Selasa, 14 Juli 2020

Catatan Nuhid #6

Malam ini mereka lah yang menjadi sorotan dalam ceritaku. Mereka adalah si bungsu dan kakaknya. Hidup bersama sembilan orang dalam satu rumah bagaimana rasanya? Tentu rasanya sangat luar biasa dan selalu ada cerita yang bisa dikenang. Baru saja kuabadikan tingkah mereka dalam jepretan kamera dan rekaman video. Begitulah adik kakak, mereka bersaudara, mereka saling mengganggu, itu hal yang lumrah. Namun pancaran kasih sayang antara keduanya tak pernah terkalahkan oleh api cemburu maupun letupan amarah. Dalam hati seorang kakak porsi sayang jauh lebih besar dibandingkan dengan porsi marahnya. Dan tidak jarang marahnya ia karena sayang. Secara naluriah seorang kakak akan menjaga, melindungi, dan mengayomi adiknya. Ibarat kata jika ada semut yang mendekat dan hendak menggigit adiknya, sang kakak cepat tanggap mengusir semut itu. Ia tak ingin siapapun menyakiti adiknya. Sikap saling berbagi, saling memahami dan saling saling yang lainnya tertanam kuat dalam diri kami. Bagaimana tidak, sejak kecil bapak dan ibu tak pernah lelah menanamkan akhlaqul karimah dalam diri anak-anaknya. Sebagai contoh, saat pulang dari hajatan bapak akan membagi makanan sesuai jumlah anaknya. Beliau akan memotong pisang, apel, kue bolu, hingga daging dan telur menjadi tujuh bagian sesuai jumlah anaknya. Dan momen bagi membagi ini akan menjadi momen yang selalu dinanti dan dikenang. Dan sungguh ada kosakata "bagi" yang terselip dalam kata "bahagia".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya

  Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...