Rabu, 29 Januari 2025

Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya

 Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya

Oleh Nurul Hidayah

Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh benda dan hanya menyisakan ketiadaan. Di sudut lorong tampak secercah cahaya temaram. Setitik cahaya itu menyingkap berlapis-lapis tabir hakikat dan bersamanya berbagai peristiwa mulai tampak mengemuka. Satu per satu potongan kisah mulai diputar di hadapan kita. Kita adalah penonton yang tenggelam dalam pusaran cerita. Di hadapan kita ditampakkan jalinan kisah yang masih basah oleh tangis penyesalan. Ada luka yang belum sembuh sempurna dan ada retak yang tak mampu utuh seperti sedia kala.

Pada tempat yang sama ada sekumpulan orang yang sedang meneteskan air mata, menangisi tangisan kita. Tak beberapa lama datanglah seorang kakek tua yang membawa sebuah bejana. Kepada sekumpulan orang itu, kakek tua bertanya, “mengapa kalian menangis?” Dijawablah pertanyaan itu dengan tangis yang semakin pilu, tanpa kata yang mampu terucap. Lalu kakek tua itu mengulurkan sebuah bejana. Diletakkannya bejana itu tepat di bawah tangisan yang semakin menderas. Kakek tua segera berlalu sambil berbisik kepada setiap pasang telinga, “menangislah dan teruslah menangis hingga bejana ini tak lagi mampu menampung air mata.”

Sekumpulan orang itu merasa heran dengan titah sang kakek tua. Seketika tangisan mereka mereda sedangkan bejana itu belum terisi barang setengahnya. Langkah kakek tua pun terhenti, berbalik arah menuju bejananya. Kedatangannya disambut dengan sebuah tanya, “mengapa kiranya kakek tua meminta kami untuk terus menangis?” Kakek tua tidak memberikan jawaban apa-apa. Tangannya kembali terulur mengambil sebuah bejana. Sebagian dari air mata yang ada di dalamnya ditumpahkan pada sepetak tanah gersang. Kakek tua melanjutkan langkahnya dan berlalu tanpa pernah kembali.

Dua puluh tujuh hari telah berlalu. Ada sepetak tanah yang memukau mata. Bunga beraneka warna tumbuh indah di atasnya. Benih keindahan ini ditumbuhkan tersebab air mata dalam bejana. Air mata dari sekumpulan orang yang menangisi tangisan kita. Sedangkan keberadaan kita sudah terbang jauh di tempat yang entah. Air mata kita masih terus mengalir sedangkan sekumpulan orang itu tak lagi menangisi tangisan kita. Hidupnya telah berlimpah kesenangan, berlarian mengitari taman bunga yang elok namun melenakan.

Sebuah rekaman kejadian diputar berulang-ulang. Ada sebagian orang yang jenuh menyaksikan peristiwa yang selalu sama. Sedangkan sebagian yang lain tenggelam dalam linangan air mata. Kepada dua kelompok manusia ini dibisikkan sebuah pesan cinta, “dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan.” [1]

Pesan cinta tersebut menyiratkan makna yang penuh hikmah. Terdapat banyak muatan sejarah yang dihadirkan Sang Pencipta dalam kalam agung-Nya. Perjuangan terberat manusia adalah perjuangan melawan lupa. Menilik dari sisi ini, bisikan pesan cinta-Nya menjadi mata air yang menyejukkan, menyirami kembali relung hati yang sempat kering. Senada dengan pernyataan dari Kuntowijoyo dimana beliau telah menelaah Islam lewat kitab suci al-Qur’an menemukan bahwa kisah-kisah sejarah yang terdapat dalam al-Qur’an dimaksudkan untuk mengajak umat manusia melakukan perenungan untuk memperoleh hikmah. Selanjutnya menurut beliau, melalui kontemplasi terhadap kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa historis dan juga melalui metafor-metafor yang berisi hikmah tersembunyi, manusia diajak merenungkan hakikat dan makna kehidupan. [2]

Rekaman peristiwa yang membuat para penontonnya menitikkan air mata telah dikisahkan pada bagian pembuka. Dimana kita adalah pelaku utama dari jalinan kisah tersebut. Tangis yang hadir membasahi mata kita adalah sebuah anugerah luar biasa dari Sang Maha Rahim. Dengannya mata hati kita dimampukan untuk lebih jernih dalam memandang peristiwa. Tangisan dan rintihan penyesalan menjadi bagian dari sebuah langkah dalam menempuh jalan pertaubatan. Disampaikan pula bahwa di dalam taubat cukup menghadirkan rasa penyesalan; karena dengannya bisa mencabut diri dari dosa dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi, keduanya tumbuh dari penyesalan tidak ada hal yang pokok lainnya bersamanya. [3]

Bisikan cinta-Nya selalu hadir dalam setiap kesempatan, namun tidak semua telinga dengan jeli mendengarkan. Bagi mereka yang dianugerahi kemampuan dan kemauan untuk mendengarkan kisah secara berulang, sudah selayaknya mengambil hikmah dari setiap kisah. Al-Qur’an sebagai bisikan cinta-Nya menghadirkan kisah para tokoh yang penuh keteladanan. Pada setiap masa selalu ada reka kejadian yang penuh makna. Ada potongan-potongan kisah baik yang layak kita teladani. Ada pula serpihan-serpihan cerita pilu yang perlu dijadikan pembelajaran agar tidak terulang kembali.

Catatan Kaki:

  1. Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 45

  2. Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi (Bandung : Mizan, 1991), h. 328

  3. Fathul Baari: 13/471


Selasa, 06 Agustus 2024

Bapak dan Sepeda Kayuhnya

 Pagi itu Ida bersama bapak, ibuk, dan adik laki-lakinya sedang dalam perjalanan menuju rumah nenek di kecamatan sebelah. Di sepanjang jalan, Ida tak henti-hentinya berceloteh dan menanyakan setiap hal yang dilihatnya. Ida adalah gadis kecil usia tiga tahun yang cerewet sekali, meskipun sepanjang jalan dia terus berceloteh, rasa lelah tak dirasakan olehnya. Dia berbicara sambil melonjak-lonjak di kursi boncengan sepeda, sedangkan bapak terlihat berusaha menjaga keseimbangan laju sepeda onthelnya. Ibuk duduk di boncengan belakang sambing menggendong bayi laki-lakinya.

Nduk, anak cantik ibuk bisa duduk dengan tenang ya!” kata ibuk dengan lembut.

“Baik ibuk, Ida akan duduk dengan tenang.” 

“Bapak, itu yang di sawah hewan sapi ya? wow, besar sekali. Kalau yang di lapangan tadi namanya kambing ya pak?”

“Iya.” jawab bapak dengan singkat. Sesekali ia menyeka keringat di pelipisnya.

“Oekk, oekk.” bayi laki-laki dalam gendongan ibu menangis dengan suara yang cukup keras.

“Adek kenapa menangis buk?” tanya Ida, sambil sesekali ia menoleh ke belakang.

“Sepertinya adek lapar.” jawab ibuk.

“Baiklah, nanti kita istirahat sejenak di gubuk pinggir sawah. Perjalanan kita masih panjang dan di sepanjang jalan ini hanya ada sawah yang membentang.” kata bapak memberi saran.

“Boleh pak, di depan sana ada gubuk di bawah pohon waru. Kita bisa istirahat dan berteduh sejenak di sana.”

Bapak segera menepi dan memarkirkan sepeda onthelnya di bawah pohon waru. Ibuk segera menuju ke gubuk. Sedangkan Ida langsung menarik tangan bapak dan mengajaknya menuju ke sawah.

“Bapak, Ida mau lihat tanaman padi, yuk kita ke sana.” kata Ida sambil menunjuk ke arah bentangan sawah yang sangat luas.

“Boleh, kita lihat padinya di pinggir sawah saja ya.”

“Oke.” sahut Ida sambil berlari kecil.

Bapak mengikuti Ida dari belakang. Tak henti-hentinya Ida bertanya tentang banyak hal yang ia lihat di sekitar sawah.

Sekian tahun telah berlalu, kini Ida tumbuh menjadi gadis yang cantik dan santun. Ida menempuh pendidikan tingginya di kota besar. Dibutuhkan waktu sekitar tiga jam naik bus dari desanya untuk sampai di universitas negeri tempat Ida berjuang meraih cita-citanya menjadi seorang guru. Setiap liburan semester dia selalu menyempatkan untuk pulang kampung. Dan seperti biasa, bapak akan menjemputnya di perempatan lampu merah dekat rumah. Bapak dan anak ini akan menghabiskan waktu selama perjalanan ke rumah dengan berbincang hangat di atas sepeda onthel. Ida sangat bangga kepada bapaknya, beliau adalah lelaki tangguh yang tak kenal lelah berjuang untuk masa depan keluarga.

Sepeda onthel tua berdiri kokoh di samping rumah. Sepeda ini setia menemani bapak dalam segala aktivitasnya. Lama sekali Ida memandangi sepeda yang menjadi saksi sejarah perjalanan hidupnya sejak buaian hingga menginjak dewasa. Tanpa Ida sadari, ibuk juga sedang mengenang masa-masa di mana bapak masih mampu beraktivitas dengan baik.

Nduk, kamu sedang apa?” tanya ibuk sambil menepuk pundak anak sulungnya.

“Ida sedang mengingat masa kecil, dulu bapak sering mengajak Ida bersepeda dengan sepeda onthel ini.” tak terasa kedua mata Ida telah berembun, butiran-butiran bening mulai menetes di sudut matanya.

“Sepeda onthel ini memang saksi sejarah.” kata ibuk sambil memeluk Ida dengan erat.

“Dulu saat wisuda sekolah dasar Ida dan bapak pulang dengan membawa empat piala menaiki sepeda onthel ini. Setiap kali Ida mau berangkat ke kota untuk kuliah, bapak selalu mengantarkan Ida ke halte bus mengendarai sepeda ini. Saat pulang kampung pun sama, sepeda ini selalu setia menemani. Saat laptop Ida rusak, bapak menempuh jarak yang cukup jauh ke tempat reparasi dengan mengayuh sepeda ini.”

“Ibuk juga merindukan masa-masa itu. Semoga kondisi bapak lekas membaik dan bisa beraktivitas seperti semula.”

Usia bapak kini tak lagi muda , namun semangat yang terpancar dari matanya selalu menyala. Di usia yang sudah lebih dari enam puluh tahun ini, kondisi fisik bapak tak sekuat dulu. Beliau lebih banyak diam dan menyendiri. Sesekali beliau masih terlihat membersihkan rumput di halaman rumah, dan kadangkala juga masih sempat menanam singkong di kebun samping rumah.

Pernah suatu ketika bapak sedang mengelap sepeda onthel tua miliknya. Tak ada yang tahu isi kepala bapak. Beliau adalah sosok yang pendiam dan tak banyak bertanya. Beliau sering menggelar tikar di samping rumah. Dalam kesendiriannya mungkin tak hanya sekali dua kali air matanya terjatuh namun jarang seisi rumah mengetahuinya. Kali ini matanya memandang lekat sepeda itu. Mengenang masa-masa indah berkeliling sawah bersama buah hatinya.

Bapak dan sepeda onthelnya. Tak ada yang tahu jika di sepanjang jalan saat berangkat dan pulang kerja air mata bapak pernah terjatuh. Bukan karena lemah dan tak berdaya menjalani kerasnya hidup. Beliau hanya khawatir merasa gagal menjaga dan memberikan kebahagiaan untuk anak istrinya.

Wahai diri, jika bapak masih menemani hari-hari lukislah selalu senyum di wajahnya. Katakan pada pahlawan keluargamu ini bahwa, “Bapak engkau adalah sosok yang luar biasa, engkau tidak pernah gagal, engkau sudah berhasil. Memang bahasamu bukan bahasa kata, melainkan bahasa nyata.”


Minggu, 07 Januari 2024

Jembatan Berbaik Sangka, Antara Impian dan Realita

 Ketika berbicara tentang impian dan realita, tentunya kedua hal ini tidak terlepas dari kehendak manusia dan takdir atau ketetapan Allah Swt. Dalam buku Qadar karangan Hocaefendi dijelaskan bahwa makna kata takdir adalah ketetapan yang telah dibuat oleh Allah Swt. menurut ilmu dan sesuai kehendak-Nya. Dengan kata lain, segala sesuatu yang telah terwujud di masa lalu, di masa kini, maupun di masa yang akan datang, semuanya telah ditetapkan kewujudannya oleh Allah Swt. berdasarkan pada ilmu dan kehendak-Nya. Atau, dengan bahasa yang lebih urai dapat dikatakan, bahwa segala sesuatu yang pernah ada atau akan ada di masa mendatang telah ditetapkan oleh Allah Swt. berdasarkan ilmu dan kehendak-Nya.

Kemudian muncul pertanyaan yang selalu bergejolak dalam benak kita, bagaimana keterkaitan antara takdir Allah Swt. dan kehendak manusia? Apakah semua kehendak dan perbuatan manusia berasal dari kehendak sendiri ataukah justru berasal dari kehendak Allah Swt. semata? Dalam tulisan ini kita akan mencoba menguraikan bagaimana cara manusia membentuk dan mengatur impiannya. Kita juga akan mencoba menjabarkan tentang realita yang terjadi dalam kehidupan. Apakah impian kita berjalan beriringan dengan realita ataukah realita yang terjadi bertolak belakang dengan apa yang kita impikan? Lantas bagaimana cara kita memanajemen hati untuk dapat menerima segala realita yang ada? Disini akan disuguhkan sebuah jembatan penghubung antara impian dan realita, yaitu berupa berbaik sangka.

Ada beberapa hadits yang membahas tentang keterkaitan antara takdir Allah Swt. dan amalan manusia. Di sini kami paparkan dua dari sekian banyak hadits yang ada. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, mengapa seseorang harus beramal? Padahal semua telah ditetapkan oleh Allah Swt. menurut takdir masing-masing?” Beliau Saw. menjawab, “Setiap orang telah ditetapkan amalannya masing-masing oleh Allah. Seorang calon penghuni surga akan memperbanyak amalan ahli surga. Demikian pula seorang calon penghuni neraka akan memperbanyak amalan ahli neraka.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ‘Umar Ibnul Khaththab ra. pernah mengajukan pertanyaan, “Ya Rasulullah, menurut pendapatmu apakah amal-amal kita ini termasuk usaha kita, ataukah termasuk sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah? Beliau menjawab, ‘Semua amal kalian telah ditetapkan oleh Allah.’ Lanjut ‘Umar, ‘Kalau begitu, kami akan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya.”

Sebagaimana amalan yang kita lakukan berjalan beriringan dengan takdir-Nya, begitu juga dengan impian dan harapan kita akan berjalan beriringan dengan takdir-Nya. Ada kalanya realita yang terjadi lebih indah dari impian kita dan terkadang ia tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, perlu kita pahami bersama bahwa keduanya adalah takdir Allah Swt. yang telah didesain dengan sebaik mungkin untuk hamba-Nya.

Setiap manusia pasti memiliki impian dan harapan dalam hidupnya. Bagaimana cara yang tepat untuk menentukan impian dan harapan itu? Mari kita mengenal SMART Goals, yaitu cara yang tepat untuk menentukan target yang ingin kita capai. Metode ini dikembangkan oleh seorang praktisi bernama Petter Ducker dalam bukunya yang berjudul The Practice of Management. SMART merupakan sebuah akronim dari: 1) Specific, yaitu mendefinisikan dengan tepat apa yang dituju?; 2) Measurable, terukur atau ada angka yang bisa diukur; 3) Attainable or Achievable, sesuatu hal yang dapat dicapai; 4) Realistic; dan 5) Timely, tepat waktu dan dapat diselesaikan dalam waktu yang wajar (Williams dalam Lawlor, 2012).

Teori buatan manusia dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita. Namun, hasil dari setiap usaha manusia terkadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh karena itu, berbaik sangka kepada Allah Swt. adalah keharusan bagi kita. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah Swt. tidak terlepas dari adanya hikmah di balik takdir-Nya itu. Sebab, ilmu Allah Swt. dapat meliputi segala sesuatu, demikian pula dengan kebijaksanaan-Nya yang juga dapat meliputi segala sesuatu. Sehingga tidak sesuatu apa pun yang mampu terlepas dari pengawasan ilmu dan kebijaksanaan Allah Swt.

Berbaik sangka adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara impian dan realita. Dengan berbaik sangka pada setiap ketetapan-Nya, hati kita akan diliputi ketenangan dan kedamaian. Ada sebuah hadits qudsi yang menyebut, “Aku bergantung bagaimana sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” Dengan berbaik sangka, kita akan senantiasa berpandangan positif terhadap segala hal yang kita dihadapi karena percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik, kendati mungkin tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Berikut ini beberapa contoh berprasangka baik kepada Allah Swt. dalam kehidupan sehari-hari:

  • Tidak berputus asa dalam memperjuangkan sesuatu yang baik untuk dirinya karena Allah Swt.

  • Menjaga hati dari prasangka buruk dengan selalu meyakini keputusan Allah.

  • Menyikapi segala pemberian dengan sikap syukur dan sabar.

  • Berikhtiar dengan beribadah dan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Salah satu hikmah berprasangka baik kepada Allah Swt. adalah bisa mengubah takdir Allah Swt, sebab takdir turut bergantung pada prasangka kita. Selain itu, dengan memahami makna berprasangka baik kepada Allah Swt, maka kita akan semakin membangun keyakinan bahwa Allah akan selalu memberikan rahmat dan ampunan bagi hamba-Nya untuk menjadi lebih baik.


Minggu, 31 Desember 2023

UJUNG JALAN YANG DINANTI

Pernahkah sahabat menjumpai kerikil di sepanjang tapak perjalanan? Ataukah ada tapak jalan yang selamanya mulus tanpa rintangan? Tentunya jalan hidup yang kita tempuh tak selamanya mulus, terkadang ada jalan yang terjal mendaki, atau jalan licin bekas hujan yang menyinggahi. Sejauh apapun jalan yang kita lalui, sebanyak apapun rintangan yang kita jumpai, yakinlah kita akan sampai pada ujung yang dinanti. Seperti apa kiranya ujung jalan yang kita nanti dan kita harapkan? Mari kita bersama-sama mengeja jejak dan memaknai langkah agar ia berujung indah.

Setiap dari kita akan memasuki masa quarter life crisis, yaitu masa dimana seseorang akan merasa khawatir terhadap masa depannya, keraguan terhadap kemampuan diri, serta kebingungan menentukan arah hidup. Pada masa seperti ini, sikap yang ditampilkan dan respon yang diberikan tiap individu pastinya berbeda. Sikap dan respon yang kita pilih akan menentukan bagaimana pengaruh quarter life crisis ini terhadap kehidupan kita. Apakah benturan yang hadir akan membuat hidup kita kocar-kacir bak puing-puing, ataukah dengan banyaknya benturan justru kita akan semakin kuat dan akhirnya terbentuk menjadi pribadi yang siap berkembang.

Mengeja jejak adalah sebuah proses refleksi dan merenungi kehidupan yang telah kita jalani. Sepanjang usia kita, sebanyak itu pula jejak yang telah kita ukir di bumi Allah yang sangat luas ini. Setiap sudut yang kita singgahi telah mengajarkan kepada kita bahwa nikmat dan karunia Sang Pencipta terus mengalir tiada henti. Apakah syukur kita sudah sebanding dengan nikmat yang tak terkira? Mari kita sirami lagi hati yang sempat diterpa kemarau ini. Agar nantinya kalimat syukur senantiasa membasahi lisan kita, dan gema takbir mengagungkan nama-Nya senantiasa mengangkasa.

Jejak langkah tak selamanya tegap tanpa goyah. Terkadang di persimpangan jalan kita disuguhi rintangan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 155, yang artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” Di sini Rabb semesta alam menyampaikan bahwa ujian adalah suatu keniscayaan karena dunia memang tempatnya ujian dan cobaan. Namun, mari kita telisik lagi dengan cermat bahwa ujian ini porsinya tidaklah banyak, melainkan hanya sedikit. Dan bagi orang-orang yang sabar akan disuguhi kabar gembira yang tak dapat ditakar.

Setelah kita mengeja jejak dan membaca segala yang disuguhkan di alam semesta, kini saatnya kita memaknai langkah dan mengarahkannya pada ujung yang indah. Dua paragraf sebelumnya telah mengajari kita untuk mengeja syukur dan sabar. Keduanya bagaikan langkah yang selalu beriringan dalam kehidupan. Jika hanya menapaki jejak syukur saja tanpa mengiringinya dengan tapak langkah sabar, maka rasanya ada yang kurang dan timpang. Memaknai langkah bisa kita artikan sebagai sebuah proses ikhtiar dalam menjalani kehidupan yang bermakna. Tidak cukup kalau hanya bermakna untuk diri sendiri saja, tetapi kita pun harus mengusahakan agar menjadi insan yang bermakna untuk banyak orang serta mampu hidup untuk menghidupkan orang lain.

Semoga dengan mengeja jejak dan memaknai langkah ini bisa menjadi bekal bagi kita dalam mengarungi samudera kehidupan yang ombaknya tak selalu tenang. Hingga nantinya kita akan diperjalankan oleh-Nya menuju ujung yang indah, yaitu ketika Dia memanggil kita dengan mesra: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30). Sungguh inilah sebuah ujung perjalanan yang indah dan senantiasa dinantikan oleh setiap dari kita.


Sabtu, 28 Januari 2023

BEBEK DAN MASKER

BEBEK DAN MASKER


Kecamatan Gambut yang terletak di kabupaten Banjar provinsi Kalimantan Selatan menyimpan pesona yang indah. Di sini masih banyak satwa liar yang hidup berdampingan dengan para warga. Banyak burung yang berkicau merdu di dahan-dahan pohon. Suasana menjadi sunyi karena para siswa tak lagi di asrama. Kami tinggal di lingkungan sekolah berasrama, jadi sangat wajar jika kesunyian ini terasa begitu asing. Sebelum pandemi melanda negeri ini lingkungan sekolah kami selalu ramai. Para siswa hilir mudik dengan berbagai aktivitasnya. Kini hanya ada suara desir angin dan dedaunan yang luruh ke bumi.

Pembatasan aktivitas dan pemberlakuan jaga jarak memaksa kami terus berdiam diri dalam sunyi. Salah satu hiburan kami adalah bermain bersama anak-anak kecil di dekat lingkungan kami. Hampir setiap hari anak-anak ini datang ke rumah sambil berteriak menyuarakan kalimat pamungkas.

“kakak, kami datang! Boleh main di luar?”, kata Sami

“kita main di dalam rumah saja ya, kakak mau memasak dulu”, kataku

Akhirnya Sami dan adiknya mau masuk ke dalam rumah dan bermain bersama. Setelah beberapa menit berlalu mereka mulai bosan. Aku pun berinisiatif untuk mengambil laptop dan menyalakannya. Perlahan aku mulai mencari video dongeng yang pernah aku buat. 

“oke deh, sekarang kakak putarkan video dongeng ya. Sini duduk yang rapi!” Mereka pun mulai menikmati dongeng tersebut, sesekali mereka tertawa, berteriak, dan saling memperdebatkan para tokoh yang dikisahkan dalam dongeng.

Dongeng tersebut menceritakan tentang bebek, ayam, dan burung. Ketiga hewan ini sama-sama memiliki sayap. Tapi tidak semua dari mereka mampu terbang. Hanya sang burung yang mampu terbang dengan sayapnya. Hal itu menjadikan bebek dan ayam bersikeras ingin bisa terbang. Sekali, dua kali, tiga kali hingga berkali-kali berlatih keduanya masih saja tak bisa terbang.

“wek wek wek, wek wek wek” suara bebek mengeluh karena telah lelah berlatih terbang.

Tiba-tiba dongengnya diberhentikan oleh Sami. Dia protes tentang suara bebek.

“kakak, kenapa suara bebek seperti itu” kata Sami

“suara bebek kan memang seperti itu”, kataku menimpali

“suara bebek tidak seperti itu kak!” Sami ngotot tak mau kalah

“kalau begitu menurut Sami suara bebek itu bagaimana?”

“kakak dengarkan Sami baik-baik ya”

Aku pun hanya bisa diam dan menganggukkan kepala memperhatikan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Nah sudah mirip baris-baris teks proklamasi. Aku kembali fokus memperhatikan Sami yang mulai mempresentasikan temuannya.

“sini kak, dengarkan Sami! Suara bebek itu seperti ini…”

Ada-ada saja anak ini membuat kakaknya penasaran. Bukankah suara bebek memang wek wek wek seperti stiker whatsapp yang digunakan orang-orang untuk mengekspresikan tawa. Oke, kita dengarkan lagi kira-kira Sami mau bilang apa.

“suara bebek itu oek, oek, oek”

Sontak aku langsung tertawa mendengarkan suara bebek Sami. Hahaha

“kakak nggak boleh tertawa, kalau Sami bicara nggak boleh diketawain”

Hampir saja Sami ngambek dan marah. Perlahan tawaku mulai mereda saat aku mengingat kembali bahwa ‘bebek’ dalam bahasa Turki itu memiliki makna ‘bayi’. Akhirnya aku paham kenapa Sami mengoreksi suara bebek yang aku buat dalam dongeng.

Sami adalah tetangga kami yang berkebangsaan Turki. Saat ini dia duduk di kelas 1 sekolah dasar di daerah Kalimantan Selatan. Perbedaan bahasa sering kali memunculkan kisah lucu yang mengundang gelak tawa. Kisah tentang bebek ini pun sudah sering aku dengar dari teman-teman semasa kuliah di Semarang dulu. Temanku ini adalah mahasiswa asing dari Turki. Dia pernah bercerita tentang pengalamannya berkunjung ke sebuah warung makan. Saat membaca menu yang disediakan dia merasa takut dan tak habis pikir. Kenapa orang Indonesia suka makan bebek goreng. Begitulah makna yang mereka tangkap adalah bebek itu bayi. Lama kelamaan mereka mulai memahami bahwa bebek adalah nama sejenis unggas yang biasa disantap bersama nasi, bisa berupa bebek goreng, bebek bakar, dan lain sebagainya.

Saat mengingat kisah semasa kuliah dulu aku pun iseng bertanya kepada Sami. Apakah dia pernah makan bebek goreng? Ternyata responnya sangat lucu, raut mukanya perpaduan antara takut dan marah. Hal ini membuatku tertawa lagi dan lagi.

Dari kisah bebek ini kita bisa memetik hikmah. Jadi hikmah adalah sejenis buah yang bisa dipetik. Dia bisa tumbuh di mana saja tapi hanya orang-orang spesial yang mampu meraih dan memetiknya. Hikmahnya adalah kita harus lebih teliti dan hati-hati dalam berkomunikasi. Baik terhadap lawan bicara dari mancanegara maupun teman satu negara. Ketika kesalahan persepsi kita mengundang kelucuan akan sangat menghibur dan kita menjadi awet muda karena tertawa. 

Namun bagaimana jika kesalahan persepsi kita justru mendatangkan bencana? Karena sesungguhnya komunikasi itu hal yang sering kita lakukan namun terkadang ilmu kita masih sangat kurang. Kesalahan pelafalan dalam bahasa asing bisa mencipta makna baru, kesamaan pelafalan pun bisa menghadirkan makna baru jika konteksnya berbeda. Kita semua tahu bahwa negara kita tercinta Indonesia memiliki beragam bahasa dan budaya. Sudah sepatutnya kita terus belajar mengenal negeri ini dan menjadikan beragam perbedaan sebagai kekayaan yang harus dijaga. Sehingga nantinya benih-benih keragaman ini menumbuhkan jiwa-jiwa toleransi, saling memahami, dan saling menghargai untuk menghasilkan buah keragaman yang indah dan mempesona.

Selain kisah tentang bebek, aku juga ingin berbagi tawa dan menebar kisah lucu lainnya. Semoga hari-hari kita dipenuhi dengan kebahagiaan dan gelak tawa.

Apakah kalian mengenal masker? Nah betul sekali masker yang biasa kita pakai di wajah pada malam hari agar kulit wajah kita lebih sehat dan cerah memancarkan keindahan. Tapi bukan masker yang itu, di masa pandemi ini tentunya kita lebih akrab dengan masker kesehatan. Terkadang masker menjelma topeng yang menyamarkan wajah pemakainya hingga sulit dikenali. Segala ekspresi wajah pun sulit ditebak, apakah ia sedang tersenyum, manyun, atau memiringkan mulutnya. Oke, tidak perlu dipraktikkan dengan menggerak-gerakkan mulut seperti ini. Aku tahu ekspresi itu sulit untuk ditangkap indera penglihatan karena masker telah melekat rapat.

Industri kreatif rumahan mulai menjamur. Meski jarak mulai dibatasi dengan ketat, inovasi dan kreativitas tetap bisa berlarian tanpa batas. Hadirlah masker dengan berbagai motif, mulai motif beraneka warna, bunga-bunga, hingga motif wajah. Sekali lagi masker berhasil menyamarkan ekspresi wajah penggunanya. Beraneka motif wajah mulai membanjiri pasar, motif tersenyum, wajah tokoh, dan lain sebagainya menjadikan penggunanya bak manusia bertopeng yang sedang menyamar. Di sepanjang jalan banyak wajah-wajah bertopeng yang bersembunyi dari musuh terbesar abad ini, virus korona.

Sampai di sini ada yang sudah bisa menemukan kelucuan dari kisah masker ini? Mari kita renungkan betapa lucunya kisah lucu yang tak menyimpan kelucuan. Dan izinkan aku tertawa atas ketidak lucuan ini. Baiklah, kalian masih mau lanjut menyimak kisah ini atau tidak? Meski sebenarnya tanpa persetujuan kalian, kisah ini akan tetap aku tuntaskan.

Ada beberapa cara memakai masker yang cukup menggelitik. Di sebuah postingan temanku sedang menikmati makan siang di sebuah tempat makan. Pandangan mataku tertuju pada bando yang bersarang di atas kepalanya. Setelah lama mengamati dan memperbesar gambar, akhirnya tampak jelas bahwa benda yang tak asing itu bukanlah bando melainkan masker yang dipasang di atas dahi. Mungkin niatnya agar masker tidak kotor dan tidak tergeletak sembarangan. Lambat laun masker bando ini mulai merebak ke mana-mana. Entah siapa yang mengawalinya kini beberapa orang tak lagi canggung mengalihfungsikan masker menjadi bando. 

Gaya terbaru yang mulai digandrungi kawula muda, bahkan emak-emak adalah kalung masker. Jika sebelumnya dunia permaskeran diramaikan dengan pengait masker, kini kreativitas semakin meningkat dengan hadirnya kalung masker. Mungkin kalung masker ini akan sangat cocok bagi mereka yang sering kali lupa memakai masker ketika bepergian. Namun apa jadinya jika si pemakai masker ini orang yang pelupa? Dia akan kebingungan mencari maskernya yang entah di mana. Sampai akhirnya teman di sebelahnya menepuk bahunya dan berkata:

“kamu lagi nyari apa?”

“tahu nggak di mana maskerku?

“entahlah, yang aku lihat hanya kalung unik nan elegan yang bergelantungan di lehermu, hahaha”

“astaga, dari tadi maskernya aku kalungin ternyata, hahaha”

Begitulah perjalanan masker yang menjelma jadi topeng, bando, dan kalung. Semoga si masker tetap mengingat jati dirinya, yaitu menjadi wasilah penyaring udara yang akan dihirup penggunanya. Jika udara dari luar saja harus disaring agar kita dapat menikmati udara bersih, lantas bagaimana dengan ucapan dan kata-kata yang keluar dari mulut kita? Sudahkah ia disaring agar angin sejuk yang berupa pendapat dan nasihat dapat menyejukkan hati pendengarnya? Semoga masker yang melekat erat menutup mulut dan hidung kita dapat menjadi wasilah bagi kita untuk menyaring dan menghias tutur kata yang sejuk dan meneduhkan.

Sekian kisah lucu yang menyimpan misteri kelucuan. Mari kita tertawakan diri kita sendiri atas kelucuan yang tidak disadari maupun ketidak lucuan yang ditertawai. Karena sejatinya di setiap detak jantung dan hembus nafas kita selalu dipenuhi kelucuan. Lucunya diri yang tak menyadari kesalahan, lucunya diri yang enggan berbenah, dan lucunya diri yang tak mengakui kefanaan.


Senin, 16 Januari 2023

TERUS MENGAYUH PANTANG MENGELUH

TERUS MENGAYUH PANTANG MENGELUH

Oleh: Nurul Hidayah


Hidup harus terus dijalani dengan syukur tak bertepi dan sabar tanpa tapi. Dua ribu dua puluh dua menjadi tahun yang penuh pelajaran berharga serta kenangan yang tidak mudah dilupa. Bercerita tentang perjuangan hidup seorang insan tak akan pernah sampai pada ujungnya hingga dia kembali pulang menghadap Tuhannya. Syukur dan sabar adalah anak tangga kehidupan yang kita naiki dari hari ke hari. Syukur dan sabar bagaikan dua roda kehidupan yang berputar beriringan meniti jalan panjang perjuangan.

Saat dihadapkan pada gejolak perubahan kita berada di persimpangan jalan. Sebelah kanan adalah masa depan yang menghadirkan perubahan penuh tantangan. Sedangkan sisi kiri menyuguhkan pentas kenangan masa lalu yang tak akan kembali bertemu. Lantas jalan manakah yang akan kita tuju? Sang pejuang tak akan gentar menghadapi tantangan. Namun dia yang kurang persiapan akan gemetar menapaki lika-liku kehidupan.

Enam bulan telah berlalu, satu semester telah ditempuh, sejauh itu jalan yang kita lalui tanpa henti. Ketika bulan Juli hadir menyapa, kita tak ubahnya seekor anak merpati yang baru menetas. Perlahan membuka mata dan menelisik semesta. Dua pekan berlalu, namun tak banyak hal yang ia tahu, langkahnya masih tertatih menapaki jalan baru yang berliku, sayapnya tak cukup kuat untuk mengepak melintasi cakrawala. Namun, langkahnya terus dipacu, sayapnya terus mengepak tanpa jemu. Begitulah kita ketika memasuki episode tahun ajaran baru.

Seiring berjalannya waktu, perlahan langkah kita dikuatkan, detik demi detik hati kita dimantapkan, karena sebuah pilihan harus dijalani tanpa tapi. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah sedang berlangsung. Berbagai macam manusia disatukan di bawah atap yang sama. Mereka memiliki satu cita dan satu asa yang sama berharap dimampukan meniti jalan panjang perjuangan. Meski perbedaan menyelimuti, kebersamaan dan satu asa menyatukan langkah mereka.

Saling memahami dan saling menghargai menjadi sepasang sayap yang mengantarkan kita terbang menuju kesuksesan. Berbagai macam ide dari dua puluh kepala perlahan tumbuh pada tangkai-tangkai harapan. Satu per satu ide diwujudkan dalam aktivitas sosial yang penuh manfaat. Saling bahu membahu mensukseskan terwujudnya gagasan mulia. Kebersamaanlah yang hingga kita senantiasa menguatkan kita. 

Berbagai macam ujian perlahan mampu kita taklukkan. Belajar bersama, merenungi kebesaran-Nya, dan meniti jalan yang diridhoi-Nya.sebuah ujian yang datang adalah sebuah keniscayaan. Selama jantung masih berdetak, selama itu pula ujian hadir tak boleh tidak. Dengan adanya ujian, kita diajari untuk senantiasa mempersiapkan diri mengumpulkan bekal untuk dibawa menuju jalan pulang.

Kini semester baru telah menyapa dan menghadirkan banyak cerita. Sudah selayaknya kita kembali menata hati dan menguatkan langkah ini. Bekal selama enam bulan sudah cukup untuk menopang langkah baru. Kembali berjuang mendidik generasi muda dengan semangat yang menggelora. Kembali meniti jalan pengabdian yang berliku. Kembali pulang mengisi bekal semangat dan menyebarkan semerbak wangi cinta pada ilmu dan amal. Begitulah jalan perjuangan ini harus dilanjutkan. Tentunya dengan bekal dan persiapan yang matang. Kembali menata hati, kembali melangitkan mimpi-mimpi.


Rabu, 21 Desember 2022

MATA AIR YANG TAK PERNAH KERING

 MATA AIR YANG TAK PERNAH KERING

Nurul Hidayah


Ibu adalah malaikat yang Tuhan kirim ke bumi untuk menyirami seluruh makhluk dengan kasih sayang yang tak pernah surut. Ibu adalah pahlawan yang senantiasa maju di depan menghadang segala mara bahaya yang mungkin datang. Meski fisiknya tak sekuat ayah, namun hatinya sangat kokoh sekokoh baja. Jika kamu mencari sosok cinta sejati, maka tataplah wajah ibumu di kedua matanya yang sayu selalu terpancar binar semangat dan kasih sayang yang membara. Hati seorang ibu mungkin seringkali rapuh, tapi dengan segera pulih tersebab rasa cinta yang mengalahkan segalanya.


Kisah kebersamaan seorang anak dan ibunya tak pernah lekang oleh waktu. Ibu adalah aktor yang luar biasa dalam kehidupan kita. Beliau bisa menjadi sosok yang tangguh memikul beban keluarga. Tak jarang kita jumpai sosok ibu tunggal yang mampu melengkapi kekosongan peran sang ayah. Ibu juga bisa menjadi teman bagi anak-anaknya. Beliau dengan mudahnya mampu masuk dalam dunia pertemanan sang anak dan beralih peran menjadi sahabat sejati yang dinanti. Sebanyak apapun peran ibu bagi anaknya, menjadi madrasah pertama adalah peran yang paling mulia. Darinya kita belajar tentang hidup dan kehidupan. Mutiara petuah selalu tersimpan dalam binar matanya. Nasihat semanis madu selalu membasahi bibirnya. Lantas, sudahkah baktimu setara dengan pengorbanannya?


Baginya malam bisa berbalik menjadi siang, dan siangnya menggantikan malam yang panjang. Ada masa dimana sang anak belum tahu bedanya malam dan siang. Di tengah malam bayi masih asyik mengajak ibunya bermain. Hingga dini hari sang ibu tak pernah melepas senyuman. Baginya, letih tak lagi dirasa kala ocehan bayinya menemani malam-malam panjangnya. Tidurnya tak akan nyenyak jika demam mendera buah hatinya. Linang air matanya menjadi penyejuk yang perlahan meredakan demamnya. Mari kita tengok, apakah perjuangan kita untuk membahagiakannya sudah mencapai titik paripurna?


Ketika kaki kita perlahan mampu menapaki bumi, tangan lembut ibunda tak hentinya memapah dan mengiringi langkah. Tak sekalipun dibiarkannya kita terjatuh dan menangis. Kalau pun kemalangan menimpa sang anak, dengan segera ibu akan membasuh lukanya dan perlahan meniupnya. Tiupan lembut dan kata-kata manis sang ibu secara ajaib menjadi obat penyembuh luka. Sudah berapa kali kita mendekap erat ibu kita? Apakah pernah kita usap air matanya? Atau jangan-jangan kita sendiri yang menjadi sebab berlinangnya air mata ibunda? Semoga pertanyaan terakhir ini hanya sebuah prasangka dan tak pernah menjadi nyata.


Pagi itu ibu sudah memandikan kita dan mendandani kita bak putri raja. Diikatnya rambut kita seperti ekor kuda. Disematkannya bedak wangi di wajah manis kita. “Selamat belajar nak penuh semangat, rajinlah selalu tentu kau dapat, hormati gurumu sayangi teman.” Bait-bait lagu ini selalu menjadi bekal kita sebelum melangkah ke sekolah. Mungkin ada di antara kita yang selalu diantar jemput oleh ibunda. Atau bahkan ibu ikut ke kelas dan menemani kita yang masih malu-malu duduk di belakang meja. Dengan sabar dan telaten ibu mendampingi kita hingga bel kepulangan dibunyikan. Sekali lagi aku ingin bertanya padamu. Ketika ibu telah memasuki hari tuanya, sabarkah kita merawatnya? Mampukah kita berganti peran dengannya? Kita bantu ibu kita untuk membersihkan badannya, kita suapi beliau dengan lembut, kita temani beliau kemana pun beliau pergi. Ataukah kesibukan kita dengan urusan kerja atau dengan pasangan kita selalunya jadi alasan untuk menunda?


Kini datang masa di mana omelan bunda yang tak kamu sukai tak terdengar lagi. Senyuman terakhir terpahat manis tanpa berganti ekspresi. Tangannya yang senantiasa menggenggam dan mendekapmu kini telah membiru dan terbujur kaku. Lalu kau hanya mampu berteriak dalam sendu, “Ibu, maafkan aku. Aku ingin kembali menjadi putri kecilmu yang mendapatkan limpahan kasih sayangmu. Ibu, tunggu aku sebentar saja, akan kutinggalkan kesibukanku dan kutemani engkau kemana pun kau mau.” Ya.. begitulah ratapan penyesalan yang tak memiliki arti. Hingga hati mulai pulih kembali dan bertekad menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Ibu, maafkan anakmu ini. Genggam tanganmu tak akan lagi kulepas. Curahan kasih sayangmu akan kubagikan untuk anakku nanti. Kemarilah, mendekatlah, Nak! Ibu sudah lama rindu ingin mendekapmu.

Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya

  Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...