Sabtu, 02 Juni 2018

Uraian Rasa

Hakikat hati adalah milik-Nya 
Kita memang bukan siapa-siapa 
Dan tanpa-Nya kita tak berarti apa-apa 
Pagi pun selalu rindukan hati yang menanti teduh cahaya-Nya 
Mata ini tak pernah mampu memandang apapun 
Dalam setiap pandang hanya ada nama-Mu 
Lukisan pagi dan senja-Mu selalu hadir dalam rintik rindu 
Rintik itu adalah Kau yang selalu sejukkan hati dengan kalam agung-Mu 
Kau selalu bertahta di ketinggian itu 
Ku ingin rasakan ada-Mu dalam ketiadaanku 
Terus memuji-Mu bersama kabut yang hantarkan dingin di tepian rindu 
Kami kerdil di hadapan-Mu 
Di balik awan kami coba singkap tabir itu 
Tabir yang di baliknya Kau simpan hikmah-Mu 
Gerak-gerik tiap makhluk-Mu selalu ungkapkan kuasa-Mu 
Hingga kami tersadar kenihilan itu adalah kami 
 Ketiadaan itu wujud kami 
Di mana kerdil, nihil, tiada, dan rendah adalah rasa kami 
Rasa yang terlukis kala kami berpijak meninggi 
 Mencoba bercengkrama dengan-Mu 
Dan dalam ketinggian itu kami merendah 
Karna kami ada dalam ketiadaan 
Dan kami tiada dalam keberadaan

Di Sudut Senja

Senja selalu memberi keteduhan 
Meski pancaran rona jinggamu hanya sesaat
Rindu dan penantianku selalu untukmu 
Kau pertemukan siang dan malam dalam temaram jinggamu 
Kau satukan terang dan gelap dalam satu waktu 
Kau ada tuk pertemukan mentari dan rembulan dalam diam 
Bergantian menemaniku dalam sunyi 
Hangatnya mentari selalu mendekapku 
Memberi semangat dalam hidupku 
Cahaya rembulan di kala malam 
Memberi ketedulan dan jadi sandaran penatku 
Terima kasih senja 
Karenamu dapat kurasai dekap hangat mentari dan teduhnya temaram rembulan dalam satu waktu 
Ku mampu bertahan karena mentari 
Dekapan hangatnya menguatkan langkahku 
Ku mampu tersenyum karena rembulan 
Teduh sinarnya selau hapus lelah dan tangisku 
Ku kan berusaha tuk jadi bintang untuk kalian 
Kita bersama di langit semesta 
Tuk saling berbagi dan menemani 

Kamis, 9 November 2017 
Dari bintangmu Nurul Hidayah @nuhid95 
Teruntuk pahlawan senja Mentariku, Ayahanda tercinta 
Rembulanku, Ibunda terkasih

Lantai 3 Menyapa

Lantai 3 menyapa 
Sudah berapa anak tangga kehidupan yang telah kita daki? 
Masihkah kita bersemangat dalam mengayunkan langkah? 
Saat masa mulai menua 
Saat kaki tak lagi sekokoh dulu 
Saat pijakan kian tak pasti 
Kita akan mencari sosok tuk menggandeng kita 
Meniti langkah, menaiki anak tangga bersama 
Hingga tak ada lagi sisa-sisa anak tangga yang menanti pijakan kita 
Langkah kita terhenti 
Sejenak kita duduk di anak tangga tertinggi 
Menundukkan kepala, merenung, dan menatap masa lalu 
Masa di mana kita masih sendiri 
Menaiki anak tangga dengan berlari 
Masa setelahnya kita bersama 
Mendaki sisa tangga kehidupan 
Dan saling mengurai rasa, mengurai makna 
Hingga masa menjamah senja 
Saat rasa mulai menyulam asa 
Kita masih tetap duduk termenung 
Seolah menanti sesuatu 
Saat sunyi menghampiri 
Kita putuskan tuk turuni tangga 
Satu per satu anak tangga mewakili masa lalu 
Jalinan cerita berputar dalam memori 
Ada kalanya sedih menghampiri 
Dan ada masanya bahagia menyapa 
Kita berjalan dengan pasti, meski tak lagi mampu tuk berlari
Setiap anak tangga menyuarakan masa 
Setiap anak tangga menampilkan kenangan 
Kita berjalan turun dengan satu rasa yang menyatu 
Bersama mengaca masa lalu 
Hingga kita kembali pada anak tangga terakhir 
Tempat di mana kehidupan itu bermula 
Dan akan menjadi tempat terakhir saat kita telah tiada

Senja yang Indah

Senja yang indah 
Kala jingga terlukis di cakrawala 
Mentari kembali ke peraduannya 
Burung-burung kembali ke sarangnya 
Gelap mulai selimuti bumi 
Mega merah itu menyeru kita tuk kembali 
Merenungi tapak jalan yang kita lalui 
Tentang senja kemarin yang ajari kita tuk berbenah 
Tentang senja kala ini yang ajari kita tuk bersyukur 
Dan senja esok hari yang menanti semangat kita 
Langit jingga temani senja yang tak lama 
Bak tabir yang pisahkan terang dan gelap 
Masa yang bersamanya tergenggam do'a 
Ratap dan harap untuk sebuah akhir yang fana 
Kala yang Baka memanggil kita \
Menyusuri jingga yang tampak semu 
Kembali kita ke peraduan yang kekal selamanya

Rupa dan Makna

Rupa dan Makna yang Tak Sama 
Jika rupa mampu binasa 
Makna hadir dalam segala ada 
Rupa pun mulai menghilang 
Tapi makna selalu hadir dalam bayang 
Biarlah rupa tak lagi dikenang 
Asal makna selalu berkembang 
Yang tiada tercipta menjadi ada
Yang ada kan kembali tiada 
Semarang, 18 Maret 2018 Nurul Hidayah

Sajak Kusam

Sajakmu telah lama berkelana dalam rimbunnya rimba aksara. 
Rasamu tak lagi mengemuka dalam setiap kata. 
Kau biarkan sepi dan sunyi membalut luka. 
Tangisan rindumu bertabirkan senyum ketegaran.
Sejenak menepilah!!! 
Suarakan segala rasa dalam dada. 
Jangan kau timbun sendiri duka lara. 
Ada DIA yang selalu ada. 🌹

Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya

  Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...