Selasa, 14 Juli 2020

Catatan Nuhid #14

"yuk kita bukber"
"besok mau bukber di mana?"
"pemburu takjil mana suaranya?"
Pertanyaan itu perlahan hilang di telan sunyi. Saat kita sibuk memperdebatkan tempat untuk buka bersama, kita lupa masih banyak sahabat muslim kita yang masih bingung buka puasa nanti mau makan apa. Bukan sedang memikirkan pilihan menu yang akan di masak, melainkan masih memikirkan bahan makanan yang belum dalam genggaman.
Jika Ramadhan tahun-tahun sebelumnya kabar kekurangan bahan pangan terdengar dari belahan bumi Afrika, Suriah, Yaman, Palestina. Kini kekurangan bahan pangan mulai melanda hampir seluruh negeri di dunia. Lalu siapa yang bisa menyelamatkan manusia dari kondisi yang menyedihkan ini? Kini "Saatnya Umat Selamatkan Umat" dan kepedulian adalah kekuatan. Barangsiapa mengasihi yang di bumi, maka yang di langit pun akan mengasihinya. Ya, dari kepedulian inilah kita bisa saling berbagi kebahagiaan sehingga saudara-saudara seiman kita bisa tetap merasakan manisnya berbuka puasa.
Jika dulu banyak digelar acara buka puasa bersama di masjid, musholla, hingga gedung mewah. Kini kita bisa menikmati sajian buka puasa bersama keluarga di rumah. Satu keluarga duduk melingkar menanti adzan Maghrib dan berdo'a bersama di senja hari menjelang berbuka. Lingkaran yang perlahan menciptakan kehangatan dan kebahagiaan. Bagi kita anak perantauan, momen ini adalah momen yang dinantikan. Biasanya kita mulai menikmati kebersamaan dalam berbuka puasa di minggu terakhir bulan Ramadhan. Alhamdulillah tahun ini Allah mengizinkan kita menikmati sebulan penuh Ramadhan bersama keluarga di rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya

  Penyesalan dan Bisikan Cinta-Nya Oleh Nurul Hidayah Sebuah lorong sunyi terbentang di kedalaman malam. Gulita perlahan menelan seluruh ben...