Selasa, 14 Juli 2020
Catatan Nuhid #20
Saat burung terbang di angkasa ia mengepakkan kedua sayapnya. Begitupun juga dengan kita, dalam setiap langkah ada sepasang sayap yang selalu melangitkan do'a-do'a. Ya, terbang bersama sayap takdir. Sebuah penggambaran keridhoan dan keikhlasan atas semua ketetapan-Nya. Saat kita mengikuti arah takdir, saat kita ridho, ikhlas, dan bersabar, Insyaallah setiap hal akan terasa manis dan indah. Kebaikan-kebaikan yang menghampiri kita pun merupakan buah dari do'a-do'a yang selalu dilangitkan oleh sepasang sayap ini. Begitulah Bapak dan Ibuk, selalu memprioritaskan anaknya, bahkan dalam daftar do'a mereka kita menempati urutan paling atas. Kita bisa belajar prinsip _itsar_ dari beliau berdua. Sepasang sayap yang mengantarkan kita dalam meraih asa, cita, dan cinta. 💕
Catatan Nuhid #19
Pernah nggak sih kalian ngerasain pikiran seolah buntu, tugas nampaknya numpuk, masalah seakan selalu hadir menyapa?
Saya pernah berada di masa itu. Hidup seolah dipenuhi tekanan, mau maju takut jatuh, mau mundur tapi udah di tengah jalan. Ternyata semua perasaan itu hanyalah gemuruh dalam hati kita yang selalu merasa tak tenang. Padahal hidup yang kita jalani sehari-hari semua sudah sesuai dengan porsi kita. "Allah SWT tidak membebani seseorang melebihi batas kemampuannya", begitu kiranya kutipan firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur'an. Jadi apa kunci dari hati yang lapang dan tenang? Hati akan terasa lapang dan tenang saat kita mengingat Allah SWT. Mengingat-Nya dalam segala hal, di manapun dan kapanpun. Saat mendapat nikmat kita bersyukur, saat ditimpa musibah kita bersabar. Selalu mengawali setiap aktivitas dengan menyebut nama Allah, berikhtiyar dengan jalan yang baik dan benar, selalu mengiringi aktivitas dengan berdo'a, dan bertawakkal memasrahkan segalanya kepada Allah SWT. Karena serapi dan sebagus apapun rencana kita, sungguh rencana dan tak takdir-Nya jauh lebih indah.
Saya pernah berada di masa itu. Hidup seolah dipenuhi tekanan, mau maju takut jatuh, mau mundur tapi udah di tengah jalan. Ternyata semua perasaan itu hanyalah gemuruh dalam hati kita yang selalu merasa tak tenang. Padahal hidup yang kita jalani sehari-hari semua sudah sesuai dengan porsi kita. "Allah SWT tidak membebani seseorang melebihi batas kemampuannya", begitu kiranya kutipan firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur'an. Jadi apa kunci dari hati yang lapang dan tenang? Hati akan terasa lapang dan tenang saat kita mengingat Allah SWT. Mengingat-Nya dalam segala hal, di manapun dan kapanpun. Saat mendapat nikmat kita bersyukur, saat ditimpa musibah kita bersabar. Selalu mengawali setiap aktivitas dengan menyebut nama Allah, berikhtiyar dengan jalan yang baik dan benar, selalu mengiringi aktivitas dengan berdo'a, dan bertawakkal memasrahkan segalanya kepada Allah SWT. Karena serapi dan sebagus apapun rencana kita, sungguh rencana dan tak takdir-Nya jauh lebih indah.
Catatan Nuhid #18
Mbah Rebinah (almarhumah), dari beliau lah aku belajar sholat untuk yang pertama kalinya.
Bapak Zarkoni, beliau tak hanya berkata dengan alat wicara, setiap kata yang terucap adalah ejaan hati.
Ibuk Rusmini, belaian beliau selalu membuatku rindu, setiap gerak dan ucap datangnya dari rasa. Rasa kasih dan sayang yang terus terulang.
Ahmad Syakur, dia seorang adik yang bijaksana dan penyayang. Di setiap kepergianku, posisi anak tertua bergeser kepadanya. Keluarga adalah yang utama dan yang pertama dia perjuangkan.
Siti Rodhiyatun, meski kita sering bertengkar untuk hal-hal yang remeh (hehe), sesungguhnya tak ada kebencian di antara kita. Kita saling menyayangi dan saling menasihati.
Umi Roiyah, adik yang satu ini sangat sensitif, dia sangat perasa. Dia teramat sayang dan hormat kepada adik, kakak, dan kedua orang tua.
Yasir Ahmad, progresnya sangat membanggakan. Adik yang dulunya sering main dan keluyuran, kini lebih memilih tinggal di penjara suci (pondok pesantren) dengan kesadaran hati dan tanpa paksaan.
Ummi Salamah, yang kusuka dari dirinya adalah saat dia masih bayi, dialah adik pertama yang "diemong" olehku. Tulisannya sangat bagus dan rapi. Sekarang dia sudah berani berangkat sekolah sendiri.
Zahirotun Mushoffah, dia adalah anak bungsu. Dia sangat suka membaca, membaca tulisan apa saja yang dia jumpai. Bacaan Al-Qur'annya juga bagus.
Setiap diri pasti punya bakatnya masing-masing
Syakur dan Yasir adalah dua anak yang hobi elektro.
Rodhiyatun dan Umi sangat piawai menggoreskan qalam menjadi kaligrafi yang indah.
Salamah dan Zahiroh masih menikmati masa kanak-kanaknya. Ada bakat terpendam pada diri mereka yang seiring waktu akan mengemuka.
Aku, Nurul Hidayah adalah pengagum sejati mereka. Tak pernah jemu aku membaca mereka, ku lukis mereka dengan indah dalam benakku. Dari mereka aku belajar tentang hidup dan kehidupan. Tentang kebersamaan dan kasih sayang, saling menjaga dan mendo'akan.
Bapak Zarkoni, beliau tak hanya berkata dengan alat wicara, setiap kata yang terucap adalah ejaan hati.
Ibuk Rusmini, belaian beliau selalu membuatku rindu, setiap gerak dan ucap datangnya dari rasa. Rasa kasih dan sayang yang terus terulang.
Ahmad Syakur, dia seorang adik yang bijaksana dan penyayang. Di setiap kepergianku, posisi anak tertua bergeser kepadanya. Keluarga adalah yang utama dan yang pertama dia perjuangkan.
Siti Rodhiyatun, meski kita sering bertengkar untuk hal-hal yang remeh (hehe), sesungguhnya tak ada kebencian di antara kita. Kita saling menyayangi dan saling menasihati.
Umi Roiyah, adik yang satu ini sangat sensitif, dia sangat perasa. Dia teramat sayang dan hormat kepada adik, kakak, dan kedua orang tua.
Yasir Ahmad, progresnya sangat membanggakan. Adik yang dulunya sering main dan keluyuran, kini lebih memilih tinggal di penjara suci (pondok pesantren) dengan kesadaran hati dan tanpa paksaan.
Ummi Salamah, yang kusuka dari dirinya adalah saat dia masih bayi, dialah adik pertama yang "diemong" olehku. Tulisannya sangat bagus dan rapi. Sekarang dia sudah berani berangkat sekolah sendiri.
Zahirotun Mushoffah, dia adalah anak bungsu. Dia sangat suka membaca, membaca tulisan apa saja yang dia jumpai. Bacaan Al-Qur'annya juga bagus.
Setiap diri pasti punya bakatnya masing-masing
Syakur dan Yasir adalah dua anak yang hobi elektro.
Rodhiyatun dan Umi sangat piawai menggoreskan qalam menjadi kaligrafi yang indah.
Salamah dan Zahiroh masih menikmati masa kanak-kanaknya. Ada bakat terpendam pada diri mereka yang seiring waktu akan mengemuka.
Aku, Nurul Hidayah adalah pengagum sejati mereka. Tak pernah jemu aku membaca mereka, ku lukis mereka dengan indah dalam benakku. Dari mereka aku belajar tentang hidup dan kehidupan. Tentang kebersamaan dan kasih sayang, saling menjaga dan mendo'akan.
Catatan Nuhid #17
MRI Jepara dalam dekap malam seribu bulan
Kuceritakan kisah pada hari yang telah lalu (15 Mei 2020)
Lihatlah mereka, para pemuda yang jiwa mudanya bergejolak dan membara di jalan kebaikan. Aku kagum dan menghaturkan salam takzim teruntuk ayah, ibu, dan guru mereka. Karena beliau-beliau telah berhasil mendidik para pemuda hingga menjadi seperti mereka sekarang ini.
Pertama untuk para ibu yang telah melahirkan mereka ke dunia ini. Terima kasih banyak telah merawat dan membesarkan kami dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Dari para ibu kami belajar tentang kasih sayang yang tulus tanpa pamrih dan bagaimana cara bersabar menjalani lika-liku kehidupan.
Kedua kami haturkan salam takzim untuk para ayah yang telah mendidik mereka dengan penuh kebijaksanaan. Dari para ayah kami belajar tentang kerja keras, kerja sama, dan kebijaksanaan. Para ayah menjadi salah satu tauladan dalam hidup kami. Beliau adalah sosok yang dalam diamnya selalu mengawasi dan menjaga kami agar kami tak salah arah dan hilang tujuan.
Ketiga teruntuk para guru yang telah mendidik dan menanam benih kebaikan. Ku haturkan salam takzim yang mendalam. Insyaallah benih kebaikan yang bapak ibu guru tanam perlahan mulai tumbuh membesar dan buahnya telah banyak memberikan manfaat untuk umat. Arah langkah yang kami tuju adalah pelajaran. Di setiap jejak langkah itu ada peran kalian yang tak kasat mata.
Terakhir ku sampaikan banyak terima kasih kepada keluarga di rumah yang telah merestui langkah kami. Maafkan kami jika banyak waktu yang kami habiskan di luar rumah. Maafkan kami yang tak membersamai kalian saat berbuka. Terima kasih atas keikhlasannya melepas kepergian kami. Terima kasih atas do'a-do'a tanpa suara yang selalu kalian langitkan untuk kami.
Kuceritakan kisah pada hari yang telah lalu (15 Mei 2020)
Lihatlah mereka, para pemuda yang jiwa mudanya bergejolak dan membara di jalan kebaikan. Aku kagum dan menghaturkan salam takzim teruntuk ayah, ibu, dan guru mereka. Karena beliau-beliau telah berhasil mendidik para pemuda hingga menjadi seperti mereka sekarang ini.
Pertama untuk para ibu yang telah melahirkan mereka ke dunia ini. Terima kasih banyak telah merawat dan membesarkan kami dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Dari para ibu kami belajar tentang kasih sayang yang tulus tanpa pamrih dan bagaimana cara bersabar menjalani lika-liku kehidupan.
Kedua kami haturkan salam takzim untuk para ayah yang telah mendidik mereka dengan penuh kebijaksanaan. Dari para ayah kami belajar tentang kerja keras, kerja sama, dan kebijaksanaan. Para ayah menjadi salah satu tauladan dalam hidup kami. Beliau adalah sosok yang dalam diamnya selalu mengawasi dan menjaga kami agar kami tak salah arah dan hilang tujuan.
Ketiga teruntuk para guru yang telah mendidik dan menanam benih kebaikan. Ku haturkan salam takzim yang mendalam. Insyaallah benih kebaikan yang bapak ibu guru tanam perlahan mulai tumbuh membesar dan buahnya telah banyak memberikan manfaat untuk umat. Arah langkah yang kami tuju adalah pelajaran. Di setiap jejak langkah itu ada peran kalian yang tak kasat mata.
Terakhir ku sampaikan banyak terima kasih kepada keluarga di rumah yang telah merestui langkah kami. Maafkan kami jika banyak waktu yang kami habiskan di luar rumah. Maafkan kami yang tak membersamai kalian saat berbuka. Terima kasih atas keikhlasannya melepas kepergian kami. Terima kasih atas do'a-do'a tanpa suara yang selalu kalian langitkan untuk kami.
Catatan Nuhid #16
QS. Al-Ahzab: 72
"Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh." Manusia boleh berbangga karena dinobatkan sebagai makhluk sempurna di antara seluruh makhluk ciptaan-Nya. Kita menjadi pemimpin atas seluruh penghuni semesta yang ada dengan kelebihan akal serta pikiran yang digunakan dalam bertindak.
Namun menjadi makhluk yang sempurna bukanlah perkara yang mudah. Ada hal besar yang menjadi tanggung jawab manusia yakni amanah. Menjalankan perintah serta menjauhi segala larangan-Nya menjadi amanah yang tidak dapat dibantah.
Manusia dari sekian banyak makhluk Allah menyanggupi amanah tersebut. Padahal makhluk lain yang memiliki kekuatan lebih besar seperti langit, bumi, dan gunung menolak untuk menjadi seperti manusia.
Semoga kita termasuk manusia yang tidak menyia-nyiakan waktu saat hidup di muka bumi, serta dapat menjalankan amanah yang sudah diembankan Allah kepada kita. Aamiin
"Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh." Manusia boleh berbangga karena dinobatkan sebagai makhluk sempurna di antara seluruh makhluk ciptaan-Nya. Kita menjadi pemimpin atas seluruh penghuni semesta yang ada dengan kelebihan akal serta pikiran yang digunakan dalam bertindak.
Namun menjadi makhluk yang sempurna bukanlah perkara yang mudah. Ada hal besar yang menjadi tanggung jawab manusia yakni amanah. Menjalankan perintah serta menjauhi segala larangan-Nya menjadi amanah yang tidak dapat dibantah.
Manusia dari sekian banyak makhluk Allah menyanggupi amanah tersebut. Padahal makhluk lain yang memiliki kekuatan lebih besar seperti langit, bumi, dan gunung menolak untuk menjadi seperti manusia.
Semoga kita termasuk manusia yang tidak menyia-nyiakan waktu saat hidup di muka bumi, serta dapat menjalankan amanah yang sudah diembankan Allah kepada kita. Aamiin
Catatan Nuhid #15
"Jaranglah berkunjung, maka cinta kan melambung". Pepatah Arab ini menjadi kalimat penutup yang manis dari ustadz Singgih dalam acara Khatmil Qur'an FBS UNNES.
Di masa pandemi ini kita memang jarang berkunjung, bahkan tak pernah bersua. Kita hanya bisa saling sapa secara daring. Sekarang adalah masanya bagi kita untuk beruzlah. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah melakukannya. Beliau menepi di gua Hira untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Khaliq pemilik alam semesta. Begitupun halnya dengan kita, mari kita manfaatkan momentum ini untuk keluar dari keramaian, menepi dari kebisingan, untuk mencari kesunyian dan kedamaian. Kita butuh waktu untuk sendiri menikmati karunia Ilahi yang telah diberi. Muhasabah juga bisa menjadi solusi saat kita sedang sendiri. Menghitung amalan yang telah lalu, bersyukur atas amal baik kita, dan memohon ampun kepada Allah atas segala salah dan khilaf kita. Kemudian iringi muhasabah dengan usaha untuk berbenah. Kita mulai tata niat dan kuatkan tekad untuk menata tindak tanduk dan tutur kata kita. Mengisi hari-hari dengan amal kebaikan, berbagi untuk sesama dan lebih taat dalam beragama. Semoga saat datang masanya nanti kita akan bersua, saling berjabat tangan, saling berpelukan sembari melambungkan cinta yang telah tumbuh besar.
Di masa pandemi ini kita memang jarang berkunjung, bahkan tak pernah bersua. Kita hanya bisa saling sapa secara daring. Sekarang adalah masanya bagi kita untuk beruzlah. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah melakukannya. Beliau menepi di gua Hira untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Khaliq pemilik alam semesta. Begitupun halnya dengan kita, mari kita manfaatkan momentum ini untuk keluar dari keramaian, menepi dari kebisingan, untuk mencari kesunyian dan kedamaian. Kita butuh waktu untuk sendiri menikmati karunia Ilahi yang telah diberi. Muhasabah juga bisa menjadi solusi saat kita sedang sendiri. Menghitung amalan yang telah lalu, bersyukur atas amal baik kita, dan memohon ampun kepada Allah atas segala salah dan khilaf kita. Kemudian iringi muhasabah dengan usaha untuk berbenah. Kita mulai tata niat dan kuatkan tekad untuk menata tindak tanduk dan tutur kata kita. Mengisi hari-hari dengan amal kebaikan, berbagi untuk sesama dan lebih taat dalam beragama. Semoga saat datang masanya nanti kita akan bersua, saling berjabat tangan, saling berpelukan sembari melambungkan cinta yang telah tumbuh besar.
Catatan Nuhid #14
"yuk kita bukber"
"besok mau bukber di mana?"
"pemburu takjil mana suaranya?"
Pertanyaan itu perlahan hilang di telan sunyi. Saat kita sibuk memperdebatkan tempat untuk buka bersama, kita lupa masih banyak sahabat muslim kita yang masih bingung buka puasa nanti mau makan apa. Bukan sedang memikirkan pilihan menu yang akan di masak, melainkan masih memikirkan bahan makanan yang belum dalam genggaman.
Jika Ramadhan tahun-tahun sebelumnya kabar kekurangan bahan pangan terdengar dari belahan bumi Afrika, Suriah, Yaman, Palestina. Kini kekurangan bahan pangan mulai melanda hampir seluruh negeri di dunia. Lalu siapa yang bisa menyelamatkan manusia dari kondisi yang menyedihkan ini? Kini "Saatnya Umat Selamatkan Umat" dan kepedulian adalah kekuatan. Barangsiapa mengasihi yang di bumi, maka yang di langit pun akan mengasihinya. Ya, dari kepedulian inilah kita bisa saling berbagi kebahagiaan sehingga saudara-saudara seiman kita bisa tetap merasakan manisnya berbuka puasa.
Jika dulu banyak digelar acara buka puasa bersama di masjid, musholla, hingga gedung mewah. Kini kita bisa menikmati sajian buka puasa bersama keluarga di rumah. Satu keluarga duduk melingkar menanti adzan Maghrib dan berdo'a bersama di senja hari menjelang berbuka. Lingkaran yang perlahan menciptakan kehangatan dan kebahagiaan. Bagi kita anak perantauan, momen ini adalah momen yang dinantikan. Biasanya kita mulai menikmati kebersamaan dalam berbuka puasa di minggu terakhir bulan Ramadhan. Alhamdulillah tahun ini Allah mengizinkan kita menikmati sebulan penuh Ramadhan bersama keluarga di rumah.
"besok mau bukber di mana?"
"pemburu takjil mana suaranya?"
Pertanyaan itu perlahan hilang di telan sunyi. Saat kita sibuk memperdebatkan tempat untuk buka bersama, kita lupa masih banyak sahabat muslim kita yang masih bingung buka puasa nanti mau makan apa. Bukan sedang memikirkan pilihan menu yang akan di masak, melainkan masih memikirkan bahan makanan yang belum dalam genggaman.
Jika Ramadhan tahun-tahun sebelumnya kabar kekurangan bahan pangan terdengar dari belahan bumi Afrika, Suriah, Yaman, Palestina. Kini kekurangan bahan pangan mulai melanda hampir seluruh negeri di dunia. Lalu siapa yang bisa menyelamatkan manusia dari kondisi yang menyedihkan ini? Kini "Saatnya Umat Selamatkan Umat" dan kepedulian adalah kekuatan. Barangsiapa mengasihi yang di bumi, maka yang di langit pun akan mengasihinya. Ya, dari kepedulian inilah kita bisa saling berbagi kebahagiaan sehingga saudara-saudara seiman kita bisa tetap merasakan manisnya berbuka puasa.
Jika dulu banyak digelar acara buka puasa bersama di masjid, musholla, hingga gedung mewah. Kini kita bisa menikmati sajian buka puasa bersama keluarga di rumah. Satu keluarga duduk melingkar menanti adzan Maghrib dan berdo'a bersama di senja hari menjelang berbuka. Lingkaran yang perlahan menciptakan kehangatan dan kebahagiaan. Bagi kita anak perantauan, momen ini adalah momen yang dinantikan. Biasanya kita mulai menikmati kebersamaan dalam berbuka puasa di minggu terakhir bulan Ramadhan. Alhamdulillah tahun ini Allah mengizinkan kita menikmati sebulan penuh Ramadhan bersama keluarga di rumah.
Catatan Nuhid #13
Bulan Ramadhan telah mendekati purnama.
Kita tak tahu apakah bulan badar ini menyimpan malam qadar atau tidak.
Malam di mana ketenangan dan kesunyian mendekap bumi.
Di malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi, termasuk di dalamnya Jibril as.
Malam yang ganjaran amal kebaikan dilipatgandakan hingga ia laksana ibadah yang lebih baik dari seribu bulan.
Pahalanya tak hanya seribu bulan, tetapi lebih baik dari itu.
Mari kita bermuhasabah tentang hari-hari yang telah berlalu.
Sudahkah kita penuhi ia dengan amal kebaikan, ataukah waktu bergulir tiada makna.
Kita merindukan malam qadar dan esok malam badar menghampiri.
Istiqamah adalah kunci untuk berjumpa dengan malam qadar.
Dengannya kita mampu meraih pahala yang tak dapat ditakar.
Jibril turut datang dalam suatu urusan besar.
Menebar salam sejahtera teruntuk penduduk bumi hingga datang masanya fajar.
Nurul Hidayah
Jepara, Mei 2020
Kita tak tahu apakah bulan badar ini menyimpan malam qadar atau tidak.
Malam di mana ketenangan dan kesunyian mendekap bumi.
Di malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi, termasuk di dalamnya Jibril as.
Malam yang ganjaran amal kebaikan dilipatgandakan hingga ia laksana ibadah yang lebih baik dari seribu bulan.
Pahalanya tak hanya seribu bulan, tetapi lebih baik dari itu.
Mari kita bermuhasabah tentang hari-hari yang telah berlalu.
Sudahkah kita penuhi ia dengan amal kebaikan, ataukah waktu bergulir tiada makna.
Kita merindukan malam qadar dan esok malam badar menghampiri.
Istiqamah adalah kunci untuk berjumpa dengan malam qadar.
Dengannya kita mampu meraih pahala yang tak dapat ditakar.
Jibril turut datang dalam suatu urusan besar.
Menebar salam sejahtera teruntuk penduduk bumi hingga datang masanya fajar.
Nurul Hidayah
Jepara, Mei 2020
Catatan Nuhid #12
Fitrah Manusia yang Menginginkan Keabadian
Catatan Poin Kedua dari Cahaya Ketiga
. "Semua manusia menginginkan keabadian. Sampai berangan-angan agar semua yang dicintai bersifat abadi." .
... ÙƒُÙ„ُّ Ø´َÙŠْØ¡ٍ Ù‡َالِÙƒٌ Ø¥ِÙ„َّا ÙˆَجْÙ‡َÙ‡ُ ... (القصص : ٨٨)
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah (QS. al-Qashash: 88). Fitrah manusia yang menginginkan keabadian sedangkan segala sesuatu akan hancur, karenanya manusia akan mengalami kesedihan yang mendalam.
Setiap yang datang akan pergi, yang lewat akan berlalu, yang ada akan tiada, dan pertemuan pun akan berujung perpisahan.
Allah Yang Maha Kekal mengabulkan do'a manusia yang umum dan menyeluruh untuk bisa kekal dan kecintaan yang mendalam terhadap keabadian. Pengabulan do'a tersebut tampak dengan adanya alam keabadian dan surga yang kekal. Lantas bagaimana caranya agar kita bisa mencapai keabadian tersebut? Di sini dijelaskan bahwa hal utama yang harus dilakukan manusia adalah menguatkan ikatan dan hubungan dengan Dzat Yang Maha Kekal dan Agung, serta berpegang dengan nama-namaNya Yang Mulia.
Sebab apa yang dikorbankan di jalan Dzat Yang Maha Kekal, juga akan menerima sejenis sifat kekal.
Ketika kita diberi kelapangan waktu dan harta, maka gunakan waktu dan belanjakan harta di jalan Allah dan untuk mengharap ridho-Nya. Sehingga waktu dan harta tersebut menjadi kekal.
Catatan Poin Kedua dari Cahaya Ketiga
. "Semua manusia menginginkan keabadian. Sampai berangan-angan agar semua yang dicintai bersifat abadi." .
... ÙƒُÙ„ُّ Ø´َÙŠْØ¡ٍ Ù‡َالِÙƒٌ Ø¥ِÙ„َّا ÙˆَجْÙ‡َÙ‡ُ ... (القصص : ٨٨)
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah (QS. al-Qashash: 88). Fitrah manusia yang menginginkan keabadian sedangkan segala sesuatu akan hancur, karenanya manusia akan mengalami kesedihan yang mendalam.
Setiap yang datang akan pergi, yang lewat akan berlalu, yang ada akan tiada, dan pertemuan pun akan berujung perpisahan.
Allah Yang Maha Kekal mengabulkan do'a manusia yang umum dan menyeluruh untuk bisa kekal dan kecintaan yang mendalam terhadap keabadian. Pengabulan do'a tersebut tampak dengan adanya alam keabadian dan surga yang kekal. Lantas bagaimana caranya agar kita bisa mencapai keabadian tersebut? Di sini dijelaskan bahwa hal utama yang harus dilakukan manusia adalah menguatkan ikatan dan hubungan dengan Dzat Yang Maha Kekal dan Agung, serta berpegang dengan nama-namaNya Yang Mulia.
Sebab apa yang dikorbankan di jalan Dzat Yang Maha Kekal, juga akan menerima sejenis sifat kekal.
Ketika kita diberi kelapangan waktu dan harta, maka gunakan waktu dan belanjakan harta di jalan Allah dan untuk mengharap ridho-Nya. Sehingga waktu dan harta tersebut menjadi kekal.
Catatan Nuhid #11
Bulan yang kita rindukan telah lewat sepuluh hari awal yang penuh rahmat. Kini kita memasuki sepuluh hari yang kedua. Bagaimana kabar hati? Masihkah ia semangat menjalani hari? Ataukah layu diterpa angin tatkala sunyi? Layaknya fisik, hati pun perlu untuk dinutrisi. Ramadhan hadir laksana hujan di tengah kemarau panjang. Ia dinanti oleh jutaan umat yang haus akan siraman ruhani. Ramadhan perlahan menutrisi hati kita dan menjernihkan pikiran kita. Ramadhan adalah rembulan yang selalu dirindu kehadirannya. Kerinduan pada lantunan Kalam Ilahi yang selalu meramaikan masjid dan surau-surau. Kerinduan pada shalat tarawih, yang dengannya kita bisa berkumpul dalam satu majelis bersama mengagungkan nama-Nya. Kerinduan pada lingkaran halaqoh yang menyejukkan qalbu. Ramadhan adalah bulan Al-Qur'an, di mana setiap dari kita memperbanyak bacaannya, mengkaji terjemahnya, dan menghafal surat-suratnya. Senja adalah waktu yang selalu dinanti, berbagai macam takjil dijajakan di sepanjang jalan. Ada waktu khusus di senja hari tatkala menanti kumandang adzan Maghrib, kita menyebut aktivitas penantian itu dengan nama "ngabuburit". Tahun 2020 ini Ramadhan terasa berbeda, beberapa kerinduan dan penantian mungkin ada yang tak tersampaikan. Tarawih dan tadarus tak hanya menerangi masjid, kini keduanya mulai menerangi setiap rumah. Kajian-kajian keislaman pun mulai bergema di setiap rumah. Meski kita tak mampu berkumpul, meski kita sendiri #dirumahaja. Sesungguhnya kita bersama dalam kesendirian dan kita sendiri dalam kebersamaan.
Catatan Nuhid #10
Jika boleh jujur tentang rasa ini. Sungguh rasa rindu ini sudah mulai menyesakkan dada. Jika boleh aku membandingkan tahun lalu dan tahun ini. Jika waktu bisa berjalan mundur atau bahkan yang lalu bisa terulang kembali, aku ingin mengulangi lagi Ramadhan tahun lalu. Ah, sudahlah! Khayalan macam apa ini. Setidaknya tempat yang pernah kita pijak telah menorehkan kenangan. Begitupun juga dengan mereka yang pernah kita jumpa dapat menjadi tempat bagi rindu tuk bermuara. Teruntuk sahabat yang pernah berjumpa dengan kak Nurul dan Momo. Mari kita kenang kebersamaan kita. Setiap akhir pekan selama bulan Ramadhan kita selalu menghabiskan waktu bersama. Menunggu waktu berbuka bersama, berbagi cerita tentang banyak hal.
Secangkir kopi rindu yang kuseduh sudah mulai dingin. Namun kenangan akan kebersamaan kita perlahan menghangatkan. Dan sekali lagi rindu membuat lidahku kelu. Tak mampu ungkapkan rasa yang membelenggu kalbu. Semoga pandemi ini cepat berlalu. Setelah cukup baginya waktu, ia akan pergi layaknya tamu.
Secangkir kopi rindu yang kuseduh sudah mulai dingin. Namun kenangan akan kebersamaan kita perlahan menghangatkan. Dan sekali lagi rindu membuat lidahku kelu. Tak mampu ungkapkan rasa yang membelenggu kalbu. Semoga pandemi ini cepat berlalu. Setelah cukup baginya waktu, ia akan pergi layaknya tamu.
Catatan Nuhid #9
Suatu hari nanti kita akan menjadi seorang ibu. Di mana ibu adalah madrasah pertama bagi putra putrinya. Tahukah kita? Terlahir sebagai kaum hawa yang kelak menjadi madrasah pertama adalah anugerah dari-Nya yang patut disyukuri. Kita pun memiliki banyak peran nantinya, menjadi istri dari suami kita, menjadi ibu dari anak-anak kita, pendidik bagi generasi penerus kita. Tak hanya itu, saat bersama buah hati kita bisa berperan sebagai teman, kakak, bahkan sahabat. Sungguh luar biasa kita memiliki peran sebanyak itu.
Tanggung jawab pendidikan seorang anak berada di pundak ibu bapaknya. Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya adalah partner orang tua. Di tengah wabah yang melanda negeri kita tercinta, jika kita mau merenunginya maka kita akan menemukan hikmah yang tak terkira. Ayah, bunda, dan anak punya banyak waktu untuk berkumpul bersama. Orang tua bisa menyaksikan tumbuh kembang sang anak. Orang tua pun berperan sebagai guru yang membimbing anaknya selama belajar di rumah.
Ada sebuah kutipan yang berbunyi: "setiap tempat adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru". Pada masa sekarang ini, kita mulai mengiyakan kutipan tersebut. Belajar yang sesungguhnya adalah menggali sebanyak-banyaknya pengetahuan di sekitar kita. Jadi di mana pun kita berada jadikan setiap tempat yang kita pijak sebagai sekolah yang darinya kita bisa mengambil banyak pelajaran. Dan jadikan siapapun yang kita jumpai sebagai guru yang bersamanya kita bisa menguak rahasia alam semesta.
Tanggung jawab pendidikan seorang anak berada di pundak ibu bapaknya. Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya adalah partner orang tua. Di tengah wabah yang melanda negeri kita tercinta, jika kita mau merenunginya maka kita akan menemukan hikmah yang tak terkira. Ayah, bunda, dan anak punya banyak waktu untuk berkumpul bersama. Orang tua bisa menyaksikan tumbuh kembang sang anak. Orang tua pun berperan sebagai guru yang membimbing anaknya selama belajar di rumah.
Ada sebuah kutipan yang berbunyi: "setiap tempat adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru". Pada masa sekarang ini, kita mulai mengiyakan kutipan tersebut. Belajar yang sesungguhnya adalah menggali sebanyak-banyaknya pengetahuan di sekitar kita. Jadi di mana pun kita berada jadikan setiap tempat yang kita pijak sebagai sekolah yang darinya kita bisa mengambil banyak pelajaran. Dan jadikan siapapun yang kita jumpai sebagai guru yang bersamanya kita bisa menguak rahasia alam semesta.
Catatan Nuhid #8
Lantai 3 menyapa
Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa mulai menua. Saat kaki tak lagi sekokoh dulu. Saat pijakan kian tak pasti. Kita akan mencari sosok tuk menggandeng kita. Meniti langkah, menaiki anak tangga bersama. Hingga tak ada lagi sisa-sisa anak tangga yang menanti pijakan kita. Langkah kita terhenti. Sejenak kita duduk di anak tangga tertinggi. Menundukkan kepala, merenung, dan menatap masa lalu. Masa di mana kita masih sendiri. Menaiki anak tangga dengan berlari. Masa setelahnya kita bersama. Mendaki sisa tangga kehidupan. Dan saling mengurai rasa, mengurai makna. Hingga masa menjamah senja. Saat rasa mulai menyulam asa. Kita masih tetap duduk termenung. Seolah menanti sesuatu. Saat sunyi menghampiri. Kita putuskan tuk turuni tangga. Satu per satu anak tangga mewakili masa lalu. Jalinan cerita berputar dalam memori. Ada kalanya sedih menghampiri. Dan ada masanya bahagia menyapa. Kita berjalan dengan pasti, meski tak lagi mampu tuk berlari. Setiap anak tangga menyuarakan masa. Setiap anak tangga menampilkan kenangan. Kita berjalan turun dengan satu rasa yang menyatu. Bersama mengaca masa lalu. Hingga kita kembali pada anak tangga terakhir. Tempat di mana kehidupan itu bermula. Dan akan menjadi tempat terakhir saat kita telah tiada
Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa mulai menua. Saat kaki tak lagi sekokoh dulu. Saat pijakan kian tak pasti. Kita akan mencari sosok tuk menggandeng kita. Meniti langkah, menaiki anak tangga bersama. Hingga tak ada lagi sisa-sisa anak tangga yang menanti pijakan kita. Langkah kita terhenti. Sejenak kita duduk di anak tangga tertinggi. Menundukkan kepala, merenung, dan menatap masa lalu. Masa di mana kita masih sendiri. Menaiki anak tangga dengan berlari. Masa setelahnya kita bersama. Mendaki sisa tangga kehidupan. Dan saling mengurai rasa, mengurai makna. Hingga masa menjamah senja. Saat rasa mulai menyulam asa. Kita masih tetap duduk termenung. Seolah menanti sesuatu. Saat sunyi menghampiri. Kita putuskan tuk turuni tangga. Satu per satu anak tangga mewakili masa lalu. Jalinan cerita berputar dalam memori. Ada kalanya sedih menghampiri. Dan ada masanya bahagia menyapa. Kita berjalan dengan pasti, meski tak lagi mampu tuk berlari. Setiap anak tangga menyuarakan masa. Setiap anak tangga menampilkan kenangan. Kita berjalan turun dengan satu rasa yang menyatu. Bersama mengaca masa lalu. Hingga kita kembali pada anak tangga terakhir. Tempat di mana kehidupan itu bermula. Dan akan menjadi tempat terakhir saat kita telah tiada
Catatan Nuhid #7
Berbicara soal Covid-19 tak hanya tentang suasana yang mencekam. Insyaallah kalau kita mau memandang dunia yang terhampar luas dan curahan nikmat dari Allah yang tak terbatas, hati kita akan lebih lapang dan senyum perlahan akan mengembang.
Pada tanggal 15 Maret 2020 di sekolah kami sedang ramai oleh perhelatan agung "Semesta Day". Dan pada hari itu pula satu persatu penghuni asrama dipulangkan ke rumah masing-masing. Seketika keramaian menjelma sunyi. Asrama 3 lantai yang biasanya ramai perlahan kehilangan penghuninya. Beberapa pembina asrama masih bertahan hingga beberapa hari untuk menuntaskan tugas kuliah dan mencari waktu yang tepat untuk kembali ke kampung halaman. Hati ini sempat bimbang antara bertahan atau kembali pulang. Hingga akhirnya aku memantapkan diri untuk berkumpul bersama keluarga di rumah, meski hanya setengah hati. Perlahan hari demi hari separuh hati yang tertinggal di asrama mulai mengikhlaskannya. Dan ternyata memang benar bahwa ketetapan-Nya adalah hal terbaik untuk kita. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari #dirumahaja. Bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga setelah 2 bulan bertahan di kota Atlas adalah salah satu hal yang patut disyukuri. Terlebih jika melihat teman-teman yang masih bertahan di indekos maupun di kontrakan dekat kampus, rasa-rasanya kita masih beruntung bisa berpuasa di rumah bersama keluarga. Semoga syukur selalu kita tunjukkan lewat lisan dan perbuatan atas segala nikmat-Nya yang tak terukur.
Pada tanggal 15 Maret 2020 di sekolah kami sedang ramai oleh perhelatan agung "Semesta Day". Dan pada hari itu pula satu persatu penghuni asrama dipulangkan ke rumah masing-masing. Seketika keramaian menjelma sunyi. Asrama 3 lantai yang biasanya ramai perlahan kehilangan penghuninya. Beberapa pembina asrama masih bertahan hingga beberapa hari untuk menuntaskan tugas kuliah dan mencari waktu yang tepat untuk kembali ke kampung halaman. Hati ini sempat bimbang antara bertahan atau kembali pulang. Hingga akhirnya aku memantapkan diri untuk berkumpul bersama keluarga di rumah, meski hanya setengah hati. Perlahan hari demi hari separuh hati yang tertinggal di asrama mulai mengikhlaskannya. Dan ternyata memang benar bahwa ketetapan-Nya adalah hal terbaik untuk kita. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari #dirumahaja. Bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga setelah 2 bulan bertahan di kota Atlas adalah salah satu hal yang patut disyukuri. Terlebih jika melihat teman-teman yang masih bertahan di indekos maupun di kontrakan dekat kampus, rasa-rasanya kita masih beruntung bisa berpuasa di rumah bersama keluarga. Semoga syukur selalu kita tunjukkan lewat lisan dan perbuatan atas segala nikmat-Nya yang tak terukur.
Catatan Nuhid #6
Malam ini mereka lah yang menjadi sorotan dalam ceritaku. Mereka adalah si bungsu dan kakaknya. Hidup bersama sembilan orang dalam satu rumah bagaimana rasanya? Tentu rasanya sangat luar biasa dan selalu ada cerita yang bisa dikenang. Baru saja kuabadikan tingkah mereka dalam jepretan kamera dan rekaman video. Begitulah adik kakak, mereka bersaudara, mereka saling mengganggu, itu hal yang lumrah. Namun pancaran kasih sayang antara keduanya tak pernah terkalahkan oleh api cemburu maupun letupan amarah. Dalam hati seorang kakak porsi sayang jauh lebih besar dibandingkan dengan porsi marahnya. Dan tidak jarang marahnya ia karena sayang. Secara naluriah seorang kakak akan menjaga, melindungi, dan mengayomi adiknya. Ibarat kata jika ada semut yang mendekat dan hendak menggigit adiknya, sang kakak cepat tanggap mengusir semut itu. Ia tak ingin siapapun menyakiti adiknya. Sikap saling berbagi, saling memahami dan saling saling yang lainnya tertanam kuat dalam diri kami. Bagaimana tidak, sejak kecil bapak dan ibu tak pernah lelah menanamkan akhlaqul karimah dalam diri anak-anaknya. Sebagai contoh, saat pulang dari hajatan bapak akan membagi makanan sesuai jumlah anaknya. Beliau akan memotong pisang, apel, kue bolu, hingga daging dan telur menjadi tujuh bagian sesuai jumlah anaknya. Dan momen bagi membagi ini akan menjadi momen yang selalu dinanti dan dikenang. Dan sungguh ada kosakata "bagi" yang terselip dalam kata "bahagia".
Catatan Nuhid #5
Senja selalu memberi keteduhan
Meski pancaran rona jinggamu hanya sesaat
Rindu dan penantianku selalu untukmu
Kau pertemukan siang dan malam dalam temaram jinggamu
Kau satukan terang dan gelap dalam satu waktu
Kau ada tuk pertemukan mentari dan rembulan dalam diam
Bergantian menemaniku dalam sunyi
Hangatnya mentari selalu mendekapku
Memberi semangat dalam hidupku
Cahaya rembulan di kala malam
Memberi ketedulan dan jadi sandaran penatku
Terima kasih senja
Karenamu dapat kurasai dekap hangat mentari dan teduhnya temaram rembulan dalam satu waktu
Ku mampu bertahan karena mentari
Dekapan hangatnya menguatkan langkahku
Ku mampu tersenyum karena rembulan
Teduh sinarnya selau hapus lelah dan tangisku
Ku kan berusaha tuk jadi bintang untuk kalian
Kita bersama di langit semesta
Tuk saling berbagi dan menemani
Bintangmu Nurul Hidayah
Teruntuk pahlawan senja
Mentariku, Ayahanda tercinta
Rembulanku, Ibunda terkasih
Meski pancaran rona jinggamu hanya sesaat
Rindu dan penantianku selalu untukmu
Kau pertemukan siang dan malam dalam temaram jinggamu
Kau satukan terang dan gelap dalam satu waktu
Kau ada tuk pertemukan mentari dan rembulan dalam diam
Bergantian menemaniku dalam sunyi
Hangatnya mentari selalu mendekapku
Memberi semangat dalam hidupku
Cahaya rembulan di kala malam
Memberi ketedulan dan jadi sandaran penatku
Terima kasih senja
Karenamu dapat kurasai dekap hangat mentari dan teduhnya temaram rembulan dalam satu waktu
Ku mampu bertahan karena mentari
Dekapan hangatnya menguatkan langkahku
Ku mampu tersenyum karena rembulan
Teduh sinarnya selau hapus lelah dan tangisku
Ku kan berusaha tuk jadi bintang untuk kalian
Kita bersama di langit semesta
Tuk saling berbagi dan menemani
Bintangmu Nurul Hidayah
Teruntuk pahlawan senja
Mentariku, Ayahanda tercinta
Rembulanku, Ibunda terkasih
Catatan Nuhid #4
Hakikat hati adalah milik-Nya
Kita memang bukan siapa-siapa
Dan tanpa-Nya kita tak berarti apa-apa
Pagi pun selalu rindukan hati yang menanti teduh cahaya-Nya
Mata ini tak pernah mampu memandang apapun
Dalam setiap pandang hanya ada nama-Mu
Lukisan pagi dan senja-Mu selalu hadir dalam rintik rindu
Rintik itu adalah Kau yang selalu sejukkan hati dengan kalam agung-Mu
Kau selalu bertahta di ketinggian itu
Ku ingin rasakan ada-Mu dalam ketiadaanku
Terus memuji-Mu bersama kabut yang hantarkan dingin di tepian rindu
Kami kerdil di hadapan-Mu
Di balik awan kami coba singkap tabir itu
Tabir yang di baliknya Kau simpan hikmah-Mu
Gerak-gerik tiap makhluk-Mu selalu ungkapkan kuasa-Mu
Hingga kami tersadar kenihilan itu adalah kami
Ketiadaan itu wujud kami
Di mana kerdil, nihil, tiada, dan rendah adalah rasa kami
Rasa yang terlukis kala kami berpijak meninggi
Mencoba bercengkrama dengan-Mu
Dan dalam ketinggian itu kami merendah
Karna kami ada dalam ketiadaan
Dan kami tiada dalam keberadaan
Kita memang bukan siapa-siapa
Dan tanpa-Nya kita tak berarti apa-apa
Pagi pun selalu rindukan hati yang menanti teduh cahaya-Nya
Mata ini tak pernah mampu memandang apapun
Dalam setiap pandang hanya ada nama-Mu
Lukisan pagi dan senja-Mu selalu hadir dalam rintik rindu
Rintik itu adalah Kau yang selalu sejukkan hati dengan kalam agung-Mu
Kau selalu bertahta di ketinggian itu
Ku ingin rasakan ada-Mu dalam ketiadaanku
Terus memuji-Mu bersama kabut yang hantarkan dingin di tepian rindu
Kami kerdil di hadapan-Mu
Di balik awan kami coba singkap tabir itu
Tabir yang di baliknya Kau simpan hikmah-Mu
Gerak-gerik tiap makhluk-Mu selalu ungkapkan kuasa-Mu
Hingga kami tersadar kenihilan itu adalah kami
Ketiadaan itu wujud kami
Di mana kerdil, nihil, tiada, dan rendah adalah rasa kami
Rasa yang terlukis kala kami berpijak meninggi
Mencoba bercengkrama dengan-Mu
Dan dalam ketinggian itu kami merendah
Karna kami ada dalam ketiadaan
Dan kami tiada dalam keberadaan
Catatan Nuhid #3
TERUS BERPROSES
Sebagaimana kehidupan, ketupat yang nikmat terlahir dari proses yang panjang.
Mula-mula sepasang janur menyatu, membentuk jalinan, hingga lahirlah selongsong ketupat. (Sebagaimana awal mula kelahiran kita, kita terlahir sama, kosong tanpa membawa apa-apa)
Kemudian kita siapkan beras yang sudah dicuci hingga bersih untuk mengisi selongsong ketupat. (Pelajaran, hikmah, dan tauladan yang bersih terus mengisi hari-hari kita)
Jangan berlebihan dalam memberi isi, cukup setengah bagian saja dari selongsong itu yg terisi beras. (Sebagaimana kita yang harus bersikap tengah-tengah)
Api yang membara siap untuk memasak ketupat. Selama sehari penuh, ketupat dimasak dalam air mendidih. (Kehidupan selalu menempa kita dengan panas yang sangat. Terbentur, terbentur, terbentur, dan akhirnya terbentuk)
Setelah seharian penuh dimasak dengan api yang membara, ketupat yang nikmat siap untuk disantap. (Begitulah kehidupan mengajari kita untuk menjadi pribadi yang tangguh dan selalu bersabar. Karena buah dari kesabaran dan kerja keras itu sangatlah manis).
Ketupat selalu mengingatkan akan sebuah kebersamaan. Darinya kita belajar banyak hal. Cara menikmatinya pun tak mengharuskan kita melepas satu persatu jalinannya. Akan tetapi dengan membelah bagian tengahnya. Dalam budaya Jawa hal ini melambangkan sesuatu yang penuh makna. Semoga lebaran yang akan datang kita bisa menikmati ketupat dalam kebersamaan serta mengurai makna yang dalam.
Sebagaimana kehidupan, ketupat yang nikmat terlahir dari proses yang panjang.
Mula-mula sepasang janur menyatu, membentuk jalinan, hingga lahirlah selongsong ketupat. (Sebagaimana awal mula kelahiran kita, kita terlahir sama, kosong tanpa membawa apa-apa)
Kemudian kita siapkan beras yang sudah dicuci hingga bersih untuk mengisi selongsong ketupat. (Pelajaran, hikmah, dan tauladan yang bersih terus mengisi hari-hari kita)
Jangan berlebihan dalam memberi isi, cukup setengah bagian saja dari selongsong itu yg terisi beras. (Sebagaimana kita yang harus bersikap tengah-tengah)
Api yang membara siap untuk memasak ketupat. Selama sehari penuh, ketupat dimasak dalam air mendidih. (Kehidupan selalu menempa kita dengan panas yang sangat. Terbentur, terbentur, terbentur, dan akhirnya terbentuk)
Setelah seharian penuh dimasak dengan api yang membara, ketupat yang nikmat siap untuk disantap. (Begitulah kehidupan mengajari kita untuk menjadi pribadi yang tangguh dan selalu bersabar. Karena buah dari kesabaran dan kerja keras itu sangatlah manis).
Ketupat selalu mengingatkan akan sebuah kebersamaan. Darinya kita belajar banyak hal. Cara menikmatinya pun tak mengharuskan kita melepas satu persatu jalinannya. Akan tetapi dengan membelah bagian tengahnya. Dalam budaya Jawa hal ini melambangkan sesuatu yang penuh makna. Semoga lebaran yang akan datang kita bisa menikmati ketupat dalam kebersamaan serta mengurai makna yang dalam.
Catatan Nuhid #2
Saat kemarau masih enggan menyapa. Saat hujan masih bertahta di singgasana. Seorang gadis kecil yang polos pergi ke tanah lapang. Dengan bersuka ria ia menanam berbagai jenis bunga. Setiap pagi ia mengunjungi tanamannya untuk menyiraminya atau sekedar memastikan bahwa hujan semalam telah singgah di sana. Setiap pagi dan petang gadis kecil itu setia berkunjung ke tanah lapang. Senyumnya semakin merekah hari demi hari bersamaan dengan bunga-bunga yang bersemi indah. Gadis kecil itu termenung, menghayalkan betapa indahnya tanah lapang itu. Kelak tanah lapang itu akan berubah menjadi taman bunga yang indah. Namun, tiba-tiba senyumnya berubah jadi tangis. Gadis kecil mulai menitikkan air mata saat menyadari bahwa di sebuah sudut tanah lapang itu ada tanaman yang layu. Hari demi hari gadis kecil itu termenung, keceriaan di wajahnya berubah jadi mendung. Kesedihan mulai menyelimuti si gadis kecil. Kebiasaannya berkeliling di tanah lapang tak lagi tampak. Ia menghabiskan hari demi hari termenung di sudut tanah lapang. Bait demi bait ratapan ia lantunkan untuk tanamannya yang semakin layu. Keindahan taman bunga tak lagi mampu ia nikmati. Luasnya taman bunga tak lagi mampu ia rasakan. Hidupnya terasa sempit di sudut tanah lapang bersama bunganya yang layu. Sungguh hujan dan mentari selalu menyapa seluruh alam, namun gadis kecil itu tak menyadarinya. Sejuknya pagi, cerahnya mentari, teduhnya senja, serta indahnya taman bunga tak mampu ia pandang. Senyum dan syukur kian meredup dari wajahnya. Tak lagi mampu ia memandang taman bunga yang luas. Dalam pandangannya hanya ada sudut bunga yang layu.
Catatan Nuhid #1
بسم الله الرØÙ…Ù† الرØÙŠÙ…
Karena bismillah adalah awal dari semua kebaikan.
Mari kita awali niat baik kita dengan membacanya.
Saat kita memegang pena, selalu sertakan nama-nama Allah yang agung. Karena atas kehendak-Nya lah kita mampu berpikir dan mentadabburi makhluk ciptaan-Nya.
Saat pena kita menari di atas kertas, selalunya Allah bimbing kita.
Berkat anugerah panca indra dari-Nya kita mampu merasakan nikmat yang tiada tara. Dia amanahkan mata untuk kita, sehingga kita mampu memandang indahnya dunia yang terhampar luas. Dia titipkan telinga yang dengannya kita mampu mendengarkan lantunan Kalam Agung-Nya. Dengan lisan yang dianugerahkan oleh Allah kita mampu berucap syukur dan menggemakan dzikir bersama jutaan makhluk-Nya. Atas izinnya pun kita mampu mencium aroma mawar yang harum, dan semoga dengan izinnya kita mampu mencium wanginya surga. Dan Allah pun berbaik hati meminjami kita tangan yang dengannya kita mampu menuliskan ke-Mahaan-Nya yang tiada tanding.
Jika kita mau mencoba menguraikan setiap dari nama-namaNya yang baik. Maka air di lautan pun tak akan cukup dijadikan tinta, dedaunan di bumi pun tak akan cukup dijadikan kertas.
Semoga dengan semua anugerah yang kita terima menjadikan kita lebih pandai dalam bersyukur. Dan semoga dengan semua amanah yang kita emban, Allah selalu menjadi pembimbing dan penolong bagi kita. Aamiin
Karena bismillah adalah awal dari semua kebaikan.
Mari kita awali niat baik kita dengan membacanya.
Saat kita memegang pena, selalu sertakan nama-nama Allah yang agung. Karena atas kehendak-Nya lah kita mampu berpikir dan mentadabburi makhluk ciptaan-Nya.
Saat pena kita menari di atas kertas, selalunya Allah bimbing kita.
Berkat anugerah panca indra dari-Nya kita mampu merasakan nikmat yang tiada tara. Dia amanahkan mata untuk kita, sehingga kita mampu memandang indahnya dunia yang terhampar luas. Dia titipkan telinga yang dengannya kita mampu mendengarkan lantunan Kalam Agung-Nya. Dengan lisan yang dianugerahkan oleh Allah kita mampu berucap syukur dan menggemakan dzikir bersama jutaan makhluk-Nya. Atas izinnya pun kita mampu mencium aroma mawar yang harum, dan semoga dengan izinnya kita mampu mencium wanginya surga. Dan Allah pun berbaik hati meminjami kita tangan yang dengannya kita mampu menuliskan ke-Mahaan-Nya yang tiada tanding.
Jika kita mau mencoba menguraikan setiap dari nama-namaNya yang baik. Maka air di lautan pun tak akan cukup dijadikan tinta, dedaunan di bumi pun tak akan cukup dijadikan kertas.
Semoga dengan semua anugerah yang kita terima menjadikan kita lebih pandai dalam bersyukur. Dan semoga dengan semua amanah yang kita emban, Allah selalu menjadi pembimbing dan penolong bagi kita. Aamiin
Jumat, 10 Juli 2020
Sepenggal Kisah
TERBANG BERSAMA SAYAP TAKDIR
Malam ini menjadi
malam terakhirku. Setelah seharian kuhabiskan waktuku untuk mengemasi buku-buku
dan pakaian-pakaianku. Satu tas ransel buku, dua kardus pakaian, dan beberapa
makanan ringan dalam plastik telah tertata rapi di sudut kamarku. Aku masih
duduk terdiam di ujung tikar. Di atas tikar inilah aku dan dua adik perempuanku
tidur bersebelahan. Di depan kami juga tergelar tikar untuk Ibuk dan dua adik
perempuanku yang masih balita. Bapak dan dua adik laki-lakiku lebih suka tidur
di ruang depan. Ruang depan ini memang multifungsi, kalau pagi kami jadikan
ruang tamu dan saat malam tiba ruangan ini menjelma menjadi kamar tidur. Sedangkan
nenek yang telah memasuki masa senjanya selalu menghabiskan waktu di kamarnya.
Kamar beliau berhadap-hadapan dengan kamar untuk sholat.
Tak terasa
butir-butir bening mulai berjatuhan dari sudut mataku. Semakin lama alirannya
semakin menderas, hidung pun mulai memerah, dan isak tangis mulai membanjiri
hati.
“Bagaimana aku mampu meninggalkan mereka? Sembilan belas tahun ku
jalani hari-hariku bersama mereka. Suka duka, canda tawa, kebersamaan, saling
berbagi, dan terkadang juga ada bumbu pertengkaran-pertengkara kecil dengan
mereka. Sanggupkah aku jauh dari keluarga?”, jeritku dalam hati.
Aku masih menundukkan kepala sambil menghapus air mataku dengan
ujung jilbab. Aku berusaha bangkit masuk ke kamar nenek, beliau sudah tidur.
Aku duduk di kursi yang berada di samping ranjang beliau. Air mataku tak
henti-hentinya menetes, ku pijat lengan dan kaki beliau meski beliau tak
memintanya. Karena aku anak pertama, nenek menjadi teman setiaku saat aku masih
kecil. Ku habiskan hari-hariku bersama beliau. Kasih sayang beliau begitu besar
kepadaku, begitupun kepada enam orang adikku.
Setelah beberapa saat menemani nenek, aku melangkah ke ruang
tengah. Ruangan ini cukup luas dan kami sekeluarga biasa berkumpul di ruang
ini. Di ruangan ini kami sahur dan berbuka puasa saat bulan Ramadhan. Ruangan
ini sangat nyaman untuk belajar sehingga aku dan adik-adik suka belajar di
sisi. Di ruangan ini pula kami merebahkan badan di kala malam datang. Keempat
orang adikku sudah tertidur pulas. Ibuk masih terjaga sambil meninabobokan anak
bungsunya. Rasanya kuingin menjadi balita lagi, yang tidur dalam dekapan
hangatnya.
Aku masih berada di balik korden yang menjadi sekat antara kamar
nenek dan ruang tengah. Kali ini bukan jilbab yang kualihfungsikan menjadi
tissue, korden pun jadi pelampiasan luapan tangis yang tak mampu lagi
kubendung. Kupandangi wajah Ibukku, guratan halus di bawah kantung matanya
mulai muncul. Kedua tangannya pun sudah mulai memancarkan usia senja. Tapi satu
hal yang tak pernah luput dari pandanganku, senyuman. Beliau selalu tersenyum
di depan kami, beliau selalu terlihat tegar saat membersamai kami. Tapi aku
tahu segalanya, di balik senyum cerahnya ada sedikit luka yang terkadang
membuatnya menangis. Mungkin kami terlalu nakal, mungkin kami selalu merepotkan,
atau bahkan mungkin perkataan dan perbuatan kami lah yang menyayat hati beliau.
Tangisku semakin membanjiri korden saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan
ini. Landas bagaimana aku mampu melangkahkan kaki menjauh dari Ibuk.
Pada sepertiga malam terakhir sering kudengar isak tangis Ibuk.
Dalam sholat malamnya beliau sujud begitu lama, memanfaatkan waktu mustajab
untuk berdo’a. Tak pernah ku dengar beliau menyebutkan daftar keinginan pribadi
dalam do’anya. Dalam setiap pintanya, nama anak-anaknya lah yang menduduki
urutan teratas daftar do’a beliau. Beliau tak pernah meminta kemewahan dunia.
Beliau hanya menginginkan keluarga kami hidup berkecukupan, sederhana, dan
selalu dalam lindungan Sang Pencipta. Semoga anak-anaknya menjadi anak yang
sholeh sholehah dan berbakti kepada orang tua.
Aku segera menghapus tangisku saat Ibuk menoleh ke arahku. Beliau bangun
dan berjalan ke arahku. Mengajakku ke ruang depan untuk menemui Bapak.
“Nak, kamu ngapain berdiri di situ? Ayo kita keluar dan menemui
Bapak!”
“iya Buk, nanti Nurul nyusul. Nurul mau ke kamar mandi sebentar.”
“jangan lama-lama ya! Ibuk sama Bapak menunggumu di teras.”
“baik, Buk.”
Aku pun bergegas ke kamar mandi. Aku basuh mukaku yang sudah
memerah karena lamanya aku menangis. Lalu aku berwudhu dan mencoba menenangkan
diri. Aku tidak mau jika Bapak dan Ibuk melihat bekas-bekas tangis di wajahku.
Tapi mataku tak bisa berbohong, kedua mataku sembab dan kantung mata membesar
seperti bola bekel yang di rendam dalam minyak tanah.
Setelah sampai di teras, aku pun duduk bersebelahan dengan Bapak dan
Ibuk, aku diapit di tengah-tengah mereka. Kami menghabiskan malam perpisahan
ini di teras rumah sambil memandangi langit. Bulan bersinar terang dan
bintang-bintang pun berkelipan seolah mereka menghiburku dari perih dan pedihnya
perpisahan ini.
Kami bertiga tersenyum bersama, memandang langit sambil mengenang
masa kecilku. Bapak dan Ibuk bercerita tentangku, betapa menggemaskannya aku
saat masih bayi. Mereka selalu bersama menyaksikan pertumbuhan dan
perkembanganku hingga sekarang. Senyuman kami semakin lama berubah menjadi
tangis, tangis haru dan tangis bahagia. Kebahagiaan itu karena besok pagi aku
akan melangkahkan kaki ke luar kota untuk kembali menuntut ilmu. Dan kesedihan
yang kami rasakan tak lain karena kami akan terpisah. Terpisah oleh jarak yang
cukup jauh dan terpisah dalam waktu yang cukup lama. Percakapan malam kami pun berakhir
setelah aku tertidur dalam pangkuan Ibuk.
Fajar mulai terlahir, langit masih gelap, cahaya lampu tampak
temaram di sudut-sudut jalan. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan
bekasnya pada dedauanan dan rerumputan, pagi telah tiba. Ibuk sudah menyiapkan
sarapan pagi sejak subuh. Aku pun sudah bersiap-siap sejak subuh, mandi,
sholat, lalu sarapan. Pagi ini kami menikmati sarapan berselimut dingin. Jam
dinding masih menunjukkan pukul 05.00 WIB.
“makan yang banyak, Nak!”, kata Ibuk sambil menuangkan beberapa
centong nasi ke piring kami.
“iya, Buk. Pasti Nurul habiskan lauknya. Karena Nurul bakal rindu
masakan Ibuk dan makan bersama seperti ini.”
“tidak usah disuruh juga dia bakal menghabiskan semua lauknya. Anak
kita yang satu ini dari dulu nggak pernah bisa menolak masakan ibuknya.”, Bapak
ikut meramaikan suasana, beliau berkata demikian dengan senyumannya yang khas.
“Ibuk...”, suara si bungsu disertai tangisan khas balita membuat
Ibuk segera bergegas menggendongnya.
Suasana pun bertambah ramai saat satu persatu penghuni rumah
terbangun dari tidurnya. Kami menikmati sarapan di ruang tengah, sedangkan
nenek masih berada di kamarnya. Selesai makan, aku pun menemui nenek untuk
berpamitan.
“hati-hati ya nduk! Kamu belum pernah pergi sejauh ini.
Biasanya kalau kamu pergi bermain atau pergi sekolah sampai sore hari belum
pulang, mbah selalu menanyakanmu. Jaga diri baik-baik, jaga kesehatan,
dan jangan lupa makan yang teratur.”
Mendengar nenek berkata demikian, aku hanya mampu mengecup tangan
beliau sambil menitikkan air mata. Aku pasti akan merindukan beliau. Merindukan
saat pertama kalinya beliau mengajariku sholat maghrib, merindukan pelukan beliau
saat hujan deras di malam hari, merindukan cerita beliau yang selalu menjadi
tiket penghantar tidur kami. Dan banyak lagi kenangan indah kami bersama
beliau.
Saat jam dinding menunjukkan pukul 06.00 WIB, aku pun berpamitan
dengan Ibuk, nenek, dan adik-adik. Aku dan Bapak bergegas berangkat ke Kota
Atlas. Di kota inilah aku akan menimba ilmu dan belajar bahasa surga, bahasa
Arab. Selama di bus kota, aku menyimak nasihat-nasihat Bapak dengan seksama.
“Nak, kalau kamu sudah sampai di tempat kos dan berpisah dengan
Bapak, kamu harus bisa jaga diri baik-baik, belajarlah prihatin,
manfaatkanlah waktu sebaik mungkin. Belajar yang rajin, kalau capek istirahat,
kalau lapar jangan lupa untuk makan.”
“baik, Pak. Insyaallah Nurul akan mengingat dan menjalankan nasihat
Bapak. Nurul mohon do’a restunya semoga niat baik kita dimudahkan jalannya oleh
Allah.”
“aamiin. Bapak, Ibuk, dan Mbah hanya mampu mendo’akan kamu
dari jauh.”
Tiga jam kemudian kami sudah sampai di Kampus Konservasi. Kampus
ini terlihat asri dan sejuk. Pohon-pohon besar tumbuh tegak dan gagah, berjajar
rapi seperti pasukan tentara yang menyambut para agen perubahan. Di salah satu
gedung yang cukup besar ada ribuan pemuda yang sedang antri dalam barisan panjang.
Bisa dipastikan mereka adalah calon mahasiswa baru sama seperti diriku.
“nak, Bapak mau cari minum dulu ya?”
“iya, Pak. Nurul juga mau ikut berbaris bersama mereka.”, jawabku
sambil menunjuk ke arah barisan yang mulai mengular.
Aku berdiri cukup lama dalam barisan tersebut, yaitu dari jam
delapan sampai jam sebelas siang. Alhamdulillah, namaku dipanggil dan
dipersilahkan memasuki gedung. Sungguh luar biasa, gedung tersebut mirip
gelanggang olahraga yang dipenuhi para penonton. Dan ternyata itu memang gelanggang
olahraga milik Fakultas Ilmu Keolahragaan. Setelah mendapatkan tempat duduk,
aku baru tersadar kalau aku terpisah dengan Bapak selama tiga jam. Di gedung
itu aku hanya mampu duduk terdiam dengan bola mata yang menggelinding kesana
kemari mencari di mana kiranya Bapak berada. Setelah lama mencari, akhirnya
kutemukan beliau di antara kerumunan orang tua mahasiswa yang sedang mengantar
anaknya. Tak ada percakapan di antara kami. Kami hanya saling melambaikan
tangan dan tersenyum.
Setelah prosesi melengkapi berkas-berkas administrasi selesai, aku
dan Bapak berjalan keluar gedung. Kami duduk sebentar di bawah rindangnya
pepohonan. Beberapa orang ramai berjalan di sepanjang jalan yang membentang di
depan gedung tadi. Setelah cukup beristirahat aku dan Bapak melanjutkan
perjalanan menuju tempat kost.
Di tempat kost ini kami disambut dengan baik oleh mbak-mbak yang
ada di kost. Setelah mengantarkanku dan berbincang sebentar Bapak pun
melanjutkan perjalanan pulang ke Kota Ukir. Aku dan mbak Lulu mengantarkan
Bapak sampai jalan raya. Kami menemani Bapak sampai beliau mendapatkan angkot.
“Bapak..”, aku melambaikan tangan sambil menahan air mataku
sekiranya ia tidak keluar. Aku tak mau menjadi anak cengeng. Bapak membalasnya
dengan sebuah senyuman penuh makna.
Hari-hariku selama menjadi mahasiswa baru kujalani dengan bahagia
dan penuh semangat. Di kampus aku menemukan teman baru, suasana baru, dan
kebiasaan-kebiasaan mahasiswa yang masih asing dalam benakku. Kami belajar
bersama, berdiskusi, dan mempresentasikan makalah kelompok. Sungguh hal yang
berbeda jauh dari apa yang kami bayangkan. Kuliah itu tak sekedar
bersantai-santai, akan tetapi kita akan dihadapkan dengan tantangan-tantangan
baru yang belum pernah kita temui di bangku SLTA.
Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa aku sudah semester enam,
genap tiga tahun kulalui hari-hariku di kota ini. Suka dan duka datang silih
berganti. Meski musim mampu menyurutkan sungai, akan tetapi semangat ini tak
pernah surut. Setiap kali memandang foto keluarga yang ku tempel di dinding
kamar kost. Aku selalu membulatkan tekadku bahwa saat wisudaku nanti kami akan
berfoto bersama seperti sebelumnya. Meski anggota keluarga kami tak lengkap
lagi, karena Allah terlalu sayang kepada nenek sehingga beliau terlebih dahulu
memenuhi panggilan-Nya dengan damai di surga.
Jalan kehidupan memang tak ada yang rata, terkadang kita menjumpai
tanjakan, turunan, dan bahkan tikungan serta kerikil-kerikil masalah. Di
semester enam ini Allah berbaik hati mengajakku menyusuri tanjakan yang cukup
terjang. Namun sayang, kaki ini tak mampu melangkah dengan baik sehingga aku harus
merasakan bagaimana sakitnya saat terjatuh.
Masalah datang bertubi-tubi dalam satu waktu. Seperti hujan yang
turun deras, menghanyutkan puing-puing perjuanganku. Hatiku telah dibanjiri
hujan air mata, potongan-potongan mimpiku terbawa arus, hanyut satu persatu.
Aku sering menangis bersama hujan. Kujadikan senja sebagai teman dalam sepiku.
Senja menemaniku menanti mentari di balik awan hitam. Akhirnya mentari
memelukku dan membawakan hadiah terindah di ujung senja ini. Ialah pelangi
senja, yang indah warnanya menghiasai hatiku. Meski hadirnya hanya sesaat dan
gelap malam menyelimutinya. Hadirnya pelangi senja sudah cukup membuatku
tersenyum dan yakin bahwa keajaiban itu nyata adanya.
“Bapak, Ibuk... Nurul sepertinya sudah tidak mampu lagi melanjutkan
langkah ini.”, aku mengadukan seluruh deritaku kepada dua sayap yang telah
membawaku terbang jauh. Do’a-do’a mereka bagaikan sayap yang mengantarku
terbang mengarungi takdirku.
“Nak, tahukah kau bahwa saat padi tumbuh di sawah, maka secara
otomatis akan ada rerumputan yang menyertainya. Seperti itulah perjalanan hidup
kita. Saat ini kau adalah padi yang sedang tumbuh, menyediakan makananmu
sendiri dengan bantuan sinar matahari. Saat ada rumput yang mengusik hidupmu
maka itu adalah salah satu ujian, beberapa kuat dan seberapa besar kesabaranmu
dalam menghadapi cobaan.”
Bapak mencoba mengajakku memahami filosofi kehidupan padi. Aku
menyimaknya dengan baik, ku pasang kedua telingaku agar jangan sampai ada
informasi yang terlewatkan.
“Semakin berumur, padi akan semakin merunduk. Mungkin kamu sebagai
pemuda terkadang lengah dan cenderung mendongakkan kepala. Sehingga angin
mengusikmu, membuat hatimu terombang-ambing. Maka tata kembali niatmu, berbenah
diri dan selalu menggantungkan segala urusan hidup kepada Sang Pencipta.”
Ada benarnya juga kalimat Bapak yang terakhir ini, sepertinya aku
sedikit lengah. Lebih suka menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan hatiku
telah dibutakan oleh gemerlapnya dunia. Tangisku semakin membanjiri relung
hati. Begitulah cara Bapak menasihati kami. Dengan bahasa yang halus, penuh
perumpamaan, namun berhasil mengetuk pintu hati nurani kami.
“contohlah padi, Nak! Untuk menjadi nasi yang bermanfaat untuk
orang lain, dia harus menjalani takdir hidupnya yang cukup panjang. Setelah pari
siap dipanen, para petani akan memotongnya dengan sabit atau alat lain yang
sangat tajam. Lalu pari itu akan dipukul-pukul sehingga keluar
butiran-butiran gabah. Perjalan duka lara padi pun belum selesai sampai
di sini saja. Gabah itu pun dijemur di bawah paparan terik matahari
selama beberapa hari. Coba bayangkan, dia sekalipun tak pernah mengeluh, dia
ridho dengan takdir Tuhannya. Untuk menjelma menjadi beras, dia harus rela
diselep dan dikuliti hingga menghasiltas butir-butir beras yang bersih. Dan untuk
menyulapnya menjadi nasi, beras tadi harus bersabar direndam dalam air mendidih
selama beberapa menit.”
Tangisku semakin menjadi, air mataku mengalir deras. Ku rasai
seluruh tubuhku merinding saat aku membanyangkan diriku menjelma menjadi sosok
padi. Betapa hinanya diri ini, rasa syukur pun masih kurang. Diri ini terlalu
sering mengeluh, dan mengeluh. Menganggap bahwa hidup ini tak adil.
“Bapak, Ibuk, maafkan Nurul. Nurul sudah terlalu jauh dari
Allah...”, kalimatku terpotong, ku tak sanggup berkata. Ku coba sekuat tenaga
untuk menyuarakan isi hatiku.
“Nurul sering sholat, Nurul rajin ngaji, tapi ada sesuatu yang
masih kurang. Ada ruang yang masih kosong dalam hati Nurul.”, berkata demikian
aku langsung teringat nasihat guruku saat aku masih belajar di Madrasah Aliyah.
Ada tiga kalimat sakti yang beliau sampaikan kepada kami.
“maksimalkan ikhtiyar, optimalkan sabar, dan tidak ada alasan untuk
tidak bersyukur.” Pak Shiddiq selalu mengutip kalimat ini sebelum mengakhiri
pelajaran. Kalimat yang indah, singkat, dan sakral, tapi sulit sekali untuk
mengaplikasikannya.
Kita harus belajar qana’ah (rela) dari sebatang padi. Kita juga
bisa belajar syukur, sabar, tangguh, dan bermanfaat untuk sesama makhluk dari
perjalanan hidup padi.
Setelah mendapat nasihat indah dari Bapak aku mulai menata kembali
masa depanku. Kurajut kembali mimpi-mimpiku, ku gantungkan setinggi mungkin.
Aku mulai bangkit dari keterpurukanku. Kurekatkan kembali puing-puing
perjuangan yang sempat terseret ombak. Akupun menata niat dan melangkah dengan
pasti.
“Bapak, terima kasih banyak karenamu kaki ini mampu berpijak meniti
kehidupan yang penuh rintangan. Ibuk, kasihmu yang tak pernah surut selalu
menemani tiap langkahku dan senyuman kalian adalah mentari yang menyinari
hidupku.”
Aku memeluk mereka berdua, kubiarkan air mata ini meleleh mengalir
bersama beban yang mulai ku hanyutkan.
Rasanya tak pantas lagi aku menangis dan mengeluh. Saat ini aku
sudah semester tujuh. Satu setengah tahun lagi aku sudah tidak lagi berada di
kampus ini. Semester sembilan harus menjadi semester terakhirku dan menjadi
tahun kelulusanku.
Dalam kesendirianku, kusenandungkan bait-bait rindu:
Rinduku padamu ya Rabby
Tak mampu terkata-kata
Rinduku padamu ya Rasul
Tiada pernah bertepi
Surgamu dambaan kami
Rahmat-Mu selalu kupinta
Di jalan yang terjal ini
Syafaatmu selalu kunanti
Hidup hanya sekali
Ke tanah kita kembali
Umur kan selalu berkurang
Jangan tambah dosa lagi
Rinduku padamu ya Ummi
Di hati selalu terpatri
Belaian kasihmu itu
Tiada pernah berkurang
Runduku padamu ya Abi
Bak lautan tak pernah kering
Nasihatmu di kala petang
Bagai senjata saat berperang
Rinduku padamu adik
Mengalir sederas hujan
Canda, tawa, tangis, merajuk
Dalam hati selalu terbayang
Rinduku padamu ya Asaatidz
Tak mampu redakan pilu
Ilmu, amal, dan ibrah
Darimu bagiku sebuah anugerah
Rinduku padamu kawan
Selalu membayangi jalan
Bersama kita berjuang
Runtuhkan segala rintangan
Diriku papa, diriku hina
Diriku jahil, diriku fakir
Bersama kita melangkah
Di jalan yang Dia suka
Bergandeng tangan, meniti asa
Bersama kita di surga
Kujalani sisa-sisa
hariku dengan berbenah diri, semakin mendekat kepada-Nya dan selalu berbagi.
Ternyata hidup di tanah rantau yang jauh dari keluarga adalah hal yang sangat
sulit. Jika kita tak tahan dengan segala coba dan terjalnya kehidupan ini. Maka
kita akan tergilas oleh zaman.
Langganan:
Postingan (Atom)
Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya
Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...
-
Suatu hari nanti kita akan menjadi seorang ibu. Di mana ibu adalah madrasah pertama bagi putra putrinya. Tahukah kita? Terlahir sebagai kaum...
-
Lantai 3 menyapa Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa mu...
-
Lantai 3 menyapa Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? Saat masa ...