Selasa, 14 Juli 2020

Catatan Nuhid #2

Saat kemarau masih enggan menyapa. Saat hujan masih bertahta di singgasana. Seorang gadis kecil yang polos pergi ke tanah lapang. Dengan bersuka ria ia menanam berbagai jenis bunga. Setiap pagi ia mengunjungi tanamannya untuk menyiraminya atau sekedar memastikan bahwa hujan semalam telah singgah di sana. Setiap pagi dan petang gadis kecil itu setia berkunjung ke tanah lapang. Senyumnya semakin merekah hari demi hari bersamaan dengan bunga-bunga yang bersemi indah. Gadis kecil itu termenung, menghayalkan betapa indahnya tanah lapang itu. Kelak tanah lapang itu akan berubah menjadi taman bunga yang indah. Namun, tiba-tiba senyumnya berubah jadi tangis. Gadis kecil mulai menitikkan air mata saat menyadari bahwa di sebuah sudut tanah lapang itu ada tanaman yang layu. Hari demi hari gadis kecil itu termenung, keceriaan di wajahnya berubah jadi mendung. Kesedihan mulai menyelimuti si gadis kecil. Kebiasaannya berkeliling di tanah lapang tak lagi tampak. Ia menghabiskan hari demi hari termenung di sudut tanah lapang. Bait demi bait ratapan ia lantunkan untuk tanamannya yang semakin layu. Keindahan taman bunga tak lagi mampu ia nikmati. Luasnya taman bunga tak lagi mampu ia rasakan. Hidupnya terasa sempit di sudut tanah lapang bersama bunganya yang layu. Sungguh hujan dan mentari selalu menyapa seluruh alam, namun gadis kecil itu tak menyadarinya. Sejuknya pagi, cerahnya mentari, teduhnya senja, serta indahnya taman bunga tak mampu ia pandang. Senyum dan syukur kian meredup dari wajahnya. Tak lagi mampu ia memandang taman bunga yang luas. Dalam pandangannya hanya ada sudut bunga yang layu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya

  Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...