Minggu, 31 Desember 2023

UJUNG JALAN YANG DINANTI

Pernahkah sahabat menjumpai kerikil di sepanjang tapak perjalanan? Ataukah ada tapak jalan yang selamanya mulus tanpa rintangan? Tentunya jalan hidup yang kita tempuh tak selamanya mulus, terkadang ada jalan yang terjal mendaki, atau jalan licin bekas hujan yang menyinggahi. Sejauh apapun jalan yang kita lalui, sebanyak apapun rintangan yang kita jumpai, yakinlah kita akan sampai pada ujung yang dinanti. Seperti apa kiranya ujung jalan yang kita nanti dan kita harapkan? Mari kita bersama-sama mengeja jejak dan memaknai langkah agar ia berujung indah.

Setiap dari kita akan memasuki masa quarter life crisis, yaitu masa dimana seseorang akan merasa khawatir terhadap masa depannya, keraguan terhadap kemampuan diri, serta kebingungan menentukan arah hidup. Pada masa seperti ini, sikap yang ditampilkan dan respon yang diberikan tiap individu pastinya berbeda. Sikap dan respon yang kita pilih akan menentukan bagaimana pengaruh quarter life crisis ini terhadap kehidupan kita. Apakah benturan yang hadir akan membuat hidup kita kocar-kacir bak puing-puing, ataukah dengan banyaknya benturan justru kita akan semakin kuat dan akhirnya terbentuk menjadi pribadi yang siap berkembang.

Mengeja jejak adalah sebuah proses refleksi dan merenungi kehidupan yang telah kita jalani. Sepanjang usia kita, sebanyak itu pula jejak yang telah kita ukir di bumi Allah yang sangat luas ini. Setiap sudut yang kita singgahi telah mengajarkan kepada kita bahwa nikmat dan karunia Sang Pencipta terus mengalir tiada henti. Apakah syukur kita sudah sebanding dengan nikmat yang tak terkira? Mari kita sirami lagi hati yang sempat diterpa kemarau ini. Agar nantinya kalimat syukur senantiasa membasahi lisan kita, dan gema takbir mengagungkan nama-Nya senantiasa mengangkasa.

Jejak langkah tak selamanya tegap tanpa goyah. Terkadang di persimpangan jalan kita disuguhi rintangan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 155, yang artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” Di sini Rabb semesta alam menyampaikan bahwa ujian adalah suatu keniscayaan karena dunia memang tempatnya ujian dan cobaan. Namun, mari kita telisik lagi dengan cermat bahwa ujian ini porsinya tidaklah banyak, melainkan hanya sedikit. Dan bagi orang-orang yang sabar akan disuguhi kabar gembira yang tak dapat ditakar.

Setelah kita mengeja jejak dan membaca segala yang disuguhkan di alam semesta, kini saatnya kita memaknai langkah dan mengarahkannya pada ujung yang indah. Dua paragraf sebelumnya telah mengajari kita untuk mengeja syukur dan sabar. Keduanya bagaikan langkah yang selalu beriringan dalam kehidupan. Jika hanya menapaki jejak syukur saja tanpa mengiringinya dengan tapak langkah sabar, maka rasanya ada yang kurang dan timpang. Memaknai langkah bisa kita artikan sebagai sebuah proses ikhtiar dalam menjalani kehidupan yang bermakna. Tidak cukup kalau hanya bermakna untuk diri sendiri saja, tetapi kita pun harus mengusahakan agar menjadi insan yang bermakna untuk banyak orang serta mampu hidup untuk menghidupkan orang lain.

Semoga dengan mengeja jejak dan memaknai langkah ini bisa menjadi bekal bagi kita dalam mengarungi samudera kehidupan yang ombaknya tak selalu tenang. Hingga nantinya kita akan diperjalankan oleh-Nya menuju ujung yang indah, yaitu ketika Dia memanggil kita dengan mesra: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30). Sungguh inilah sebuah ujung perjalanan yang indah dan senantiasa dinantikan oleh setiap dari kita.


Sabtu, 28 Januari 2023

BEBEK DAN MASKER

BEBEK DAN MASKER


Kecamatan Gambut yang terletak di kabupaten Banjar provinsi Kalimantan Selatan menyimpan pesona yang indah. Di sini masih banyak satwa liar yang hidup berdampingan dengan para warga. Banyak burung yang berkicau merdu di dahan-dahan pohon. Suasana menjadi sunyi karena para siswa tak lagi di asrama. Kami tinggal di lingkungan sekolah berasrama, jadi sangat wajar jika kesunyian ini terasa begitu asing. Sebelum pandemi melanda negeri ini lingkungan sekolah kami selalu ramai. Para siswa hilir mudik dengan berbagai aktivitasnya. Kini hanya ada suara desir angin dan dedaunan yang luruh ke bumi.

Pembatasan aktivitas dan pemberlakuan jaga jarak memaksa kami terus berdiam diri dalam sunyi. Salah satu hiburan kami adalah bermain bersama anak-anak kecil di dekat lingkungan kami. Hampir setiap hari anak-anak ini datang ke rumah sambil berteriak menyuarakan kalimat pamungkas.

“kakak, kami datang! Boleh main di luar?”, kata Sami

“kita main di dalam rumah saja ya, kakak mau memasak dulu”, kataku

Akhirnya Sami dan adiknya mau masuk ke dalam rumah dan bermain bersama. Setelah beberapa menit berlalu mereka mulai bosan. Aku pun berinisiatif untuk mengambil laptop dan menyalakannya. Perlahan aku mulai mencari video dongeng yang pernah aku buat. 

“oke deh, sekarang kakak putarkan video dongeng ya. Sini duduk yang rapi!” Mereka pun mulai menikmati dongeng tersebut, sesekali mereka tertawa, berteriak, dan saling memperdebatkan para tokoh yang dikisahkan dalam dongeng.

Dongeng tersebut menceritakan tentang bebek, ayam, dan burung. Ketiga hewan ini sama-sama memiliki sayap. Tapi tidak semua dari mereka mampu terbang. Hanya sang burung yang mampu terbang dengan sayapnya. Hal itu menjadikan bebek dan ayam bersikeras ingin bisa terbang. Sekali, dua kali, tiga kali hingga berkali-kali berlatih keduanya masih saja tak bisa terbang.

“wek wek wek, wek wek wek” suara bebek mengeluh karena telah lelah berlatih terbang.

Tiba-tiba dongengnya diberhentikan oleh Sami. Dia protes tentang suara bebek.

“kakak, kenapa suara bebek seperti itu” kata Sami

“suara bebek kan memang seperti itu”, kataku menimpali

“suara bebek tidak seperti itu kak!” Sami ngotot tak mau kalah

“kalau begitu menurut Sami suara bebek itu bagaimana?”

“kakak dengarkan Sami baik-baik ya”

Aku pun hanya bisa diam dan menganggukkan kepala memperhatikan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Nah sudah mirip baris-baris teks proklamasi. Aku kembali fokus memperhatikan Sami yang mulai mempresentasikan temuannya.

“sini kak, dengarkan Sami! Suara bebek itu seperti ini…”

Ada-ada saja anak ini membuat kakaknya penasaran. Bukankah suara bebek memang wek wek wek seperti stiker whatsapp yang digunakan orang-orang untuk mengekspresikan tawa. Oke, kita dengarkan lagi kira-kira Sami mau bilang apa.

“suara bebek itu oek, oek, oek”

Sontak aku langsung tertawa mendengarkan suara bebek Sami. Hahaha

“kakak nggak boleh tertawa, kalau Sami bicara nggak boleh diketawain”

Hampir saja Sami ngambek dan marah. Perlahan tawaku mulai mereda saat aku mengingat kembali bahwa ‘bebek’ dalam bahasa Turki itu memiliki makna ‘bayi’. Akhirnya aku paham kenapa Sami mengoreksi suara bebek yang aku buat dalam dongeng.

Sami adalah tetangga kami yang berkebangsaan Turki. Saat ini dia duduk di kelas 1 sekolah dasar di daerah Kalimantan Selatan. Perbedaan bahasa sering kali memunculkan kisah lucu yang mengundang gelak tawa. Kisah tentang bebek ini pun sudah sering aku dengar dari teman-teman semasa kuliah di Semarang dulu. Temanku ini adalah mahasiswa asing dari Turki. Dia pernah bercerita tentang pengalamannya berkunjung ke sebuah warung makan. Saat membaca menu yang disediakan dia merasa takut dan tak habis pikir. Kenapa orang Indonesia suka makan bebek goreng. Begitulah makna yang mereka tangkap adalah bebek itu bayi. Lama kelamaan mereka mulai memahami bahwa bebek adalah nama sejenis unggas yang biasa disantap bersama nasi, bisa berupa bebek goreng, bebek bakar, dan lain sebagainya.

Saat mengingat kisah semasa kuliah dulu aku pun iseng bertanya kepada Sami. Apakah dia pernah makan bebek goreng? Ternyata responnya sangat lucu, raut mukanya perpaduan antara takut dan marah. Hal ini membuatku tertawa lagi dan lagi.

Dari kisah bebek ini kita bisa memetik hikmah. Jadi hikmah adalah sejenis buah yang bisa dipetik. Dia bisa tumbuh di mana saja tapi hanya orang-orang spesial yang mampu meraih dan memetiknya. Hikmahnya adalah kita harus lebih teliti dan hati-hati dalam berkomunikasi. Baik terhadap lawan bicara dari mancanegara maupun teman satu negara. Ketika kesalahan persepsi kita mengundang kelucuan akan sangat menghibur dan kita menjadi awet muda karena tertawa. 

Namun bagaimana jika kesalahan persepsi kita justru mendatangkan bencana? Karena sesungguhnya komunikasi itu hal yang sering kita lakukan namun terkadang ilmu kita masih sangat kurang. Kesalahan pelafalan dalam bahasa asing bisa mencipta makna baru, kesamaan pelafalan pun bisa menghadirkan makna baru jika konteksnya berbeda. Kita semua tahu bahwa negara kita tercinta Indonesia memiliki beragam bahasa dan budaya. Sudah sepatutnya kita terus belajar mengenal negeri ini dan menjadikan beragam perbedaan sebagai kekayaan yang harus dijaga. Sehingga nantinya benih-benih keragaman ini menumbuhkan jiwa-jiwa toleransi, saling memahami, dan saling menghargai untuk menghasilkan buah keragaman yang indah dan mempesona.

Selain kisah tentang bebek, aku juga ingin berbagi tawa dan menebar kisah lucu lainnya. Semoga hari-hari kita dipenuhi dengan kebahagiaan dan gelak tawa.

Apakah kalian mengenal masker? Nah betul sekali masker yang biasa kita pakai di wajah pada malam hari agar kulit wajah kita lebih sehat dan cerah memancarkan keindahan. Tapi bukan masker yang itu, di masa pandemi ini tentunya kita lebih akrab dengan masker kesehatan. Terkadang masker menjelma topeng yang menyamarkan wajah pemakainya hingga sulit dikenali. Segala ekspresi wajah pun sulit ditebak, apakah ia sedang tersenyum, manyun, atau memiringkan mulutnya. Oke, tidak perlu dipraktikkan dengan menggerak-gerakkan mulut seperti ini. Aku tahu ekspresi itu sulit untuk ditangkap indera penglihatan karena masker telah melekat rapat.

Industri kreatif rumahan mulai menjamur. Meski jarak mulai dibatasi dengan ketat, inovasi dan kreativitas tetap bisa berlarian tanpa batas. Hadirlah masker dengan berbagai motif, mulai motif beraneka warna, bunga-bunga, hingga motif wajah. Sekali lagi masker berhasil menyamarkan ekspresi wajah penggunanya. Beraneka motif wajah mulai membanjiri pasar, motif tersenyum, wajah tokoh, dan lain sebagainya menjadikan penggunanya bak manusia bertopeng yang sedang menyamar. Di sepanjang jalan banyak wajah-wajah bertopeng yang bersembunyi dari musuh terbesar abad ini, virus korona.

Sampai di sini ada yang sudah bisa menemukan kelucuan dari kisah masker ini? Mari kita renungkan betapa lucunya kisah lucu yang tak menyimpan kelucuan. Dan izinkan aku tertawa atas ketidak lucuan ini. Baiklah, kalian masih mau lanjut menyimak kisah ini atau tidak? Meski sebenarnya tanpa persetujuan kalian, kisah ini akan tetap aku tuntaskan.

Ada beberapa cara memakai masker yang cukup menggelitik. Di sebuah postingan temanku sedang menikmati makan siang di sebuah tempat makan. Pandangan mataku tertuju pada bando yang bersarang di atas kepalanya. Setelah lama mengamati dan memperbesar gambar, akhirnya tampak jelas bahwa benda yang tak asing itu bukanlah bando melainkan masker yang dipasang di atas dahi. Mungkin niatnya agar masker tidak kotor dan tidak tergeletak sembarangan. Lambat laun masker bando ini mulai merebak ke mana-mana. Entah siapa yang mengawalinya kini beberapa orang tak lagi canggung mengalihfungsikan masker menjadi bando. 

Gaya terbaru yang mulai digandrungi kawula muda, bahkan emak-emak adalah kalung masker. Jika sebelumnya dunia permaskeran diramaikan dengan pengait masker, kini kreativitas semakin meningkat dengan hadirnya kalung masker. Mungkin kalung masker ini akan sangat cocok bagi mereka yang sering kali lupa memakai masker ketika bepergian. Namun apa jadinya jika si pemakai masker ini orang yang pelupa? Dia akan kebingungan mencari maskernya yang entah di mana. Sampai akhirnya teman di sebelahnya menepuk bahunya dan berkata:

“kamu lagi nyari apa?”

“tahu nggak di mana maskerku?

“entahlah, yang aku lihat hanya kalung unik nan elegan yang bergelantungan di lehermu, hahaha”

“astaga, dari tadi maskernya aku kalungin ternyata, hahaha”

Begitulah perjalanan masker yang menjelma jadi topeng, bando, dan kalung. Semoga si masker tetap mengingat jati dirinya, yaitu menjadi wasilah penyaring udara yang akan dihirup penggunanya. Jika udara dari luar saja harus disaring agar kita dapat menikmati udara bersih, lantas bagaimana dengan ucapan dan kata-kata yang keluar dari mulut kita? Sudahkah ia disaring agar angin sejuk yang berupa pendapat dan nasihat dapat menyejukkan hati pendengarnya? Semoga masker yang melekat erat menutup mulut dan hidung kita dapat menjadi wasilah bagi kita untuk menyaring dan menghias tutur kata yang sejuk dan meneduhkan.

Sekian kisah lucu yang menyimpan misteri kelucuan. Mari kita tertawakan diri kita sendiri atas kelucuan yang tidak disadari maupun ketidak lucuan yang ditertawai. Karena sejatinya di setiap detak jantung dan hembus nafas kita selalu dipenuhi kelucuan. Lucunya diri yang tak menyadari kesalahan, lucunya diri yang enggan berbenah, dan lucunya diri yang tak mengakui kefanaan.


Senin, 16 Januari 2023

TERUS MENGAYUH PANTANG MENGELUH

TERUS MENGAYUH PANTANG MENGELUH

Oleh: Nurul Hidayah


Hidup harus terus dijalani dengan syukur tak bertepi dan sabar tanpa tapi. Dua ribu dua puluh dua menjadi tahun yang penuh pelajaran berharga serta kenangan yang tidak mudah dilupa. Bercerita tentang perjuangan hidup seorang insan tak akan pernah sampai pada ujungnya hingga dia kembali pulang menghadap Tuhannya. Syukur dan sabar adalah anak tangga kehidupan yang kita naiki dari hari ke hari. Syukur dan sabar bagaikan dua roda kehidupan yang berputar beriringan meniti jalan panjang perjuangan.

Saat dihadapkan pada gejolak perubahan kita berada di persimpangan jalan. Sebelah kanan adalah masa depan yang menghadirkan perubahan penuh tantangan. Sedangkan sisi kiri menyuguhkan pentas kenangan masa lalu yang tak akan kembali bertemu. Lantas jalan manakah yang akan kita tuju? Sang pejuang tak akan gentar menghadapi tantangan. Namun dia yang kurang persiapan akan gemetar menapaki lika-liku kehidupan.

Enam bulan telah berlalu, satu semester telah ditempuh, sejauh itu jalan yang kita lalui tanpa henti. Ketika bulan Juli hadir menyapa, kita tak ubahnya seekor anak merpati yang baru menetas. Perlahan membuka mata dan menelisik semesta. Dua pekan berlalu, namun tak banyak hal yang ia tahu, langkahnya masih tertatih menapaki jalan baru yang berliku, sayapnya tak cukup kuat untuk mengepak melintasi cakrawala. Namun, langkahnya terus dipacu, sayapnya terus mengepak tanpa jemu. Begitulah kita ketika memasuki episode tahun ajaran baru.

Seiring berjalannya waktu, perlahan langkah kita dikuatkan, detik demi detik hati kita dimantapkan, karena sebuah pilihan harus dijalani tanpa tapi. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah sedang berlangsung. Berbagai macam manusia disatukan di bawah atap yang sama. Mereka memiliki satu cita dan satu asa yang sama berharap dimampukan meniti jalan panjang perjuangan. Meski perbedaan menyelimuti, kebersamaan dan satu asa menyatukan langkah mereka.

Saling memahami dan saling menghargai menjadi sepasang sayap yang mengantarkan kita terbang menuju kesuksesan. Berbagai macam ide dari dua puluh kepala perlahan tumbuh pada tangkai-tangkai harapan. Satu per satu ide diwujudkan dalam aktivitas sosial yang penuh manfaat. Saling bahu membahu mensukseskan terwujudnya gagasan mulia. Kebersamaanlah yang hingga kita senantiasa menguatkan kita. 

Berbagai macam ujian perlahan mampu kita taklukkan. Belajar bersama, merenungi kebesaran-Nya, dan meniti jalan yang diridhoi-Nya.sebuah ujian yang datang adalah sebuah keniscayaan. Selama jantung masih berdetak, selama itu pula ujian hadir tak boleh tidak. Dengan adanya ujian, kita diajari untuk senantiasa mempersiapkan diri mengumpulkan bekal untuk dibawa menuju jalan pulang.

Kini semester baru telah menyapa dan menghadirkan banyak cerita. Sudah selayaknya kita kembali menata hati dan menguatkan langkah ini. Bekal selama enam bulan sudah cukup untuk menopang langkah baru. Kembali berjuang mendidik generasi muda dengan semangat yang menggelora. Kembali meniti jalan pengabdian yang berliku. Kembali pulang mengisi bekal semangat dan menyebarkan semerbak wangi cinta pada ilmu dan amal. Begitulah jalan perjuangan ini harus dilanjutkan. Tentunya dengan bekal dan persiapan yang matang. Kembali menata hati, kembali melangitkan mimpi-mimpi.


Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya

  Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...