibu adalah aktor yang luar biasa dalam kehidupan kita. Beliau bisa menjadi sosok yang tangguh memikul beban keluarga. Tak jarang kita jumpai sosok ibu tunggal yang mampu melengkapi kekosongan peran sang ayah. Ibu juga bisa menjadi teman bagi anak-anaknya. Beliau dengan mudahnya mampu masuk dalam dunia pertemanan sang anak dan beralih peran menjadi sahabat sejati yang dinanti. Sebanyak apapun peran ibu bagi anaknya, menjadi madrasah pertama adalah peran yang paling mulia. Darinya kita belajar tentang hidup dan kehidupan. Mutiara petuah selalu tersimpan dalam binar matanya. Nasihat semanis madu selalu membasahi bibirnya. Lantas, sudahkah baktimu setara dengan pengorbanannya?


Baginya malam bisa berbalik menjadi siang, dan siangnya menggantikan malam yang panjang. Ada masa dimana sang anak belum tahu bedanya malam dan siang. Di tengah malam bayi masih asyik mengajak ibunya bermain. Hingga dini hari sang ibu tak pernah melepas senyuman. Baginya, letih tak lagi dirasa kala ocehan bayinya menemani malam-malam panjangnya. Tidurnya tak akan nyenyak jika demam mendera buah hatinya. Linang air matanya menjadi penyejuk yang perlahan meredakan demamnya. Mari kita tengok, apakah perjuangan kita untuk membahagiakannya sudah mencapai titik paripurna?


Ketika kaki kita perlahan mampu menapaki bumi, tangan lembut ibunda tak hentinya memapah dan mengiringi langkah. Tak sekalipun dibiarkannya kita terjatuh dan menangis. Kalau pun kemalangan menimpa sang anak, dengan segera ibu akan membasuh lukanya dan perlahan meniupnya. Tiupan lembut dan kata-kata manis sang ibu secara ajaib menjadi obat penyembuh luka. Sudah berapa kali kita mendekap erat ibu kita? Apakah pernah kita usap air matanya? Atau jangan-jangan kita sendiri yang menjadi sebab berlinangnya air mata ibunda? Semoga pertanyaan terakhir ini hanya sebuah prasangka dan tak pernah menjadi nyata.


Pagi itu ibu sudah memandikan kita dan mendandani kita bak putri raja. Diikatnya rambut kita seperti ekor kuda. Disematkannya bedak wangi di wajah manis kita. “Selamat belajar nak penuh semangat, rajinlah selalu tentu kau dapat, hormati gurumu sayangi teman.” Bait-bait lagu ini selalu menjadi bekal kita sebelum melangkah ke sekolah. Mungkin ada di antara kita yang selalu diantar jemput oleh ibunda. Atau bahkan ibu ikut ke kelas dan menemani kita yang masih malu-malu duduk di belakang meja. Dengan sabar dan telaten ibu mendampingi kita hingga bel kepulangan dibunyikan. Sekali lagi aku ingin bertanya padamu. Ketika ibu telah memasuki hari tuanya, sabarkah kita merawatnya? Mampukah kita berganti peran dengannya? Kita bantu ibu kita untuk membersihkan badannya, kita suapi beliau dengan lembut, kita temani beliau kemana pun beliau pergi. Ataukah kesibukan kita dengan urusan kerja atau dengan pasangan kita selalunya jadi alasan untuk menunda?


Kini datang masa di mana omelan bunda yang tak kamu sukai tak terdengar lagi. Senyuman terakhir terpahat manis tanpa berganti ekspresi. Tangannya yang senantiasa menggenggam dan mendekapmu kini telah membiru dan terbujur kaku. Lalu kau hanya mampu berteriak dalam sendu, “Ibu, maafkan aku. Aku ingin kembali menjadi putri kecilmu yang mendapatkan limpahan kasih sayangmu. Ibu, tunggu aku sebentar saja, akan kutinggalkan kesibukanku dan kutemani engkau kemana pun kau mau.” Ya.. begitulah ratapan penyesalan yang tak memiliki arti. Hingga hati mulai pulih kembali dan bertekad menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Ibu, maafkan anakmu ini. Genggam tanganmu tak akan lagi kulepas. Curahan kasih sayangmu akan kubagikan untuk anakku nanti. Kemarilah, mendekatlah, Nak! Ibu sudah lama rindu ingin mendekapmu.

Selasa, 20 Desember 2022

JALAN PANJANG PERJUANGAN

 JALAN PANJANG PERJUANGAN


Hidup adalah perjuangan. Dalam berjuang tentunya ada sesuatu yang harus kita korbankan. Misalnya untuk bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi kita harus berjuang sekuat tenaga. Belajar siang dan malam dengan fokus dan sabar. Ketika kita telah menentukan tujuan, kita harus setia di jalan perjuangan. Sebagai manusia biasa tentunya kita akan merasa lelah. Tapi jangan sampai lelah membuat semangat kita menjadi goyah. Rehatlah sebentar dan setelah istirahat dirasa cukup maka lanjutkan langkah dan tetap semangat.

Kuliah di perguruan tinggi negeri menjadi cita-cita banyak orang. Jika kita ibaratkan ujian masuk perguruan tinggi sebagai sebuah medan pertempuran, maka sudah selayaknya kita mempersiapkan bekal yang cukup. Bekal ini harus kita siapkan jauh-jauh hari agar kita siap berjuang. Bekal ini meliputi bekal akademik dan bekal mental.

  1. Bekal Akademik

Bekal akademik ini berupa nilai dan prestasi kita selama mengenyam pendidikan di SLTA. Bekal akademik ini sangat diperlukan untuk mengikuti SNMPTN atau yang biasa dikenal dengan jalur undangan. Pada jalur ini para calon mahasiswa diseleksi berdasarkan nilai raport SLTA dari semester 1 sampai semester 5. Jika nantinya rencana Allah belum menakdirkan kita lolos jalur SNMPTN, kita masih bisa mencoba dan kembali berjuang di jalur SBMPTN atau biasa dikenal dengan jalur tes. Di sinilah bekal akademik sangat diperlukan. Dan di sini pula kita ditantang untuk bersaing dengan ribuan orang dengan misi yang sama yaitu masuk kampus impian.

  1. Bekal Mental

Bekal mental juga tak kalah penting. Meskipun bekal akademik kita cukup tapi mental kita tak cukup kuat dalam menghadapi halangan dan rintangan, maka kita akan kalah di medan juang. Banyak orang yang pandai, pintar, dan cerdas tapi mereka terkurung dalam mental pesimis dan takut. Orang seperti ini akan kalah dengan mereka yang bekal akademiknya rata-rata tapi memiliki mental sekuat baja. Bukankah banyak orang yang kalah sebelum berperang? Mereka yang takut mencoba hingga akhirnya tak pernah bisa. Untuk itu kita perlu meyakinkan diri bahwa kita bisa dan kita mampu. Serta atas izin dan karunia dari Allah SWT kita akan jadi pemenang  yang berhasil meraih mimpi. Bekal mental yang harus senantiasa kita genggam adalah harapan. Harapan mampu mengubah yang susah menjadi mudah dan harapan juga bisa menguatkan langkah kita untuk terus berbenah dan yakin bahwa semua akan berakhir indah. 

Saat mendaftar kuliah aku yakin bahwa dengan membawa dua bekal ini aku akan berhasil meraih mimpi. Dan ternyata takdir yang telah digariskan untukku adalah lolos SBMPTN tahun 2014 dan resmi menjadi mahasiswa baru jurusan bahasa asing di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang. Selain itu aku juga mendapatkan hadiah indah berupa beasiswa bidikmisi. Selama empat tahun ke depan aku harus semangat belajar dan berprestasi karena ada hak-hak rakyat yang menantikan kesuksesanku agar kelak mampu berkontribusi membangun negeri.

Satu tahun berlalu dengan cepat. Kegiatan perkuliahan berjalan lancar sebagaimana mestinya. Awal tahun kedua kuliah aku mulai aktif mengikuti organisasi kampus. Berbekal pengalaman yang aku dapat saat SLTA dulu, aku diterima bergabung di Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Asing (Hima BSA). Setelah satu tahun menjadi bagian dari Hima BSA aku mulai goyah dan dilanda gundah. Bagaimana cara menyeimbangkan kegiatan kuliah dan organisasi? Beberapa hari aku merenung dan menangis mengkhawatirkan nilai akademik yang rata-rata. Padahal tekadku sejak awal ingin menjadi mahasiswa yang berprestasi. 

Ketika aku terjatuh dan terpuruk ada tangan-tangan yang menggandengku dan mengajakku berjalan menapaki rute kehidupan yang lebih indah. Pada saat aku merasa tak sanggup melanjutkan langkah  dan hari-hariku dipenuhi gundah, datanglah seorang sahabat sholihah. Pertemuan ini menjadi nafas baru dalam hidupku. Dadaku tak lagi sesak karena kekhawatiran dan aku mulai bisa bernafas lega. 

Ada sebuah pertanyaan yang membuatku terdiam. Mana yang lebih penting? Proses atau hasil? Sejak dulu aku percaya pada sebuah kaidah yang berbunyi: proses itu lebih penting daripada hasil. Ternyata kaidah itu terpatahkan hanya dengan satu kata, yaitu teman. Bagaimanapun proses yang kita jalani dan seperti apa hasil yang kita dapatkan nanti, teman adalah unsur terpenting dalam hidup kita. Jika kita berkumpul bersama teman yang baik, maka secara perlahan kita akan menapaki proses kebaikan bersama-sama. Dan begitu juga sebaliknya, jika kita menghabiskan waktu bersama teman yang kurang baik, bisa jadi kesia-siaan yang kita dapat.

Perjumpaanku dengan seorang teman berkebangsaan Turki mengantarkanku untuk lebih mengenal rumah belajar. Rumah belajar adalah sebuah rumah yang tidak hanya sekedar rumah. Tapi ia ibarat madrasah tempat diasahnya ilmu pengetahuan dan tempat diasuhnya jiwa. Di rumah belajar ini perlahan aku menata kembali serpihan-serpihan mimpi dan melangitkan do’a-do’a semoga jalan yang kutempuh senantiasa dalam ridho Allah dan semoga setiap langkah selalu dalam lindungan-Nya.

Selama tinggal di rumah belajar aku mulai dibimbing untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Karena setiap helaan napas akan dimintai pertanggungjawaban kelak di negeri keabadian. Aku manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk terus bermuhasabah dan berbenah bersama para penghuni rumah belajar. Mereka ibarat keluarga kedua bagiku dan rumah belajar juga ibarat rumah kedua karena di sini tak hanya menjadi tempat untuk rebahan. Tapi jauh lebih indah dari itu, rumah belajar menjadi tempat untuk belajar tentang kehidupan.

Masa-masa kuliahku sempat terhenti beberapa kali karena sakit yang berkepanjangan. Sebenarnya kalau mau jujur sakit yang diderita oleh fisik telah sembuh secara perlahan. Namun sakit yang melanda hati tak kunjung bisa disembuhkan. Kekhawatiran akan masa depan sempat menyinggahi benakku dan menjadi beban yang menambah sakit. Bagaimana caranya aku kembali ke kampus untuk melanjutkan studi, sedangkan telah sekian lama aku meninggalkan bangku perkuliahan. Mampukah aku melanjutkan langkah dan terus maju? Ataukah aku mundur saja dan mengubur dalam-dalam impianku? Dua pertanyaan ini yang setiap hari singgah dalam benakku. Tentu saja hal ini membuatku diam di tempat, enggan maju, mundur pun tak mau.

Alhamdulillah aku dikelilingi oleh orang-orang baik. Namun keberadaan mereka sering tak kusadari. Aku enggan berbagi cerita dan lebih memilih memendam dalam dada. Sampai akhirnya beberapa dosen memintaku untuk menghadap. Apakah aku akan dimarahi? Pertanyaan ini membuat nyaliku semakin menciut. Namun apa yang kita pikirkan tak selamanya sesuai dengan realita. Nyatanya para dosen memanggilku untuk memberikan motivasi serta nasihat yang bermanfaat. Dan setelahnya aku mulai melanjutkan langkah dan merangkai kembali mimpi-mimpi yang sempat pecah. Tepat pada bulan November 2020 aku resmi diwisuda secara daring. Momen yang tak pernah aku sangka akan terjadi dalam hidupku. Kurang lebih enam tahun aku menempuh studi di kota Atlas. Sudah banyak air mata yang berjatuhan. Sudah banyak peluh yang bercucuran. Pada hari itu kebahagiaan disertai tangis membuncah. Ayah, bunda, sahabat, dan para dosen ikut berbahagia.

Salah satu SMA Negeri terbaik di Kalimantan Selatan masih melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Di sinilah tempatku berada saat ini. Terbang jauh ke pulau seberang untuk menapaki jalan khidmah. Takdir hidup kita siapa yang tahu, hanya Allah lah yang tahu karena Dia adalah sebaik-baik sutradara yang menyiapkan skenario paling sempurna. Kita sebagai manusia hanya mampu berikhtiar dan berdo’a. Selebihnya biarlah takdir-Nya yang bekerja. Kita cukup meyakini saja bahwa tak ada langkah yang sia-sia dan pada masanya nanti kesabaran kita akan berbuah keindahan.


KEPOMPONG

 KEPOMPONG


Di sebuah taman bunga yang indah banyak sekali kupu-kupu beterbangan. Elok warna sayapnya memanjakan mata siapa saja yang memandang. Bunga beraneka warna menghias taman yang asri. Puspa masih memejamkan mata sambil menghirup udara pagi yang manis. Aroma rumput basah menjadi sihir yang membawa Puspa terbang jauh ke alam mimpi. Sedetik kemudian ia terkesiap, matanya terbuka, dan tetes demi tetes air hujan mulai berjatuhan. Puspa segera beranjak dan mencari tempat berteduh. Di sebuah bangku panjang ada seorang gadis seumurannya yang sedang duduk manis. Puspa segera menghampiri gadis berkerudung jingga itu dan duduk di sebelahnya.

“Hai, selamat sore, namaku Puspa,” ucap Puspa sambil mengulurkan tangannya.

“Hai, namaku Senja,” jawab gadis berkerudung jingga itu sambil tersenyum manis.

Puspa adalah seorang mahasiswi jurusan Bahasa Perancis, sedangkan Senja adalah mahasiswi jurusan Bahasa Arab. Keduanya kuliah di sebuah universitas negeri yang terletak jauh dari pusat kota. Kampus mereka berada di atas gunung yang teduh, asri dan sangat nyaman untuk belajar. Mahasiswa di sini ramah, sopan, berjiwa tangguh dan pantang menyerah. Gedung jurusan Puspa dan Senja saling bersebelahan, tetapi mereka tak saling mengenal. Takdir Tuhan mempertemukan mereka saat hujan turun sangat deras. Saat itulah mulai tumbuh benih-benih persahabatan.

Persahabatan memang tak memandang rupa dan harta. Ibarat langit dan bumi yang berjarak tetapi keduanya saling bersahabat dan saling membutuhkan. Bumi membutuhkan hujan yang turun dari langit agar pepohonan dapat tumbuh subur dan meneduhkan. Langit juga membutuhkan bumi yang menyimpan banyak tumbuhan agar udara terjaga dan birunya langit terpancar indah. Ketika langit menangis, bumi dengan sabar menemaninya dan menampung tangisnya. Begitu juga dengan persahabatan Puspa dan Senja, mereka adalah dua insan yang sangat berbeda. Puspa adalah seorang anak pengusaha yang hidup bergelimang harta, sedangkan Senja adalah gadis kampung yang hidup dalam keterbatasan. Perbedaan ini tidak lantas memberi jarak tetapi membuat ikatan persahabatan mereka terjalin kuat.

Puspa tinggal di sebuah kontrakan besar kompleks perumahan elit. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Banyak sekali pria yang mencoba mendekatinya, tapi dia tidak menanggapinya. Dia lebih suka menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan merawat tanamannya. Puspa sangat menggemari tanaman dan bunga-bungaan, sangat cocok dengan namanya. Di halaman kontrakannya pun penuh dengan bunga-bunga indah beraneka warna.

Senja, gadis manis berkacamata yang suka menyendiri dan mengisi hari-harinya dengan kegiatan menulis. Senja tinggal di sebuah rumah belajar dekat kampus. Di rumah belajar ini banyak program pengembangan diri yang dipersiapkan untuk para generasi emas. Setiap malam, Senja dan para penghuni rumah belajar selalu melaksanakan program pengembangan diri dan di akhir pekan mereka melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat.

Ujian akhir semester telah selesai dan para mahasiswa telah sibuk mengatur jadwal liburan maupun jadwal pulang kampung. Biasanya Puspa selalu menghabiskan masa-masa liburan ke luar negeri. Namun liburan semester kali ini dia tidak bisa ke luar negeri. Jangankan ke luar negeri, untuk mudik saja sangat susah. Pemerintah telah melayangkan surat pemberitahuan bahwa mudik tahun ini ditiadakan. Seluruh masyarakat dihimbau untuk tidak bepergian jauh dan selalu menjaga jarak. Puspa sangat sedih karena tidak bisa berkumpul bersama keluarga saat lebaran tiba. Sedangkan Senja sudah terbiasa menghabiskan masa liburan di rumah belajar dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat. 

Pagi ini Senja sedang berjalan menyusuri taman perpustakaan kampus. Saat sampai di samping air mancur dia menghentikan langkahnya. Ada seorang gadis yang seumuran dengannya sedang menangis. Senja mendekat dan menepuk bahu gadis itu.

“Assalamu’alaikum,” sapa Senja

“Wa’alaikumussalam,” jawab gadis itu sambil menoleh ke belakang

“Puspa, kenapa kamu sendirian di sini? Tunggu sebentar, kamu menangis ya?”

Tanpa menjawab pertanyaan Senja, Puspa langsung memeluk sahabatnya dengan erat. Tangisnya semakin terisak-isak  dan air matanya ikut membasahi kerudung Senja.

“Coba tenangkan pikiran dulu, hapus air matamu dan ceritakan perlahan,” kata Senja sambil menepuk-nepuk pundak Puspa.

“Senja, apakah kamu tidak sedih mendengar kabar tentang larangan mudik tahun ini?”

“Tentu saja aku sangat sedih. Sudah lama aku tidak pulang kampung dan momen mudik tahun ini tinggallah angan. Tapi mau bagaimana lagi? Insyaallah keputusan pemerintah adalah keputusan yang terbaik dan tentu saja sudah dimusyawarahkan terlebih dahulu. Kita pasti tahu bahwa hasil musyawarah adalah jalan terbaik yang harus kita ikuti.”

“Tapi bagiku ini adalah momen yang sangat berat untuk dijalani. Aku tidak bisa menghabiskan liburan ke luar negeri bersama keluarga. Aku tidak bisa menghabiskan waktu untuk keliling Mall dan berbelanja barang-barang kesukaan. Aku mana tahan hidup terkurung seperti ini,” panjang lebar Puspa mencurahkan isi hatinya dan terus menangis.

“Coba kita analisis kira-kira aktivitas yang kamu sebutkan tadi apakah layak untuk ditangisi? Pertama, kita terkurung secara fisik tapi di sisi lain pikiran kita mampu berkelana melintasi jagad raya. Kedua, kita harus berjarak secara fisik, namun coba kita tengok bagaimana kemajuan teknologi mampu menyatukan ruang dan waktu sehingga kita masih bisa bertatap maya untuk sekedar melepas rindu.”

Perlahan Puspa mulai berhenti menangis. Dia mencoba tersenyum dan bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan seorang bidadari berkerudung jingga yang selalu meneduhkan hati dan menenangkan pikiran.

“Benar juga apa yang kamu katakan Senja. Tak sepatutnya aku menangisi keadaanku saat ini. Oh iya Senja, bolehkan aku ikut tinggal di rumah belajar selama liburan ini?”

“Tentu saja sangat diperbolehkan. Bukankah sudah sejak lama aku mengajakmu berkunjung ke rumah belajar? Alhamdulillah akhirnya hari ini kamu berkenan tinggal di rumah belajar.”

“Alhamdulillah, terima kasih banyak Senja. Insyaallah hari ini aku akan berkemas dan semoga lusa aku bisa pindahan ke rumah belajar. Aku tidak mau menghabiskan liburan sendirian di kontrakan.”

“Baiklah Puspa, mari kita cari sarapan dulu. Kamu pasti belum makan kan?”

“Iya, aku sudah lapar. Yuk kita ke pasar Krempyeng.”

“Siap, aku juga lapar dan sudah lama tidak membeli nasi Krempyeng”

Mereka pun melanjutkan jalan pagi menuju pasar Krempyeng. Pasar ini adalah semacam pasar pagi yang menjual sayuran dan lauk pauk. Setiap pagi banyak mahasiswa yang membeli sarapan di sini. Nasi Krempyeng adalah sejenis nasi gudangan dengan tambahan rempeyek khas pasar Krempyeng yang menjadi menu favorit mahasiswa. Setelah selesai sarapan, Puspa dan Senja pun pulang ke tempat tinggal masing-masing. 

Setelah sampai di kontrakan, Puspa segera mandi dan membereskan rumah. Satu jam kemudian dia baru ingat kalau dia belum memberi kabar kepada orang tuanya tentang rencana pindah ke rumah belajar. Tak menunggu waktu lama, Puspa segera meraih handphone yang tergeletak di ranjangnya. 

“Assalamu’alaikum, halo Mama,”

“Wa’alaikumussalam, masyaallah Puspa apa kabar?”

“Alhamdulillah Puspa sehat, Mama dan Papa apa kabar? Puspa rindu”

“Alhamdulillah kami juga sehat. Hanya saja Papa kamu itu makin hari makin sibuk di kantor dan sering pulang larut malam”

“Memang kerjaan Papa banyak ya Ma? Semoga sehat selalu.”

“Aamiin, oh iya ada apa Puspa? Liburan kali ini kamu mudik kan?”

“Itu yang mau Puspa bicarakan, Ma. Sepertinya liburan kali ini Puspa tidak bisa mudik karena ada larangan mudik dari pemerintah.”

“Terus kamu tinggal sendirian di kontrakan? Kenapa tidak mudik saja, nanti biar Papa jemput kamu.”

“Tidak apa-apa Ma, Puspa juga mau mengabari kalau Puspa berencana untuk tinggal di rumah belajar selama liburan semester ini. Selama bulan Ramadhan juga akan ada banyak kegiatan di rumah belajar. Jadi Puspa tidak akan kesepian.”

“Syukurlah kalau begitu. Mama mengizinkan Puspa untuk tinggal di rumah belajar. Yang terpenting kamu harus selalu jaga kesehatan dan jaga diri baik-baik.”

“Siap Ma, oke deh Puspa mau mengemasi barang-barang dulu. Salam untuk Papa ya, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Panggilan telepon sudah diakhiri. Meskipun mama Puspa sudah memberi izin, tapi beliau sebenarnya kasihan dengan anak semata wayangnya. Bagaimana kalau anaknya tidak makan, bagaimana kalau anaknya sakit, dan kekhawatiran lainnya.

Hari ini adalah hari di mana Puspa untuk pertama kalinya meninggalkan kehidupannya yang mewah. Dia akan hijrah ke sebuah rumah sederhana yang dihuni oleh lima orang ditambah dirinya. Ada tiga kamar tidur yang masing-masing kamar ditempati oleh dua orang. Puspa tidak satu kamar dengan Senja. Dia menempati sebuah kamar yang sangat rapi. Ada dua ranjang yang dipisah oleh dua meja belajar. Kamarnya memang tidak terlalu luas, tapi terasa nyaman untuk ditempati. Fitri, teman sekamar Puspa adalah seorang mahasiswa baru jurusan Bimbingan Konseling. Fitri adalah seorang mahasiswa yang rajin dan mudah bergaul. Tak butuh waktu lama Puspa dan Fitri berteman akrab dan sering bertukar pikiran atau lebih tepatnya Puspa sering curhat kepada Fitri tentang masalah yang dia alami ataupun perasaan yang dia rasakan. Dan Fitri pun aktif memberikan respon yang baik dan cukup membantu.

Pagi ini semua penghuni rumah belajar sedang sibuk membersihkan rumah dan bersiap menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mereka membagi tugas agar pekerjaan cepat selesai. Setelah membersihkan rumah mereka menghias rumah dengan kertas-kertas hias dan beberapa tulisan motivasi. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan. 

“Siapa yang mau makan maklube?” Maklube adalah masakan khas Turki berupa campuran nasi, sayur, dan daging yang dimasak di sebuah panci.

“Wah, terima kasih banyak kak Senja yang sudah repot-repot masak” ucap Fitri dengan penuh semangat karena dia sudah lama tidak makan maklube.

“Itu makanan apa Senja? Namanya terdengar asing.” Kata Puspa dengan raut muka yang penasaran.

“Ini adalah salah satu makanan khas Turki. Momen paling dinanti dan paling mendebarkan adalah saat kita menuangnya di atas nampan bulat besar.”

Semua penghuni rumah belajar memperhatikan Senja dengan seksama. Perlahan Senja membalikkan panci dan gunungan nasi berlapis sayur dan daging telah siap disantap. Mereka duduk melingkar dan menikmati makan siang yang sangat istimewa.

Bulan Ramadhan tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Awalnya Puspa sedih karena kondisi pandemi yang melanda negeri ini telah menghancurkan rencana liburannya. Namun pada akhirnya dia sangat bersyukur karena Tuhan telah menuntun langkahnya menuju rumah belajar. Banyak sekali program spesial Ramadhan yang disuguhkan di rumah belajar. Puspa mengikuti semua kegiatan dengan sangat antusias. 

Ada sebuah momen yang memberikan tamparan keras untuk Puspa sampai dia tak mau makan dan hanya berbuka puasa dengan teh manis. Sore itu penghuni rumah belajar mengadakan program berbagi menu buka puasa untuk orang-orang yang tinggal di sepanjang bantaran sungai Gede. Saat itu Puspa bertemu seorang kakek tua yang mengayuh becak. Puspa segera menghampiri beliau dan memberikan bungkusan yang berisi menu buka puasa. Sang kakek mengucapkan terima kasih dan tersenyum manis. Beliau juga berpesan kepada Puspa untuk rajin ibadah dan senantiasa bersyukur bagaimanapun keadaannya, karena dunia ini hanya tempat untuk singgah bukan tempat menetap. Karena sesungguhnya kampung halaman kita yang hakiki adalah kampung akhirat.

Puspa sangat beruntung lahir dan dibesarkan di keluarga yang berkecukupan. Apapun yang dia butuhkan dan inginkan pasti akan segera dia dapatkan. Jarang sekali dia merasakan bagaimana pahit getirnya perjuangan. Sampai akhirnya bulan Ramadhan menjadi momen bagi Puspa untuk lebih mengenal kehidupan. Bagaimana rasanya berjuang untuk bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi yang menjerat. Bagaimana seorang kakek tua masih mampu mengayuh becak dengan senyum lebarnya. Serta pelajaran-pelajaran berharga lainnya yang perlahan mencubit relung hati Puspa.

Satu bulan mulia telah terlewati. Besok adalah hari kemenangan, yaitu hari raya Idul Fitri yang menjadi hadiah manis bagi hamba-hamba yang berhasil melewati Ramadhan. Lebaran kali ini Puspa menghabiskan waktu untuk mengunjungi orang-orang pinggiran di bantaran sungai Gede. Seharian penuh Puspa bercengkrama bersama kakek tua. Pada kesempatan ini Senja juga ikut menemani Puspa berbagi kebahagiaan. Bulan Ramadhan bagaikan kepompong yang mengubah Puspa menjadi manusia baru yang lebih baik lagi.


RAMADHAN TERAKHIR

 RAMADHAN TERAKHIR

Nurul Hidayah

Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan. Penglihatannya terbatas, misalnya saja ketika kita berada di dalam sebuah ruangan kita tidak akan mampu memandang apa saja yang ada di luar ruangan tersebut. Pengetahuan manusia tentang masa depan pun sangat terbatas. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Kecuali jika ada sebuah mesin waktu yang dapat membawa kita melintasi masa depan. Kita akan mudah mendeteksi apa yang nantinya kita alami, tetapi sayang mesin waktu hanyalah sebuah ilusi. Sekarang adalah waktunya bagi kita untuk mempersiapkan diri menyambut masa depan yang penuh kejutan.

Sebentar lagi bulan yang dirindukan akan segera hadir. Sebuah penantian panjang setahun lamanya. Ramadhan akan senantiasa menjadi bulan yang spesial di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apapun. Meski pandemi masih melanda negeri, Ramadhan tidak akan membiarkan kita sendiri. Meskipun banyak ruang-ruang yang berjarak, bulan mulia ini tetap lekat dan dekat.

Ramadhan tahun ini akan menjadi pengalaman kedua bagi kita dalam menjalani kenormalan baru. Setiap rumah akan menjadi masjid tempat anggota keluarga melaksanakan ibadah khususnya salat tarawih. Sepanjang siang dan malam lantunan kalam Ilahi saling bersahutan. Bumi tampak terang-benderang sampai datang sebuah malam yang menyimpan keindahan. Ia adalah malam yang diburu oleh setiap insan. Namun malam mulia ini hanya akan hadir di langit hati yang suci dan senantiasa mengingat Ilahi.

Kisah ini datang dari ujung utara pulau Jawa. Dikisahkan ada sebuah kota yang sangat indah dengan penduduknya yang ramah. Di kota tersebut terdapat sekumpulan anak muda berompi hitam. Di dada kanan mereka tersemat sebuah tulisan yang terdiri dari tiga huruf. Sedangkan di dada kiri mereka melekat tiga huruf lainnya. Tiga huruf pertama menggambarkan bahwa mereka adalah para generasi muda Indonesia yang rela berkorban di jalan kebaikan. Tiga huruf kedua melambangkan bahwa mereka adalah pemuda yang sigap dan siap siaga dalam segala keadaan.

Kegiatan pemuda berompi hitam ini tak pernah usai. Mereka bilang bahwa kerja-kerja kemanusiakan tak akan pernah usai sampai nyawa berpisah dari raga. Aku telah menjadi bagian dari mereka selama kurang lebih dua tahun. Masih sangat melekat dalam ingatan tentang kali pertama aku mengenakan rompi itu. Di penghujung tahun 2018 untuk pertama kalinya aku mengenakan rompi hitam itu. Di pendopo kabupaten kami berkumpul bersama mendampingi para penyandang disabilitas. Momentum yang sangat berharga dan bermakna dalam hidupku bisa berinteraksi langsung dengan mereka yang terlahir istimewa.

Pada bulan-bulan berikutnya rompi hitam itu kerap aku jumpai di jalan-jalan yang ramai orang berlalu-lalang, di pelosok-pelosok desa yang minim pencahayaan, bahkan rompi hitam itu telah menyeberangi lautan membawa misi besar kemanusiaan. Seiring berjalannya waktu rompi hitam ini mulai dikenakan oleh orang-orang baru sebagai tanda bahwa virus-virus kebaikan dan kemanusiaan mulai merasuki sanubari setiap insan.

Ramadhan 2019 kala itu kerja-kerja kemanusiaan semakin massif digelorakan. Seolah tidak ingin kehilangan momentum bulan mulia, semua orang berlomba-lomba dalam kebaikan. Aksi berbagi kepada sesama terus dilaksanakan tanpa kenal lelah. Di penghujung Ramadhan kerja kemanusiaan tak pernah padam. Pemuda berompi hitam terus melangkah dan berbenah melebur dalam misi-misi kebaikan.

Ketika pandemi datang dan semua orang dirumahkan, para pemuda ini tidak tinggal diam. Mereka meneruskan kerja-kerja kemanusiaan dalam kenormalan yang baru. Tidak hanya rompi hitam yang melekat di tubuhnya, tetapi juga masker beserta alat pelindung diri menjadi seragam yang wajib mereka kenakan.

Kami bersyukur kepada Allah SWT yang berkenan mempertemukan kami dengan Ramadhan meski di tengah pandemi. Kekhawatiran terus melanda dari hari ke hari. Aku pun merasakan hal yang sama, apakah masih ada jatah usia yang akan mengantarku berjumpa dengan bulan mulia? Ataukan Ramadhan 2020 adalah sebuah momentum perpisahan? Sebentar lagi Ramadhan akan hadir kembali tetapi apakah raga kita akan berjumpa dengannya ataukah kita tinggal nama yang terpahat pada sebuah nisan  di masa depan?


RUMAH CAHAYA

RUMAH CAHAYA


Dunia perkuliahan menyuguhkan banyak tantangan sekaligus peluang bagi mahasiswa. Selain kegiatan belajar di dalam kelas, juga banyak unit kegiatan mahasiswa dan kegiatan organisasi yang hadir di lingkungan kampus. Semester tiga adalah masa-masanya mahasiswa mencari pengalaman dengan bergabung dalam organisasi kampus. Ida adalah salah satu mahasiswa yang aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan, Himpunan Mahasiswa Prodi, dan juga Kerohanian Islam Jurusan. 

Kegiatan organisasi yang diikuti oleh Ida cukup padat. Ada agenda besar tahunan yang yang menyita banyak waktu. Para anggota Hima sedang sibuk mempersiapkan Makrab Jurusan. Kepanitiaan Makrab telah dibentuk dan semua panitia sibuk menjalankan tanggung jawab masing-masing. Menjelang hari H panitia masih sibuk menyelesaikan dekorasi untuk acara bahkan beberapa di antara mereka menginap di kampus. Selain mempersiapkan kegiatan jurusan, para mahasiswa juga tengah mempersiapkan kegiatan ulang tahun prodi.

Begitulah keseharian Ida. Belajar di kelas, mengerjakan tugas, serta menggunakan sisa waktunya untuk bergelut di organisasi. Hingga suatu ketika takdir mempertemukannya dengan seorang sahabat yang perlahan mengubah jalan hidupnya. Saat adzan dzuhur dikumandangkan, Ida bergegas pergi ke musholla dekanat kampus ungu. Seperti biasa Ida duduk di sofa coklat, ia melepas satu per satu sepatu dan kaus kakinya sambil menunggu antrian untuk berwudhu.

Beberapa saat kemudian datang rombongan mahasiswi asing yang ikut mengantri. Baru kali ini Ida berjumpa dengan mahasiswi asing. Karena tidak ingin kehilangan momen spesial ini akhirnya Ida berkenalan dengan salah satu mahasiswi tersebut. Pasti mereka bisa diajak berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris meskipun wajah mereka lebih mirip orang Arab, begitu gumam Ida dalam hati. Namun siapa yang menyangka ternyata mahasiswi asing tersebut membalas pertanyaan Ida menggunakan bahasa Indonesia dengan aksen yang khas. Begitulah perjumpaan pertama Ida dengan Havanur abla, mahasiswi jurusan bahasa Inggris yang berkebangsaan Turki.

Seiring berjalannya waktu, persahabatan mereka semakin akrab. Mereka sering sholat bersama dan juga ke kantin bersama. Havanur abla adalah sahabat yang sangat baik dan berhati lembut. Pada suatu kesempatan, Havanur abla mengajak Ida untuk berkunjung ke asrama tempat tinggal para mahasiswi Turki. Di sana Ida berbincang bersama teman-teman Turki dan makan bersama mereka. Malam harinya Ida menginap di asrama dan dia juga mengerjakan tugas bersama Havanur abla. Kemudian pagi harinya Ida berangkat ke kampus bersama ablalar yang lain, karena kebetulan Havanur abla tidak ada jadwal kuliah pada hari itu. 

Suatu hari Ida dan Havanur abla duduk di bangku panjang ruang tunggu dekanat. Mereka saling bertukar cerita dan Ida pun sangat antusias menyimak cerita dari Havanur abla. Havanur abla menceritakan tentang rumah belajar untuk mahasiswi yang baru saja berdiri dan letaknya tidak jauh dari kampus. Saat itu Ida sudah tinggal di kost selama satu tahun lebih dan dia cukup tertarik dengan rumah belajar yang diceritakan oleh sahabatnya. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk berkunjung ke rumah belajar minggu depan.

Setelah selesai kuliah Ida segera bergegas ke samping dekanat. Di sana sudah ada Havanur abla yang ditemani oleh seseorang, mungkin orang tersebut mahasiswa juga pikir Ida. Ternyata seseorang yang menemani Havanur abla adalah mahasiswi fakultas MIPA yang bernama Warda abla. Mereka berdua yang akan menemani Ida untuk berkunjung ke rumah belajar. Setelah berbincang sebentar, akhirnya mereka bertiga segera berangkat menuju rumah belajar. Di sana mereka akan berjumpa dengan Susi abla dan beberapa teman lainnya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa sampai di rumah belajar. Kini ketiga mahasiswi ini telah berada di sebuah rumah yang cukup nyaman. Susi abla mempersilahkan mereka masuk dan segera menyiapkan teh hangat. Sementara Havanur abla memotong kue yang sudah dibawanya sejak di kampus tadi. Mereka pun berbincang santai sambil menikmati teh hangat dan muhallebi, nama kue yang dibuat Havanur abla.

Susi abla menceritakan tentang kegiatan di rumah belajar dan menginfokan bahwa di rumah tersebut sudah ada dua orang yang tinggal. Setelah merasa nyaman dan tertarik dengan program rumah belajar akhirnya Ida menerima tawaran untuk tinggal bersama Susi abla dan teman-teman. Program rumah belajar tidak jauh berbeda dengan program yang pernah Ida dapatkan saat tinggal di pondok pesantren. Semuanya teratur dan terjadwal, ada kegiatan mengaji al-Qur’an dan mengkaji buku-buku keagamaan. Ida sangat merindukan suasana pondok pesantren dan rumah belajar tersebut menjadi mini pondok pesantren bagi Ida.

Hari-hari yang ditunggu pun tiba, Ida datang ke tempat kost bersama Susi abla untuk berpamitan dan mengemasi barang-barang. Banyak sekali kenangan di tempat kost tersebut dan juga banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang Ida dapatkan. Setelah berpamitan Ida dan Susi abla pun kembali ke rumah belajar. Rumah tersebut ditempati oleh empat orang dan kemudian hari bertambah satu orang lagi, teman Fafii abla.

Ida sangat senang bisa tinggal di rumah belajar. Kegiatannya sangat teratur dan terjadwal dengan rapi. Para penghuni rumah belajar diharuskan pulang sebelum maghrib. Pagi sampai sore mereka belajar di kampus, kemudian malam harinya mereka melaksanakan program rumah belajar, sholat berjamaah, mengaji al-Qur’an, membaca buku, diskusi bersama, dan belajar bahasa Turki.

Setelah tinggal di rumah belajar, Ida dan teman-temannya masih mengikuti kegiatan organisasi. Mereka perlahan dilatih untuk bisa mengatur waktu dan menentukan prioritas, apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang sebaiknya ditinggalkan. Sehingga waktu yang mereka miliki bisa lebih bermanfaat dan tidak berlalu dengan sia-sia. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Ida memutuskan untuk menuntaskan kegiatan organisasi selama satu periode saja. Selanjutkan Ida mencoba untuk fokus belajar di kampus dan mengembangkan diri di rumah belajar.

Rumah belajar telah berpindah tempat tiga kali dan penghuninya juga semakin bertambah. Selain bergaul di kampus dan di rumah belajar, Ida dan teman-temannya juga aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Salah satunya ikut mengajar mengaji di mushola dan membuka bimbingan belajar untuk adik-adik di sekitar rumah belajar. Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain. Di rumah belajar ini, Ida dan teman-temannya mencoba untuk mempraktikkan hal tersebut.

Salah satu kegiatan yang selalu dinantikan di rumah belajar adalah kegiatan Reading Camp. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan saat liburan semester. Setelah menghabiskan waktu selama satu semester untuk belajar di kampus, liburan semester menjadi momen untuk mengisi ulang semangat dan memberi nutrisi untuk rohani. Kegiatan ini dimulai dengan sholat tahajjud dan kegiatan lain sampai malam hari sebelum tidur. Kegiatan ini meliputi sholat berjamaah, membaca al-Qur’an, membaca buku, diskusi buku, dan juga games. Selama beberapa hari penghuni rumah belajar akan mengikuti kegiatan Reading Camp bersama teman-teman dari beberapa kota.

Rumah belajar menjadi tempat tinggal sekaligus tempat belajar. Teman-teman di rumah belajar juga menjadi keluarga yang senantiasa mengingatkan pada kebaikan. Mereka memasak bersama, bersih-bersih bersama, dan melakukan banyak kegiatan secara bersama-sama. Jika ada teman yang sakit, teman yang lain akan menjaga dan merawatnya dengan tulus. Kebersamaan dan kekeluargaan tersebut terjalin sangat erat.

Rumah belajar adalah rumah cahaya, ia ibarat lentera yang menerangi kehidupan para penghuninya. Menjadi penunjuk jalan yang mengantarkan para musafir menuju kampung keabadian. Siapa pun yang masuk ke dalamya akan disuguhi mata air hikmah pereda dahaga. Cahaya tersebut perlahan menyusup ke dalam relung-relung hati jiwa yang suci. Mereka bersama-sama menerangi diri dan memancarkan cahaya penerang bagi siapa pun yang berada di dekatnya.


Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya

  Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...