Selasa, 23 Agustus 2016
puisi_TAFAKKUR ALAM
TAFAKKUR ALAM
Langit biru terbentang tiada bertepi
Awan putih berarak ikuti arah angin berhembus
Di lereng Sumbing yang indah permai
Kami langkahkan kaki menuju damai
Puncak gunung terselimuti kabut
Dinginnya udara pun kian menusuk
Semangat kami kian berkobar
Ditemani hembusan angin
Yang mengalunkan senandung rindu
Ilalang-ilalang ikut bernyanyi
Iringi langkah kami yang kian pasti
Semak belukar ikut menuntun langkah kami
Ranting-ranting cemara kami jadikan tongkat
Di bawah teduhnya dedaunan rimba
Kami senandungkan lagu cinta
Alam menjadi sahabat sekaligus rumah bagi kami
Semakin tinggi kaki ini berpijak
Semakin tak kuasa mulut ini suarakan takjub
Gunung-gunung menjulang tinggi
Pepohonan rapi bagai permadani
Nan jauh di ujung tertinggi
Edelwis hentikan langkah kami
Tangan ini berusaha meraihnya
Namun alam tak mengijinkannya
puisi_PINJAMI AKU KUASAMU
PINJAMI AKU KUASAMU
Kaki ini tak kuasa tuk melangkah
Tanpa titipan kuasaMu
Mulut ini tak mampu berucap
Tanpa alunan suaraMu
Hati ini tak dapat merasa
Tanpa pinjaman rasaMu
KuasaMu melebihi segalanya
KehendakMu tak terbantahkan
Pinjami diri ini rasaMu
Agar diri ini dimampukan tuk selalu bersyukur
Pinjami diri ini kuasaMu
Agar diri ini dimampukan tuk bekerja keras
Pinjami diri ini kehendakMu
Agar diri ini dimampukan tuk terus bermimpi
Dan pinjami diri ini sifat agungMu
Agar diri ini dimampukan tuk bersabar
TanpaMu apalah artinya aku
Aku ada dalam ketiadaan
Dan aku tiada dalam keberadaan
Pesan Teruntuk Pelangi Senja
Tinggal menghitung jam, bulan Syawal akan segera berlalu..
Sedikit senyuman mulai mengembang, rasa syukur terpanjatkan,
Kita tlah lalui "bulan peningkatan" ini dengan pencapaian2 yg positif,
Namun, senyum itu belum dimiliki Pelangi Senja..
sang pelangi masih bermukim di sudut jalan,
masih mencari jawab..
mulai memungut serpihan jawab..
Usia Pelangi Senja beranjak dewasa..
Bulan depan, ya.. bulan depan adalah bulan peringatannya..
#1_Dzulqodah
Akankah pertambahan usia ini akan membuat warna menjadi semakin terang? Ataukah warna pelangi akan terus memudar seiring terbenamnya mentari?
Pesanku teruntuk Pelangi Senja:
Meski kehadiranmu adalah penantian panjang..
Ingatlah bahwa warnamu akan memudar bersama sang surya yang mulai terpejam..
Di senja hari kau hadir dengan senyuman..
Seluruh makhluk memandangimu, memuja indahnya warnamu..
Tapi kau, ya.. kau Pelangi Senja..
Kehadiranmu di senja hari memberi harapan..
Pagi dan siang seolah tak terpandang..
Karena makhluk sibuk dengan penantian panjang..
Apa kau rela biarkan alam menangis untuk yg kesekian kali???
Apa kau rela, mentari pun ikut nenantimu di ufuk barat???
Karena tangisan alam dan kesucian cinta mentari
Ya,, karena mereka kau dapat terlahir di bumi..
Alam rela menangis, dalam setiap sujudnya ia panjatkan do'a kiranya Tuhan berkenan hadirkan pelangi untuknya..
Cinta mentari menjadi sumber kekuatan,
Sinarnya yg agak redup di kala senja selalu memberi keteduhan..
Alam hanya mampu menangis, berdo'a dalam setiap sujud malamnya..
Dalam harapnya, alam hanya inginkan hadirnya Pelangi..
Tiap butir air matanya adalah do'a..
Tangisan alam tiada pamrih..
Namun, dalam lubuk hatinya.. alam inginkan pelangi bersinar,,
Warnanya terbentang menghiasi bumi..
Mentari hadir tanggalkan teriknya..
Mentari hanya sisakan redup sinarnya yang teduh..
Kesucian cinta mentari adalah sumber kekuatan pelangi..
Meski di senja hari hadirnya tak kan lama,
Pelangi berusaha berikan warna terindahnya..
Hingga tersimpan sebuah sejarah..
Senja hari menjadi saksi betapa dalamnya rasa ini..
Tiga makhluk Tuhan yang saling memberi..
Makhluk yang saling berkorban..
Yang menanggalkan ego..
Yang berkomitmen dalam ikatan cinta..
Akankah sejarah ini terus bersemi bersama mimpi?
Ataukah ia kan memudar mengiringi mentari..
Mentari yang tak lama lagi kan pergi..
Berpulang ke tempat pembaringannya di ufuk barat..
Menghadap Tuhan untuk selamanya..
#Barakallah_fii_umrik Nuhid Nurul Hidayah(Pelangi Senja)
#Syukran_katsiir mentari senja yg dalam redup sinarnya selalu beri keteduhan, #Bapak the best friend whose I have.. bagiku kau adalah teman terbaikku bapak,, setiap gerakmu adalah pedoman langkahku, setiap ucapmu adalah janji suciku
#Syuran_katsiir #Ibuk tangismu adalah cerminku, keikhlasan do'amu adalah senjataku dalam berperang
Maafkan anakmu ini,
Kami sering lalai akan cintamu..
Cinta suci tanpa pamrih..
Ya,, cinta kalian melebihi segalanya..
Terkadang kami lalai akan rasa ini, rasa cinta ini..
Kalian adalah orang yg paling pantas mendapat curahan cinta dan bakti dari kami..
Maafkan kami, anakmu yang hatinya sering dibutakan oleh pesona dunia..
Tanpa sadar kami mendua..
Tanpa sadar cinta kami kpd kalian mulai menyusut..
Rasa cinta ini sering kali berkelana dari hati ke hati..
Beribu argumen mencoba menguatkannya..
Katanya masa muda adalah masa paling indah..
Katanya jangan sia-siakan masa mudamu..
Katanya carilah pengalaman sebanyak yang kamu kehendaki..
Dia bilang carilah pengalaman dalam bercinta..
Katanya agar hidupmu menjadi indah..
Tapi mengapa????
Mengapa dia tidak berkata..
Berkata bahwa, jodoh pasti bertemu..
Berkata bahwa cinta ayah ibu adalah segalanya, cinta suci tanpa pamrih..
Berkata bahwa kita harus hati-hati dengan hati..
Berkata jangan sering bermain hati jika tak ingin tersakiti..
Berkata bahwa ayah ibu tak ingin diduakan sebelum masanya..
Berkata bahwa cinta mereka tak akan pernah dapat terbayar..
Karena sangat besarnya rasa cinta itu...
#siapakah_dia?
siapa yang berkata demikian?
benarkah dia adalah hati,
hati yg masih suci,
ataukah dia adalah nafsu?
nafsu yg memuja keindahan semata..
nafsu yg mengejar kepuasan belaka...
NEGERI PARA PUTERI SHOLIHAH
NEGERI PARA PUTERI SHOLIHAH
Mentari mulai bergerak turun ke laut untuk mandi. Daun nyiur melambai-lambai diterpa angin laut. Langit jingga membentang di cakrawala. Desir ombak melantunkan senandung rindu. Pasir putih terhampar luas dari ujung tepian pantai yang permai. Burung-burung bangau terbang dalam koloninya, mengabarkan bahwa petang akan menjelang. Mentari pun akan diantarkan senja menuju peraduan. Zahra masih duduk di tepian pantai, dia tak acuh pada kakinya yang kedinginan diterpa ombak silih berganti. Beberapa sahabatnya telah berkemas untuk pulang, tetapi Zahra masih terpaku mengenang masa itu. Sunset di penghujung senja ini membuatnya semakin tenggelam dalam lamunan. Bayang-bayang ibundanya selalu menemaninya dalam sepi. Senyum manis yang tersungging di bibir ibundanya adalah penyemangat hidup Zahra. Tak pernah sekalipun senyuman itu lupa menyapanya. Ibundanya adalah muslimah sejati, ibu yang bijaksana, dan sahabat setia bagi Zahra. Kini semua masa-masa indah bersama bunda tinggallah kenangan. Kenangan yang terukir abadi dalam lubuk hati Zahra.
Pada senja yang sama, langit mulai menjingga. Awan-awan berarak perlahan mengikuti hembusan angin. Pasir putih terhampar luas di tepi pantai. Segerombol anak sedang bermain pasir, mereka membuat istana pasir yang indah. Kebersamaan dalam suka cita, riuhnya tawa mereka menambah indahnya pesona pantai di kala senja. Beberapa anak sedang bermain bola, ramai sekali. Sedangkan keluarga Zahra masih asyik bersepeda keliling pantai. Setiap akhir pekan, keluarga ini selalu menyempatkan untuk berlibur ke pantai. Ayah, bunda, Zahra, dan ketiga adiknya sedang asyik bersepeda. Mereka saling berboncengan dengan menaiki tiga buah sepeda. Si bungsu selalu dibonceng Ayahnya. Namun, hari ini ada sesuatu yang berbeda. Sang ayah sedang memboncengkan wanita cantik berhijab biru laut dan bergamis putih keperak-perakan. Seulas senyum tersungging di bibir wanita anggun ini. Dia adalah bunda. Tak biasanya bunda minta dibonceng ayah. Hari ini kebahagiaan bunda seolah telah sempurna. Dikelilingi keluarga bahagia, suami yang bijaksana, dan empat anak gadis yang cantik-cantik. Petang pun mulai menjelang, si bungsu sedari tadi merengek minta pulang. Dalam gendongan ibundanya dia masih saja merengek. Keluarga Zahra pun berkemas dan segera pulang ke rumah. Mentari telah menanggalkan teriknya. Siluet senja tinggalkan bayang-bayang kebahagiaan yang tak lama lagi menjadi kenangan.
Di kala petang menjelang, cahaya bulan bersinar terang, ditemani bintang-gemintang yang berkilauan. Dinginnya angin malam tak dirasa oleh Zahra dan adik-adiknya. Mereka sedang tenggelam dalam hangatnya dongeng malam sang bunda. Tiap malam menjelang tidur, bunda selalu berkumpul bersama keempat anak gadisnya di beranda rumah sambil menikmati temaram cahaya rembulan. Bunda selalu membawakan kisah “Negeri Para Putri Sholihah”. Zahra dan adik-adiknya menyimak rangkaian kisah sang bunda dengan penuh perhatian. Kisah ini menceritakan kehidupan muslimah sholihah yang tenggelam dalam ketaatannya kepada Sang Pencipta. Sosok muslimah teladan yang berparas menawan, bertutur kata lembut, dan memegang teguh prinsip dalam beragama. Kelak sosok para muslimah sejati inilah yang bersemayam pada diri Zahra dan ketiga adiknya, serta muslimah-muslimah lainnya yang melabuhkan cinta mereka kepada Rabb-nya. Diam-diam Zahra selalu menyalin tiap kisah sang bunda dalam buku binder jingganya. Sebelum merebahkan diri di atas ranjang tidurnya, Zahra selalu menyempatkan untuk menulis dan muhasabah diri.
Zahra segera beranjak dari tempat duduknya. Ujung gamisnya telah dipenuhi pasir putih. Desir ombak pun membuatnya basah. Pantai telah sepi, para pengunjung berangsur-angsur meninggalkan pantai. Mentari telah tenggelam di ujung lautan. Zahra mulai melangkah menapaki pasir putih di tepian laut, desir ombak menyapu bekas tapak kakinya. Derap langkahnya kian pasti menapaki kehidupan ini. Seulas senyum tersungging menyiratnya kebahagiaan. Dia memang sedang bahagia karena semua sumber kebahagiaannya bermula dari sini, pantai.
Pagi masih menyisakan bekas-bekas sunyi. Embun pagi enggan terpisah dari rerumputan. Mentari pun enggan menampakkan sinarnya. Ia masih bersembunyi di balik awan. Awan yang kelabu menjadikan pagi ini semakin sendu. Tetesan embun pun mewakili kesedihan Zahra. Dia dan ketiga adiknya duduk terpaku di sudut ruang tamu. Seisi rumah dipenuhi para pelayat. Lantunan surat Yasin menggema ke penjuru rumah. Tubuh bunda telah terbujur kaku di tengah ruangan. Seulas senyum di bibirnya memberi kabar gembira bahwa dia berpulang ke pangkuan Ilahi dengan bahagia dan damai. Zahra sadar bahwa kebersamaannya dengan sang bunda tak akan bertahan lama. Ketika takdir Tuhan telah dititahkan, dia harus siap untuk melepas kepergian ibundanya dengan penuh keikhlasan.
Dua tahun terakhir bunda didiagnosa mengidap anemia. Tingkat kekebalan tubuhnya semakin hari semakin menurun. Di saat sang bunda merasa tak sanggup lagi bertahan, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama keempat anaknya. Kebiasaan bunda dalam mendongeng pun semakian intens. Dulu, bunda mendongeng hanya di kala petang sebagai tiket pengantar tidur putrinya. Akan tetapi, sekarang hampir setiap waktu bunda mendongeng untuk putri-putrinya. Kisahnya pun masih tetap sama, “Negeri Para Putri Sholikhah”. Yang membuatnya terasa berbeda adalah tiap kali menyimak kisah ini bukan senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah putrinya. Melainkan kesedihan yang terbalut dalam tangis. Andai waktu dapat terulang, Zahra ingin selalu berada di samping bundanya. Tapi apa mau dikata, sejak sang ayah ditugaskan di luar kota. Zahra sering bolak-balik mengunjungi sang ayah dan membawakannya rantang yang berisi masakan bundanya. Meski terpisah jarak yang cukup jauh, bunda tak pernah letih membuat masakan kesukaan suaminya. Takdir Tuhan pun membawa Zahra terbang ke kota di mana ayahnya ditugaskan. Di kota ini, Zahra mendapatka beasiswa kuliah S1 jurusan Sastra Indonesia di salah satu universitas ternama. Selama Zahra dan ayah bermukim di luar kota, ketiga adiknyalah yang setia menemani sang bunda. Kini kebersamaan yang selalu menghiasi akhir pekan mereka tinggallah kenangan manis. Sebulan sekali Zahra dan ayahnya menyempatkan untuk pulang kampung menghabiskan waktu liburan bersama keluarga. Seperti biasa tempat favorit yang mereka tuju untuk berlibur adalah pantai. Namun, siapa yang menduga kalau liburan mereka kali ini adalah liburan terakhir bagi sang bunda. Zahra tak ingin jauh-jauh dari bundanya. Sehari penuh keluarga ini bermain di pantai. Ayah bermain bulu tangkis bersama anak keduanya. Anak ketiga dan si bungsu asyik bermain pasir. Sementara Zahra dan bundanya menikmati gemericik ombak di tepian pantai. Ketika langit menjadi jingga, bunda mengatupkan kedua matanya menikmati panorama senja dengan sunset yang indah sempurna.
Sore ini bunda banyak bercerita tentang masa mudanya. Zahra terpaku menyimak kisah bundanya. Bunda dan ayah bertemu untuk pertama kalinya di pantai ini, begitu bunda mengawali cerita. Di bulan yang penuh rahmat, di mana di antara malamnya tersembunyi malam yang agung. Para malaikat turun ke bumi, sayap-sayap indahnya tebarkan rahmat. Di penghujung senja, para peserta Pesantren Kilat sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Ayah Zahra sibuk mengipas-ngipas ikan bakar, beberapa teman perempuannya menyiapkan sup buah. Beberapa teman lelaki masih mengolah ikan. Saat itu bunda kebagian tugas membuat bumbu ikan bakar. Karena terlalu banyak bawang merah yang harus diiris, mata bunda menjadi berkaca-kaca dan lama kelamaan bunda menitikkan air mata. Bersamaan dengan itu, ayah mengukurkan sapu tangan biru laut untuk bunda. Zahra sudah bisa menebak kelanjutan dari kisah ini, senyum yang tersungging di bibir bunda menandakan kebahagiaan yang tak bertepi. Pasti kisah itu adalah awal mula jalinan kasih antara bunda dan ayahnya , pikir Zahra.
Sepeninggal bundanya, Zahra yang merupakan anak sulung menjadi kakak sekaligus ibu bagi adik-adiknya. Sifat bundanya yang bijaksana dan penyayang diwarisi oleh Zahra. Kepada adik-adiknya dia tak pernah membeda-bedakan dalam hal kasih sayang. Dia pun mengajari adik-adiknya untuk berbakti dan menghormati ayahnya, serta mengajak adik-adiknya untuk berziarah ke makam bundanya. Tak lupa, dia selalu panjatkan do’a di setiap sujudnya. Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti keluarganya dan semoga kelak keluarganya dapat berkumpul kembali di surga bersama sang bunda. Sepeninggal bundanya pula, ayah memutuskan untuk memboyong putri-putrinya ke kota tempat dia bekerja. Ayah membeli rumah sederhana di kompleks perumahan. Dia sengaja mengecat dinding rumah dengan cat warna biru laut, warna kesukaan dia dan istrinya. Halaman rumah ditata sedemikian rupa menyerupai pantai. Karang-karang laut yang diperolehnya dari pantai berjejer rapi melingkari pagar bambu. Zahra menambahkan tanaman-tanaman bunga aneka warna yang indah.
Zahra menyelesaikan masa-masa kuliahnya tepat waktu. Selama kuliah dia aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) Racana, Mahapala, dan Pers Mahasiswa. Kesibukannya kuliah yang saban hari selalu bergelut dengan sastra mengantarkannya menjadi seorang penulis dan penyair yang disukai para penggemarnya. Karyanya yang paling fenomenal adalah novel yang berjudul “Negeri Para Putri Sholihah”. Judul itu dia ambil dari dongeng malam bundanya yang dibumbui kisah-kisah menarik seputar kehidupan. Selesai kuliah, dia bekerja sebagai reporter di salah satu stasiun televisi swasta. Zahra juga menyulap rumah lama keluarganya menjadi taman baca yang tak pernah sepi pengunjung. Sepekan sekali Zahra mengisi kelas mendongeng di taman baca tersebut. Pada hari-hari biasa, yang bertanggung jawab mengelola taman baca adalah adik-adiknya. Taman baca ini semakin ramai pengunjung, terlebih ketika ada agenda “Tinta Sastra”. Acara ini adalah agenda bulanan taman baca di mana para penyair dan sastrawan berkumpul dan berbagi ilmu tentang penulisan sastra.
Berbeda dengan bundanya yang menemukan cinta di pantai, Zahra justru menemukan cintanya di puncak gunung di antara rimbunnya edelwis. Ketika aktif di UKM Mahapala, Zahra dan teman-temannya berkesempatan menaklukkan puncak tertinggi kedua di pulau Jawa, yaitu puncak gunung Sumbing. Selama tiga hari dua malam, anak-anak Mahapala menghabiskan liburan semester di kota Wonosobo. Setelah puas menikmati objek wisata di Dieng, mereka memacu adrenalin dengan menaiki gunung Sumbing. Sepuluh personil Mahapala berusaha menaklukkan puncak Sumbing. Pepohonan rimba yang tumbuh liar di kaki gunung tak menyurutkan langkah mereka. Setelah mencapai puncak, para personil Mahapala ini dibuat takjub oleh keindahan lukisan tangan Tuhan. Ketua tim segera mengibarkan sang Merah Putih di puncak Sumbing diiringi lagu Indonesia Raya yang mengalun syahdu. Beberapa bait puisi pun dilantunkan serang pemuda sambil menatap Zahra.
“Langit biru terbentang tiada bertepi, Awan putih berarak ikuti arah angin berhembus
Di lereng Sumbing yang indah permai, Kami langkahkan kaki menuju damai
Puncak gunung terselimuti kabut, Dinginnya udara pun kian menusuk
Semangat kami kian berkobar, Ditemani hembusan angin
Yang mengalunkan senandung rindu, Ilalang-ilalang ikut bernyanyi
Iringi langkah kami yang kian pasti, Semak belukar ikut menuntun langkah kami
Ranting-ranting cemara kami jadikan tongkat, Di bawah teduhnya dedaunan rimba
Kami senandungkan lagu cinta, Alam menjadi sahabat sekaligus rumah bagi kami
Semakin tinggi kaki ini berpijak, Semakin tak kuasa mulut ini suarakan takjub
Gunung-gunung menjulang tinggi, Pepohonan rapi bagai permadani
Nan jauh di ujung tertinggi, Edelwis hentikan langkah kami
Tangan ini berusaha meraihnya, Namun alam tak mengijinkannya”
Pemuda yang dulu mengutarakan cinta lewat bait-bait puisi, kini dia telah menanti Zahra di bawah pohon nyiur sambil menggendong buah cintanya dengan Zahra. Cinta siapa yang tahu kapan datangnya dan kepada siapa ia melabuhkan hati. Zahra berjalan perlahan menghampiri suami dan anaknya. Pohon nyiur dan siluet senja menjadi saksi kebahagiaan Zahra. Sang suami pun segera membiarkan buah hatinya di dekap sang bunda. Zahra duduk di samping suaminya, putrinya tertawa menggemaskan di pangkuannya. Mereka bertiga tersenyum bahagia menatap sunset.
Rabu, 06 Januari 2016
cerpen DI BALIK BAJU TOGA
DI BALIK BAJU TOGA
Langit jingga menghiasi kampus Universitas Negeri Semarang yang
sedang ramai menghelat acara wisuda. Semua mahasiswa berhamburan keluar dari
auditorium Universitas Negeri Semarang. Di sayap kanan auditorium, terlihat
sekelompok wisudawan yang sedang duduk melingkar. Mereka adalah
wisudawan-wisudawan terbaik Prodi Pendidikan Bahasa Arab. Ridlo adalah
wisudawan terbaik Fakultas Bahasa dan Seni sekaligus aktivis kampus. Dia
bersama teman-teman seperjuangannya, Nurul, Aesyi, Ulfa, Faizun, Zaen, dll
sedang membahas rencana ke depan setelah lulus dari UNNES. Mereka juga
bernostalgia, mengenang masa-masa saat mereka masih bersama menempuh studi di
Prodi Pendidikan Bahasa Arab. Memori mereka berjalan mundur membayangkan
bagaimana mereka dulu dipertemukan di prodi PBA, bagaimana mereka menjalani
hari-hari bersama, dan bagaimana mereka dengan latar belakang daerah, adat,
bahasa, dan sekolah yang berbeda mampu menyamakan tujuan, berjalan beriringan,
saling berbagi, dan melangkah maju meraih mimpi.
Empat tahun yang lalu. Gedung B4 yang menjulang tinggi menjadi
saksi bisu, tempat para mahasiswa belajar bahasa asing. Saat mentari mulai
meninggi, Ridlo beranjak dari kos menuju kampus konservasi. Setibanya di
kampus, pandangan matanya tertuju pada pamflet yang terpajang di mading HIMA
BSA. Pamflet open recruitmen fungsionaris HIMA BSA tak jemu dipandangnya. Dalam
benaknya, ia membayangkan jika nanti ia akan menjadi bagian dari fungsionaris
HIMA. Lamunannya pun seketika buyar saat
Nurul menyapa dan mengajaknya masuk kelas. Sebelum masuk kelas, Ridlo memotret
pamflet tersebut. Ketika Nurul dan Ridlo akan mengayunkan kaki menuju lantai
dua, datang segerombolan mahasiswa modis yang masih asyik ngobrol sambil makan jajan.
Nurul yang masih polos langsung merasa tertarik dengan gaya berpakaian
mahasiswa modis tersebut. Tak henti-hentinya Nurul mengamati pakaian mereka
dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ridlo pun meninggalkan gadis-gadis ini dan
langsung menuju lantai dua. Sementara Nurul masih asyik mewawancarai
gadis-gadis modis tersebut.
Satu semester telah berlalu, di semester satu semua mahasiswa fokus
untuk belajar, khususnya tentang keterampilan berbahasa. Sedangkan di semester
dua ini beberapa mahasiswa mulai aktif mengikuti organisasi kampus. Ridlo
adalah salah satu mahasiswa yang aktif di organisasi kampus, yakni HIMA BSA. Di
semester satu, Ridlo termasuk mahasiswa dengan nilai akademik yang luar biasa,
cumlaude. Setelah dia memutuskan untuk ikut HIMA, dia mulai dihadapkan pada
sebuah permasalahan. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama anak-anak
HIMA daripada berdiskusi di bawah pohon mangga sebagaimana saat masih semester
satu. Rapat HIMA menjadi rutinitas yang hampir tak pernah ia lewatkan, meski
terkadang rapatnya sampai pukul 01.00 dini hari. Dan hal ini pun berimbas pada
nilai akademiknya yang semakin hari, semakin menurun.
Berbeda dengan Ridho, ada seorang mahasiswi yang aktif kuliah dan
tidak pernah menghabiskan waktuya selain untuk membaca, mengerjakan tugas, dan
berdiskusi, dia adalah Aesyi. Sejak semester satu sampai sekarang, dia masih
fokus untuk belajar. Karena menurutnya, belajar adalah sebuah kewajiban yang
tidak boleh dilalaikan dan tidak boleh diduakan. Dia selalu mengingat nasehat
orang tuanya untuk rajin belajar agar bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk
orang lain. Bersama teman-teman satu angkatannya, Aesyi selalu menghabiskan
akhir pekan untuk belajar dan berdiskusi di bawah pohon mangga.
Nurul, sahabat dekat Ridlo, kini lebih banyak menghabiskan waktunya
untuk jalan-jalan dan shopping bersama geng modis PBA. Dia juga jarang ikut
kumpul bersama teman-temannya untuk belajar kelompok. Beberapa tugas kuliahnya
sering kali dia lalaikan, dan saat deadline sudah di depan mata, dia baru sibuk
mencari contekan.
Waktu pun terus berjalan. Kedinamisan hidup tak pernah dapat
ditolak oleh siapapun. Hari ini adalah hari pertama Ujian Akhir Semester, para
mahasiswa sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi UTS. Saat di kelas, Aesyi tampak
tenang dan seakan sudah siap untuk menjawab soal-soal UTS. Beberapa
teman-temannya yang lain ada yang tampak gelisah, ada pula yang sibuk bersenda
gurau dengan temannya. Beberapa menit kemudian, dosen penguji masuk ruangan dan
UTS pun dimulai.
Yudisium adalah waktu yang ditunggu-tunggu dan menjadi saat-saat
yang mendebarkan bagi mayoritas mahasiswa. Ada yang tidak sabar melihat nilai
mereka muncul, dan optimis bahwa mereka mampu mengambil 24 SKS semester depan.
Ada yang tak acuh dengan yudisium, mereka merasa bahwa nilai hanyalah sebatas
coretan di atas kertas dan masih abstrak. Kelompok kedua ini lebih memfokuskan
diri pada aksi nyata ketimbang berkutat dengan konsep dan teori-teori yang
penuh dengan perdebatan. Sedangkan dalam pandangan umum, yudisium menjadi salah
satu tolok ukur berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Aesyi, mahasiswi
yang sangat cerdas ini mempersembahnya nilai yang cumlaude untuk orang tua,
teman, dan dosen. Ridho mendapat nilai yang standar-standar saja, malah bisa dikatakan
nilainya menurun drastis meski masih dalam zona aman. Nurul dan geng modisnya
tampak sedih dan memperlihatkan wajah-wajah yang penuh penyesalan.
Akhir pekan sebelum liburan semester, Ridlo mengumpulkan
teman-teman satu angkatannya di bawah pohon manga. Pertemuan kali ini
mengkritisi perjalan mereka selama dua semester. Mereka mengapresiasi Aesyi
yang memperoleh nilai IPK 3,97, sebuah pencapaian yang mendekati sempurna.
Ridho pun akhirnya tersadar bahwa langkah yang dia pilih selama ini kurang
tepat dan dia bertekad untuk memperbaiki diri di semester depan. Begitu halnya
dengan Nurul dan geng modisnya, mereka merasakan penyesalan yang teramat dalam
atas sikap mereka selama ini yang melalaikan tugas utama mereka, belajar.
Ridho kini mulai menata diri dan memanaje waktu. Dia tidak
melalaikan tanggung jawabnya sebagai fungsionaris HIMA dan tetap rajin belajar,
karena belajar adalah kewajiban yang utama. Nurul dan geng modisnya juga mulai
mengurangi dan sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan buruk mereka. Hingga
akhirnya, beberapa semester mereka lalui dengan pencapaian yang mengesankan.dan
mereka pun dapat lulus dengan menyandang predikat yang membanggakan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya
Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...
-
Suatu hari nanti kita akan menjadi seorang ibu. Di mana ibu adalah madrasah pertama bagi putra putrinya. Tahukah kita? Terlahir sebagai kaum...
-
Lantai 3 menyapa Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa mu...
-
Lantai 3 menyapa Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa ...